Breaking News

Pidato di Korea Selatan, Prof Dr Rohkmin Dahuri: Indonesia Harus Perbaiki Cara Membangun

Pidato di Korea Selatan, Prof Dr Rohkmin Dahuri: Indonesia Harus Perbaiki Cara Membangun. Pidato di Korea Selatan, Prof Dr Rohkmin Dahuri: Indonesia Harus Perbaiki Cara Membangun.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Rohkmin Dahuri mengingatkan, Indonesia harus memperbaiki cara membangun.

Hal itu ditegaskan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) itu saat memberikan pidatonya dalam Pertemuan Leaders Round Table Discussion pd 2019 Sustainable Development Jeju International Conference, di Hotel Maison Glad, Jeju Island, Korea Selatan.





Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah pembicara ternama dari Negeri Ginseng dan Negara-negara lainnya itu, Rohmin Dahuri menyampaikan konsep The Application of Industry 4.0 – Based Technologies and Circular Economy in Developing a Prosperous, Peaceful and Sustainable World: a Lesson Learned from Indonesia.

Inti dari pidato konsep Rohkmin Dahuri adalah bahwa untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, yakni dunia yang sejahtera atau prosperous, aman atau peaceful, dan berkelanjutan atau sustaianable.

“Maka kita umat manusia harus memperbaiki cara-cara kita membangun perkenomian dan cara-cara kita hidup di planet bumi ini, baik pada tataran paradigmatik maupun tataran praksis di teknis operasional,” tutur Rohkmin Dahuri, dalam siaran persnya, Rabu (19/06/2019).





Sebab, lanjutnya, kapitalisme yang merupakan satu-satunya paradigma atau sistem kehidupan manusia yang dianut oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia sejak tahun 1800-an telah menimbulkan sejumlah permasalahan yang telah mengancam kelestarian dan sustainability ekosistem planet bumi ini. “Dan juga mengancam eksistensi peradaban manusia itu sendiri,” ujarnya.

Memang, kapitalisme telah mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dunia atau Gross World Product (GWP) yang sangat signifikan, rata-rata 3,5 persen per tahun sejak Revolusi Indsutri Pertama pada 1750 sampai 2015.

Pada 1750 GWP hanya 0,45 triliun dolar amerika, pada 2015 menjadi  90 dolar amerika, melonjak 200 kali lipat.





Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang didorong oleh kerakusan dan rasa ingin tahu mahzab kapitalisme, menurut Rohkmin, juga telah membuat kehidupan manusia lebih sehat, mudah, cepat dan nyaman.

Gelombang kemajuan Iptek terkelompokan ke dalam 4 era revolusi industri juga telah membuat ekonomi dunia semakin produktif dan efisien.

“Namun, kapitalisme juga telah menimbulkan permasalahan sosial-ekonomi, lingkugan, dan sosial-budaya  yang sangat kompleks dan serius,” ujarnya.





Di bidang ekonomi, lanjutnya, sampai sekarang masih sekitar 1 miliar warga dunia hidup dalam kemiskinan absolut atau extrem poverty, dengan pengeluaran kurang dari 1,25 dolar amerika per hari. Hampir 3 miliar orang masih hidup miskin dengan pengeluaran kurang dari  2 dolar amerika per hari.

“Yang lebih mencemaskan, ketimpangan ekonomi baik dalam satu negara maupun antar negara semakin melebar,” ujar Rohkmin.

Di bidang lingkungan, dilanjutkan dia, pencemaran, pengikisan biodiversity dan kepunahan spesies, perusakan fisik ekosistem alam, dan pemanasan global telah mencapai tingkat yang mengancam kelestarian bumi dan kehidupan manusia.





Di bidang social budaya, kehidupan manusia terutama di daerah perkotaan semakin stress, narkoba, HIV/AIDS, frustasi, perampokan, bunuh diri, perzinahan, kemunafikan, hoax, dan penyakit sosial lainnya merebak masif. Distrust society dan post truth mendominasi kehidupan masyarakat.

“Maka, paradigma kapitalisme mesti diganti dengan paradigma kehidupan yang menuntun manusia, bahwa manusia itu bukan hanya terdiri dari fisik atau lahiriah, tetapi juga rohani, ruh, dan jiwa. Karenanya, kebahagian tidak mungkin bisa dipuaskan oleh harta, tahta, popularitas dan hal-hal duniawi lainnya. Tapi, mesti dengan kedamaian hati, jiwa,” jelasnya.

Dia juga menegaskan, sumber daya alam dan kekayaan itu bukan milik manusia, tetapi hanya titipan dari Tuhan. Yang diperoleh melalui ikhtiar dan doa manusia.





Maka, kekayaan tidak boleh terkonsentrasi oleh segelintir orang. “Bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, kehidupan yang hakiki dan abadi adalah di akhirat. Paradigma sistem kehidupan semacam itu antara lain adalah Pancasila dengan kelima silanya,” ujarnya lagi.

Pada tataran praksis, dua agenda besar harus dilakukan secara simultan dan terintegrasi. Pertama adalah agenda untuk meningkatkan daya dukung (carrying capacity) lingkungan bumi dalam menghasilkan sumber pangan, bahan untuk pakaian, bahan farmasi, bahan untuk perumahan dan bangunan lain, bahan tambang dan mineral, tempat untuk rekreasi, dan bahan serta jasa lingkungan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia.

“Selain itu, bagaimana kita meningkatkan ekosistem bumi dalam menetralisir limbah,” ujar Rohkmin.





Kedua, agenda untuk mengatur supaya konsumsi (penggunaan) manusia terhadap pangan, bahan pakaian, farmasi, bahan bangunan, bahan tambang dan mineral, dan barang lainnya tidak berlebihan, secukupnya saja.

Selain itu, kegiatan pembangunan, industri, dan aktivitas manusia lainnya juga tidak boleh membuang limbah, emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya melebihi kapasitas asimilasi (menetralisir) eksosistem alam.

Laju eksploitasi hutan, sumber daya ikan, dan sumber daya alam hayati lainnya tidak boleh melampaui kapasitas pulihnya.





Pada prakteknya, ekonomi sirkuler (circular economy) dan teknologi era Industri 4.0 seperti bioteknologi, nanoteknologi, Artificial Intelligence, Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, dan Robotics di banyak negara telah berhasil meningkatkan daya dukung lingkungan.

“Dan pada saat yang sama mengendalikan laju konsumsi atau penggunaan manusia terhadapa SDA dan jasa-jasa lingkungan,” ujar Rohkmin.

Selain Prof DR Rohkmin Dahuri, pembicara lain dalam leaders round table itu adalah Dr Valerie Cliff (Regional Director for Asia and the Pacific Region, UNDP), Dr Anna Messinis (Vice President of Municipality of Venice, Italy), Mr Song Han-Jun (President of Association of Metropolitan and Provincial Council Chairs, South Korea), Dr Lien Sheng (Deputy Secretary General of People’s Government of Hainan Province, China), Prof Dr Vijay Jagannathan (Secretary General of CityNet), Dr Jatopong Kaewsai (Director of Phuket Foreign Affairs, Thailand), dan Dr Sarwat Chowdhury (Policy Specialist, UNDP).





Pertemuan dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari 25 negara. Konferensi dibuka oleh Dr Won Heeryong, Governor of Jeju Special Self-Governing Province, Republic of Korea.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*