PGI: Bantu Para Korban Gempa dan Tsunami Tanpa Isu SARA

Kecam Penembakan Mesjid di Selandia Baru, PGI Minta Pemerintah Lakukan Langkah Bilateral.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyerukan untuk bersama-sama membantu dan menolong para korban gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Donggala dan Sigi, tanpa membeda-bedakan, tanpa menunggangi isu perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA).

Hal itu disampaikan PGI dalam Surat Keprihatinannya terkait gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi, yang diterima redaksi, Jumat (05/10/2018).

Kepala Humas PGI Irma Riana Simanjuntak mengatakan, bencana ini sungguh menimbulkan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain kehilangan harta benda, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) per tanggal 4 Oktober 2018 menyebutkan jumlah korban tewas akibat bencana ini sudah mencapai 1.424 jiwa.

Dikhawatirkan jumlah ini masih akan bertambah mengingat masih banyaknya korban yang belum ditemukan.

“Peristiwa ini telah mendorong keprihatinan pemerintah, gereja-gereja dan masyarakat di seluruh dunia untuk saling membantu meringankan penderitaan korban, tanpa memandang latarbelakang,” ujar Irma.

Sebagai wujud solidaritas gereja-gereja di Indonesia, lanjut dia, PGI telah melakukan Doa Bersama Lintas Iman di Jakarta pada 3 Oktober 2018, sembari mendorong solidaritas anak bangsa untuk memberikan perhatian kepada korban bencana dengan mengedepankan sisi kemanusiaan.

“PGI juga telah berada di lokasi bencana sejak Minggu (30/10) dan bersama gereja-gereja setempat membangun beberapa pusat layanan di lokasi bencana.” ungkapnya.

Sehubungan dengan musibah besar ini, PGI menyatakan gempa merupakan kejadian yang —hingga kini— tidak bisa diprediksi oleh manusia, meskipun dengan memakai kecanggihan teknologi.

“Oleh karenanya kesiapsiagaan masyarakat perlu ditingkatkan dalam hal pengetahuan mitigasi dalam rangka pengurangan risiko bencana,” tutur Irma.

Sebagai gejala alam sedemikan, lanjutnya, maka berbagai bentuk spekulasi tentang bencana ini hendaknya dihentikan.

“Apa yang hendak diperlukan kini adalah membangunkan solidaritas kita sebagai sesama anak bangsa untuk bahu membahu mengurangi penderitaan korban. Untuk itukah kami meminta gereja-gereja di Indonesia untuk tetap mendoakan dan saling bahu membahu membantu korban bencana tanpa memandang latar belakang korban, dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam aksi kemanusiaan di lokasi bencana,” tuturnya.

PGI pun menghimbau gereja-gereja yang menyalurkan bantuan untuk tetap mengedepankan aspek kemanusiaan dan menghindari isu agama yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.

Dia melanjutkan, hendaknya dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan ini tidak menggunakan pendekatan yang dapat disalah mengerti oleh masyarakat. Olehnya, sangat disarankan agar gereja-gereja dapat bekerja bersama dengan elemen bangsa lainnya.

“PGI juga meminta kepada semua pihak agar situasi ini tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik dalam rangka Pileg dan Pilpres 2019,” ujar Irma.

Selanjutnya, PGI eminta semua pihak untuk tidak mem-posting dan menyebarkan foto-foto korban di media sosial yang dapat menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga.

“Dan menghindari memproduksi dan menyebarkan konten hoax terkait bencana yang dapat menimbulkan kecemasan dan kepanikan di masyarakat,” tutup Irma.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan