PGI Minta Pemerintah Lakukan Koordinasi Signifikan Bagi Korban Bencana Palu

PGI Minta Pemerintah Lakukan Koordinasi Signifikan Bagi Korban Bencana Palu

- in DAERAH, NASIONAL
23
0
Persoalan Serius Pendidikan Anak-Anak Korban Gempa dan Tsunami, PGI Minta Pemerintah Lakukan Koordinasi Signifikan Bagi Korban Bencana Palu.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) berharap ada upaya yang simultan dan terkoordinasi dengan baik untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh para korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi.

Selain persoalan kebutuhan pangan, sandang dan papan, saat ini para korban juga menghadapi persoalan psikologis, dan juga persoalan serius dalam pendidikan anak-anak mereka.

Kepala Humas PGI Irman Riana Simanjuntak mengungkapkan,  hingga saat ini PGI terus melakukan koordinasi dengan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) dan Gereja Toraja (GT) untuk memetakan kebutuhan pasca gempa-tsunami yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala.

Koordinasi juga dilakukan dengan lembaga-lembaga lain seperti Kementrian Sosial RI, United Nations Children’s Fund (Unicef), Pekerja Sosial (Peksos), dan United Nations Fund for Population Activities (UNFPA).

Menurut Irma Riana Simanjuntak yang saat ini berada di Palu, suasana kota Palu berangsur membaik. Listrik sebagian besar sudah menyala, bank dan swalayan sudah beroperasi kembali, demikian pula klinik dan pelayanan rumah sakit, termasuk rumah makan.

“Namun sekolah-sekolah belum diaktifkan karena sebagian besar anak-anak ke luar kota, sementara guru juga jadi korban,” tutur Irma, dalam keterangannya, Selasa (23/10/2018).

Dia juga menginformasikan, aktivitas Sekolah Minggu di Kota Palu belum pulih, sebab sebagian besar anak-anak masih di luar Palu.

Sementara itu, selain anak, banyak orang tua yang kehilangan anak memerlukan pendampingan khususnya perempuan, terutama yang anaknya hilang atau belum ditemukan.

“Sedangkan di luar kota Palu masih banyak anak-anak yang belum mendapat pendampingan misalnya Domboe, Kulawi yang akses jalannya masih susah. Untuk logistik sudah tembus ke lokasi. Selain itu, Posko GKST Effata dan GPID masih ada, namun stok logistiknya makin menipis. Hari ini posko tutup sebab semua petugas posko melayani di gereja-gereja di sekitar Palu,” katanya.

Sementara itu, terkait penanganan pasca gempa-tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Wali Kota Palu, Hidayat, telah mengeluarkan surat keputusan penetapan lokasi rumah hunian sementara (Huntara) di sejumlah lokasi.

Walikota juga telah menetetapkan segala biaya yang diperlukan dibebankan kepada APBN tahun anggaran 2018, APBD tahun 2018 Kota Palu, serta bantuan dan sumbangan para pihak yang tidak mengikat.

Adapun wilayah yang telah ditetapkan untuk didirikan Huntara yaitu di wilayah Kecamatan Tawaeli, Palu Utara, Mantikulore, Palu Selatan, Tatanga, Palu Barat, dan Ulujadi.

 

Butuh Dukungan Psikososial bagi Korban Bencana di Palu, Sigi dan Donggala

Kepala Humas PGI Irma Riana Simanjuntak menyampaikan, sampai saat ini dukungan psikososial bagi korban gempa-tsunami di Palu, Sigi dan Donggala (PASIDO) menjadi salah satu kebutuhan yang harus segera dilaksanakan, dan dipersiapkan secara baik.

Model dukungan psikososial anak dapat dilakukan melalui Sekolah Minggu, sekolah dan di lokasi pengungsian. Sebab itu perlu adanya Training of Trainers (TOT) bagi guru-guru Sekolah Minggu.

Menurut Irma, hal itu juga menjadi salah satu kesimpulan dalam rapat koordinasi yang dihadiri perwakilan GT, GKST, GPID, Pokja Anak PGI, UEM dan Yakoma/Humas PGI di Kantor Sinode GPID, Palu, Senin (22/10).

“Rapat juga mensimpulkan bahwa manajemen relawan akan dikoordinir PGI namun selanjutnya kegiatan ini akan diserahkan ke sinode untuk dikelola. Sedangkan untuk layanan konseling tatap muka akan dimulai pada 22-26 Oktober 2018, dan selanjutnya dapat dilakukan melalui online. PGI juga akan berkoordinasi dengan lembaga lain yang sudah dan akan melakukan kegiatan ini di PASIDO,” tutur Irma.

Sebelumnya,  dalam rapat tersebut pentingnya kebutuhan akan psikososial disampaikan oleh perwakilan gereja yang hadir.

“Kami sangat membutuhkan kegiatan ini namun karena anak belum semua ada di lokasi baiknya melakukan Training of Trainers bagi Pendamping. Untuk konseling akan segera memberikan data kepada Ibu Nursini. Untuk hari minggu berharap relawan melayani anak-anak di gereja,” ujar Pdt Sila dari Gereja Toraja. Hal senada juga disampaikan perwakilan GKST dan GPID.

Pada kesempatan itu, dalam sharing masing-masing sinode, dari Gereja Toraja menginformasikan bahwa jumlah anak terdampak bencana ini 1500 anak yang merupakan anak sekolah minggu dari 10 jemaat di Wilayah Palu.

Sebagian besar anak dan mengungsi, bahkan pindah sekolah ke luar Palu. Secara perlahan-lahan sudah mulai kembali ke Palu. Masih takut untuk memulai sekolah dan masuk ke gedung gereja.

Anak-anak beribadah masih banyak bersama orang tua walaupun pelayanan sekolah minggu sudah dibuka.

Sementara dari GKST jumlah anak yang terdampak 700 orang. Hampir 500 orang sudah diungsikan dan pindah sekolah. Pelayanan anak sekolah minggu sudah dimulai namun belum optimal. Guru Sekolah Minggu sebagian masih di luar Palu dan berangsur-angsur kembali.

Dari GPID, jumlah gereja yang terdampak di Pasigi 176 gereja. Semuanya memiliki pelayanan anak sekolah minggu. “Anak-anak banyak korban atau meninggal, jemaat juga. Kehilangan rumah dan gereja. Anak-anak ada yang di luar kota, di rumah saudara dan di tenda (29 KK). Beberapa wilayah belum bisa dijangkau karena kondisi jalan yang putus. GPID sedang melakukan pendataan, dan telah dilakukan pendampingan psikosial bagi anak di dua titik oleh Tim PGI,” tuturnya.

Terkait kehadiran relawan, Pokja Anak PGI menjelaskan pada hari itu sudah bekerja di 2 titik.  Koordinator Bidang Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB)  Benny Lumi menjelaskan, jumlah relawan akan semakin banyak yang dikoordinir oleh PGI. Sehingga diperlukan manajemen relawan, dan Pokja Anak PGI sudah menyiapkan termasuk materi dan peralatan yang dibutuhkan.

“Namun relawan ini sebagian besar hanya 1 sampai 2 minggu di lapangan oleh karena itu dibutuhkan dukungan dari relawan lokal. Kegiatan ini juga bukan hanya untuk dukungan psikososial namun ada materi upaya perlindungan anak di pengungsian,” ujar Benny Lumi.

Sebagaimana dilaporkan Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak, kegiatan TOT dukungan psikososial anak akan dilakukan pada 3 November 2018 di Gereja Toraja Sion.

Kegiatan ini akan difaslitasi oleh BPA PGI. Sedangkan di GPID, dukungan di gereja-gereja mulai 4 November 2018 (GPID Pniel), di sekolah-sekolah GPID dan di tenda pengungsian.

Untuk anak-anak yang di lokasi pengungsian akan berbaur dengan anak-anak yang lain. Relawan akan tinggal bersama pengungsi selama 3 hari dan melakukan pendampingan secara rutin.

Sementara itu, Gereja Toraja akan menyiapkan anak-anak untuk tanggal 28 Oktober 2018. TOT tahap awal lintas denominasi, namun tahap selanjutnya per sinode. Sedangkan GKST, hari Minggu (28/10) di GKST Effata pukul 11.00 diikuti oleh anak 70 orang.

Saat ini, layanan Konseling Pastoral disediakan oleh PGI melalui kehadiran Nursini Sihombing dari UEM. Pelayanan ini lebih personal. Kapan saja bisa diminta untuk mendampingi  anak, remaja dan orang tua, dengan  menghubunginya melalui WA/HP 085296910909.(JR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like