Pimpinan HKBP Harus Tindak Tegas Pendeta Bejat dan Amoral

Perilaku Bejat Para Pendeta Jangan Disembunyi-sembunyikan

Perilaku Bejat Para Pendeta Jangan Disembunyi-sembunyikan. Pimpinan HKBP Harus Tindak Tegas Pendeta Bejat dan Amoral di HKBP Rawamangun. (Foto: Salah satu foto mesum Pdt Ramlan Hutahaean, Pendeta di Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur dengan Rosma Mery Siagian, jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoy, Cinjantung, Jakarta Timur, yang didapat Tim Redaksi. Foto: Ist).
Perilaku Bejat Para Pendeta Jangan Disembunyi-sembunyikan. Pimpinan HKBP Harus Tindak Tegas Pendeta Bejat dan Amoral di HKBP Rawamangun. (Foto: Salah satu foto mesum Pdt Ramlan Hutahaean, Pendeta di Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur dengan Rosma Mery Siagian, jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoy, Cinjantung, Jakarta Timur, yang didapat Tim Redaksi. Foto: Ist).

Warga Jemaant Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mendesak Pimpinan HKBP menindaktegas pendeta yang berperilaku dan melakukan praktik-praktik kebejatan dan amoral.

Hal itu ditegaskan salah seorang jemaat HKBP, Jansen Leo Siagian, Rabu (29/01/2020). Jansen Leo Siagian yang adalah Koordinator Wilayah Sumatera Koalisi Bersama Rakyat (Kibar) mengaku merasa miris dan sedih dengan kasus mesum yang dilakukan oleh Pimpinan Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur, Pdt Ramlan Hutahaean kepada jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoy, Cijantung, Jakarta Timur, Rosma Mery Siagian.




“Kasus mesum Pdt Ramlan Hutahaean di HKBP Rawamangun yang bejat moral itu haruslah ditindaktegas oleh Pimpinan tertinggi HKBP, yakni oleh Ephorus HKBP Pdt Darwin Lumbantobing. Agar jangan sampai mencoreng marwah dan citra HKBP di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan Negara kita,” tutur Jansen Leo Siagian.

Dia menegaskan, di gereja manapun, kasus-kasus serupa sudah banyak terjadi. Sudah bukan rahasia umum. Namun, selama ini sering ditutup-tutupi dengan alasan malu kalau diungkapkan. Sikap permisif warga HKBP seperti itu tak boleh dibiarkan.

“Kita harus menyatakan yang sebenar-benarnya. Katakan Iya kalau Iya, Tidak kalau Tidak. Kalau ditutup-tutupi, takkan ada perubahan yang baik di gereja, khususnya di HKBP. Umat Kristen khususnya, akan semakin tidak percaya dengan para pendeta. Maka harus ditindaktegas,” tuturnya.




Lagi pula, lanjut Jansen Leo Siagian, hampir semua gereja memiliki etika yang sangat ketat. Aturan gereja pun harus diterapkan jika ada pelanggaran, perilaku dan kebejatan yang amoral yang terjadi seperti yang dilakukan Pdt Ramlan Hutahaean itu.

“Saya kira, bukan hanya AD/ART ataupun SOP tentang Kependetaan saja yang harus dijalankan, tapi unsur Pidana-nya pun harus juga ditindaklanjuti oleh Ephorus HKBP. Karena suaminya si wanita tersebut sudah melaporkan kasus itu ke Ephorus HKBP sebagai pucuk pimpinan di HKBP,” ujar Jansen Leo Siagian.

Ingat, lanjut Jansen Leo Siagian, HKBP adalah milik Orang Batak, milik Umat Kristiani, milik Indonesia, milik masyarakat. Sehingga, jika ada anggapan bahwa persoalan di HKBP sebaiknya didiamkan atau tak usah diekspose, maka sikap seperti itu adalah sikap anti terhadap perubahan yang baik bagi masyarakat. Dan orang-orang seperti itulah sesungguhnya yang sebaiknya tak usah hidup bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia.




Jansen Leo Siagian menuturkan, selain penegakan aturan dan sanksi gereja HKBP yang harus segera dilakukan Ephorus HKBP terhadap Pdt Ramlan Hutahaean, maka secara proaktif pimpinan HKBP juga harus memroses pelanggaran Pidananya. Tak cukup hanya keluarga atau pihak-pihak personal saja yang melakukan gugatan pidana.

“Justeru HKBP-nya sendiri harus mengambil tindakan melaporkan juga secara pidana atas perilaku Pdt Ramlan Hutahaean itu. Ingat, untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga saja atau KDRT, harus diproses secara pidana. Bagaimana pula warga jemaat yang sudah mengadu ke Ephorusnya tapi tidak diayomi, tidak dilindungi dan juga tidak dilayani dengan sebaik-baiknya?” bebernya.

Jansen Leo Siagian menegaskan, peristiwa bejat Pdt Ramlah Hutahaean di Gereja HKBP Rawamangun itu, sebagai bukti bahwa telah terjadi krisis moral yang parah di HKBP secara keseluruhan.




“Krisis moral di HKBP Rawamangun itu sangat amat memalukan, khususnya di kalangan Orang Batak, yang sangat kuat memegang falsafah hidup paradaton-nya,” tegasnya.

Sebagai jemaat Gereja HKBP, Jansen Leo Siagian mengharapkan, adanya upaya besar-besaran dari pimpinan HKBP dan para pendeta serta Parhalado dan jemaatnya untuk melakukan intospeksi diri. Kemudian, harus berani membuka aib yang salah, untuk perbaikan HKBP.

“Saya berharap agar para pendeta HKBP, harus segera melakukan introspeksi diri, meditasi, juga puasa, merenung dan hening-cipta atas kasus ini, agar spiritualitas kependetaannya tidak tergerus dan tercemarkan,” tutup Jansen Leo Siagian.




Sebelumnya, telah mencuat perbuatan mesum, bejat dan amoral yang dilakukan pimpinan Gereja HKBP Rawamangun, Pdt Ramlan Hutahaean, dengan seorang perempuan bersuami, yang merupakan jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoy, Cijantung, Jakarta Timur, bernama Rosma Mery Siagian.

Marlen Sirait, suami dari teman selingkuh Pdt Ramlan Hutahaean, Rosma Mery Siagian, telah membongkar adanya kebejatan moral dan perilaku pendeta Ramlan Huhataean.

Dalam surat dan tuntutannya, Marlen Sirait yang beralamat di Jalan Asmin RT 006/RW003 Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, menyatakan dirinya bertanggungjawab atas temuan foto mesum yang antara Pdt Ramlan Hutahaean dengan Rosma Mery Siagian.




Marlen Sirait juga menolak semua tuduhan yang dilakukan pihak Pdt Ramlan Hutahaean dan para kaki tangannya, yang menuduh balik Marlen Sirait melakukan dugaan pemerasan terhadap Ramlan Hutahaean.

“Semua kebohongan dan serangan balik yang dilakukan Pdt Ramlan Hutahaean kepada saya, saya bantah dengan tegas. Justru, sayalah yang berterimakasih kepada beberapa Parhalado dan Jemaat di HKBP Rawamangun, untuk mendukung saya mendapatkan keadilan atas penzaliman yang dilakukan pendeta resort Pdt Ramlan Hutahaean yang bertugas di HKBP Rawamangun,” tutur Marlen Sirait.

Pada Jumat 29 November 2019 malam, Marlen Sirait mengaku dipertemukan dengan Pdt Ramlan Hutahaean untuk meminta penjelasan dan mengklarifikasi perbuatan-perbuatan Pdt Ramlan Hutahaean bersama Rosma Mery Siagian, isteri Marlen Sirait itu.




Dalam pertemuan itu, Marlen Sirait didampingi pengacara St Mulia Simanjuntak dan beberapa Parhalado HKBP Rawamangun.

Sebab, sejak diketahuinya ada hubungan bejat dan mesum antara Pdt Ramlan Hutahaean dengan Rosma Mery Siagian, Marlen Sirait mencari-cari Pdt Ramlan Hutahaean untuk menanyakan langsung persoalan itu. Namun, Pdt Ramlan Hutahaean tak pernah membuka pintu bertemu.

Dengan pertemuan pada Jumat 29 November 2019 itu, akhirnya mereka bertemu. “Saya sampaikan secara langsung dan terbuka kepada Ramlan Hutahaean mengenai peristiwa itu. Dia, sebagai Pendeta telah merusak rumah tangga saya. Dia diam saja. Jadi, kalau selanjutnya ada di luaran sana informasi miring dan bahkan serangan balik dari pihak Ramlan Hutahaean kepada saya, saya akan hadapi. Silakan bertemu langsung lagi kami. Jangan ditutup-tutupi,” tandas Marlen Sirait.




Hingga kini, lanjutnya, belum ada sikap dari Pimpinan Tertinggi HKBP atas persoalan yang sudah disampaikan Marlen Sirait itu.

Marlen Sirait juga menyatakan, dirinya sudah melaporkan Ramlan Hutahaean kepada pihak aparat penegak hukum. Agar diproses secara hukum pidana.

Peristiwa mencuatnya percabulan, dugaan persundalan dan perselingkuan yang dilakukan Pdt Ramlan Hutahaean bersama Rosma Mery Siagian itu telah membuat parhalado dan jemaat di HKBP Rawamangun terpecah belah.




Salah seorang pendeta yang melayani di Gereja HKBP Rawamangun, Pdt Bernard TP Siagian bahkan menyatakan akan mengundurkan diri dari kependetaannya dari HKBP, jika pimpinan tertinggi HKBP tidak menindaktegas Pdt Ramlan Hutahaean dan para kaki tangannya yang masih bercokol di HKBP Rawamangun.

Pdt Bernard TP Siagian menegaskan, tidak selayaknya perilaku dan tindakan amoral seorang pendeta ada di HKBP. Itu merusak gereja, menghancurkan HKBP dan menistakan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhannya orang Kristen.

“Jika persoalan ini tidak diambil sikap tegas, jika perilaku pendeta sudah dengan entengnya melakukan persundalan dan tidak ditindaktegas, lalu untuk apalagi saya jadi Pendeta? Jika Sintua yang diduga pro kepada perilaku pendeta cabul dan melakukan persundalan itu pun malah menyampaikan yang tidak pantas kepada pendeta di dalam Sermon, malah menuduh saya sebagai pendeta padugu-duguhon. Namun yang bersangkutan tidak ditegur, tidak merasa pernyataannya itu merusak tohonan kependetaan, buat apa lagi kami menjadi pendeta? Saya rela melepaskan Toga Kependetaan saya, dan mundur dari Pendeta HKBP, apabila itu tidak ditindak tegas,” tutur Pdt Bernard TP Siagian, ketika bertemu wartawan dan anggota jemaat HKBP, Rabu malam, 22 Januari 2020, di Rawamangun, Jakarta Timur.




Pdt Bernard TP Siagian pun sudah membuat pernyataan resminya. Surat itu pun sudah dikirimkan ke Pimpinan HKBP di Kantor Pusat HKBP, kepada Ompui Ephorus HKBP, Pdt Darwin Lumbantobing. Kemudian, Pdt Bernard TP Siagian juga telah meminta dan bersurat resmi ke Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta, Pdt Midian Sirait. Hal yang sama juga sudah disampaikan Pdt Bernard TP Siagian kepada Parhalado dan jemaat HKBP Rawamangun.

“Sejak Rabu, 08 Januari 2020, saya mengajukan pengunduran diri dan non aktif dari aktivitas kependetaan saya di HKBP Rawamangun, sampai batas waktu yang dapat saya yakini bahwa saya diterima sepenuhnya oleh Parhalado dan Jemaat HKBP Rawamangun. Selama masih ada seorang pun dari antara jemaat, apalagi Parhalado yang mencurigai, mempertanyakan apalagi menuding kependetaan saya sedemikian, saya tidak layak. Karena akan menjadi batu sandungan, bahkan penyesat di tengah-tengah jemaat TUHAN. Yang mana, saya tidak mau dan tidak mampu menerima hukuman kelak dari TUHAN. Sebagaimana di Matius 18 ayat 6,” tutur Pdt Bernard TP Siagian.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*