PM Inggris Boris Johnson Nyatakan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Terbesar Bagi Perdamaian dan Keamanan Dunia

PM Inggris Boris Johnson Nyatakan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Terbesar Bagi Perdamaian dan Keamanan Dunia

- in DAERAH, DUNIA, EKBIS, NASIONAL, POLITIK
26
0
Pertama Kali Memimpin Rapat di Dewan Keamanan PBB, PM Inggris Boris Johnson Nyatakan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Terbesar Bagi Perdamaian dan Keamanan Dunia. - Foto: Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris (PM Inggris).(Net)Pertama Kali Memimpin Rapat di Dewan Keamanan PBB, PM Inggris Boris Johnson Nyatakan Perubahan Iklim Jadi Ancaman Terbesar Bagi Perdamaian dan Keamanan Dunia. - Foto: Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris (PM Inggris).(Net)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memimpin sesi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tentang iklim dan keamanan. Ini adalah pertama kalinya seorang PM Inggris memimpin DK PBB sejak 1992.

Sementara, Pakar Sejarah Inggris, Sir David Attenborough berbicara di Dewan Keamanan PBB memperingatkan risiko dari perubahan iklim dan menyerukan tindakan.

Presiden Prancis Macron dan Utusan Khusus AS John Kerry termasuk di antara 5 Presiden, 6 Perdana Menteri dan 3 Menteri Luar Negeri yang hadir dalam acara ini.

Kehadiran para pejabat senior tersebut menunjukkan dukungan yang sangat besar untuk acara penting ini.

Inggris menjadi Presiden DK PBB bulan ini, dan akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Iklim COP26 (KTT Iklim COP26), pada bulan November 2021.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyerukan peringatannya lewat sidang virtual Dewan Keamanan PBB minggu ini.

“Jika kita tidak segera mengambil tindakan untuk mengatasi perubahan iklim, dunia akan beresiko mengalami konflik yang  semakin parahisu pengungsian dan keamanan akan semakin meningkat,” jelas Boris Johnson, dalam siaran pers yang dikeluarkan Tim Media dan Komunikasi Kedutaan Inggris di Jakarta, John Nickell dan Faye Belnis, pada Kamis (25/02/2021).

PM Johnson memimpin sesi rapat virtual, juga meminta para anggota DK PBB membantu negara-negara yang paling rentan. Untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim dan mengambil langkah-langkah mengurangi emisi global menuju nol bersih pada tahun 2050.

Ini adalah pertama kalinya Perdana Menteri Inggris memimpin DK PBB selama hampir 30 tahun. Dan juga melakukan diskusi tingkat pemimpin pertama tentang iklim di Dewan Keamanan. Kedua fakta tersebut menunjukkan betapa pentingnya isu perubahan iklim.

Sejarawan Inggris, Sir David Attenborough juga berbicara dengan 15 anggota DK PBB melalui video. Kemudian, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan aktivis iklim Sudan Nisreen Elsaim memberi pengarahan langsung kepada Dewan Keamanan.

Dampak perubahan iklim sudah dirasakan di seluruh dunia, dengan pengaruh kenaikan suhu dan cuaca ekstrim yang memaksa perpindahan penduduk, serta menciptakan persaingan memperebutkan sumber daya alam yang semakin langka.

Dari 20 negara yang peringkatnya paling rentan terhadap kenaikan suhu global, 12 negara sudah berada dalam konflik.

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan, DK PBB bertugas menghadapi ancaman paling buruk terhadap perdamaian dan keamanan global, dan itu adalah krisis perubahan iklim.

Boris Johnson menyebutkan, dari komunitas yang paling terdampak oleh cuaca ekstrim dan kelaparan, hingga memicu perang yang memanfaatkan perebutan sumber daya, planet yang semakin panas akan menimbulkan rasa ketidakamanan.

“Tidak seperti banyak masalah yang dihadapi DK PBB, perubahan iklim adalah salah satu isu yang kami tahu persis bagaimana menanganinya,” ujarnya.

Dengan membantu negara-negara yang rentan beradaptasi terhadap perubahan iklim dan mengurangi emisi global menjadi nol.

“Kita tidak hanya akan melindungi keanekaragaman hayati yang melimpah di planet bumi, tetapi juga kemakmuran dan keamanan dunia,” ujar Johnson.

Sementara itu, penyiar dan ahli sejarah alam Inggris, Sir David Attenborough mengatakan, jika menurunkan emisi secara drastis, mungkin masih bisa menghindari titik nadir yang akan membuat perubahan iklim menjadi tak terkendali dan tidak dapat dihentikan.

Pada penyelenggaran COP26 di Glasgow November mendatang, mungkin memiliki kesempatan terakhir untuk membuat perubahan dan mengambil langkah yang diperlukan.

“Jika kita secara obyektif memandang perubahan iklim dan hilangnya alam sebagai ancaman keamanan global, sesuai faktanya, maka kita mungkin masih bisa bertindak secara proporsional dan tepat pada waktunya,” ujar Sir David Attenborough.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins mengatakan, perubahan iklim adalah ancaman bagi perdamaian dan keamanan global.

Untuk itu, dunia membutuhkan tingkat kerja sama global yang tak tertandingi, guna mengatasi tantangan ini.

Ia berpendapat, perubahan iklim adalah pengganda konflik yang bisa mengeringkan sungai, mengurangi hasil panen, menghancurkan infrastruktur utama dan menggusur masyarakat. Dan semua ini menyebabkan ketidakstabilan, persaingan dan konflik.

Oleh karena itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak dapat mengabaikan isu perubahan iklim,” ujar Owen.

Sekarang, lanjut Owen, semua pihak harus memperkuat tindakan. Pertama, mengurangi emisi, dan kedua, melindungi negara yang paling rentan.

Yang pertama, kami memangkas emisi lebih cepat daripada ekonomi besar mana pun. Kedua, Inggris telah berkomitmen lebih dari £11,6 miliar dalam pendanaan iklim,” ujarnya.

Owen melanjutkan, Inggris menyerukan kepada negara lain untuk berbuat lebih banyak, termasuk melalui Presidensi G7.

Acara ini menjadi seruan untuk berupaya lebih hebat lagi. Indonesia berada di garis depan perubahan iklim. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia menjelang COP26,” tambah Owen.

Inggris telah memimpin dalam aksi iklim, dengan komitmen hukum untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050. Dan berjanji mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 68% pada tahun 2030. Ini adalah pengurangan paling tajam dari seluruh negara-negara ekonomi besar.

Inggris juga telah berkomitmen mengeluarkan £ 11,6 miliar untuk pendanaan iklim internasional selama lima tahun ke depan. Termasuk upaya mengurangi dampak perubahan iklim di negara-negara yang rentan dan rapuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris membantu para peternak di Sahel  untuk mengatasi dampak kekeringan, memperkuat pengelolaan sumber daya alam di wilayah Darfur di Sudan,  dan mendukung 200 komunitas di Somalia membangun ketahanan terhadap guncangan iklim.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berpidato di depan Dewan Keamanan PBB sebagai bagian dari Kepresidenan Inggris di DK PBB selama sebulan.

Inggris Raya juga akan menjadi tuan rumah acara Iklim Dan Pembangunan Tingkat Menteri pada tanggal 31 Maret 2021, dengan dihadiri perwakilan dari negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim di seluruh dunia, serta donor utama dan lembaga internasional.

Dewan Keamanan PBB terdiri dari lima anggota tetap yaitu Cina, Prancis, Rusia, Inggris, dan AS. Serta 10 anggota tidak tetap yang dipilih untuk masa jabatan dua tahun.

Saat ini 10 anggota tidak tetap DK PBB adalah Estonia, India, Irlandia, Kenya, Meksiko, Nigeria, Norwegia, St Vincent dan Grenadines, Tunisia, dan Vietnam.

Terakhir kali seorang PM Inggris memimpin Dewan Keamanan PBB adalah John Major pada tahun 1992.

Sesi Dewan Keamanan disiarkan langsung pada hari Selasa 23 Februari dari 08:30 ET / 13:30 GMT / 21:30. Livestream tersedia di http://webtv.un.org/ dan footage, audio dan gambar tersedia di  United Nations Multimedia, Radio, Photo and Television.

Sedangkan Nisreen Elsaim adalah Ketua Organisasi Pemuda Sudan untuk Perubahan Iklim dan Ketua Kelompok Penasihat Pemuda untuk Perubahan Iklim Sekretaris Jenderal PBB.

Dia menghadiri KTT Ambisi Iklim, yang diketuai bersama oleh Inggris, pada bulan Desember.(J-RO)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like