PGI: Anak Adalah Masa Depan Bangsa & Gereja, Stop Pernikahan Anak

Peringati Hari Anak Nasional, PGI Gelar Kampanye Jalanan

Peringati Hari Anak Nasional, Gelar Kampanye Jalanan; PGI: Anak Adalah Masa Depan Bangsa& Gereja, Stop Pernikahan Anak.
Peringati Hari Anak Nasional, Gelar Kampanye Jalanan; PGI: Anak Adalah Masa Depan Bangsa& Gereja, Stop Pernikahan Anak.

Para aktivis perempuan dan anak-anak dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menggelar aksi kampanye menolak berbagai kekerasan dan menolak pernikahan anak. Kampanye ini merupakan kegiatan dalam Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli.

Dari pantauan di lokasi kampanye, para aktivis berjejer menggelar kampanye, dengan membentangkan poster-poster berisi kampanye Stop Pernikahan Anak, juga membagi-bagikan bunga kepada para pejalan kaki dan pengendara di perempatan lampu merah, Jalan Diponegoro-Salemba Raya, tidak jauh dari Kantor PGI, di Jakarta Pusat, Selasa pagi (23/07/2019).





Kepala Biro Perempuan dan Anak PGI, Repelita menuturkan, anak merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki potensi dan peran strategis.

Dia memprediksi, kondisi bangsa Indonesia pada 20-30 tahun yang akan datang, dapat dilihat dari kondisi anak Indonesia saat ini.

“Karena masa depan bangsa Indonesia berada di tangan anak saat ini. Semakin baik kondisi dan kualitas anak saat ini maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa. Hal itu juga berlaku untuk Gereja,” tutur Repelita.

Lebihlanjut, proses tumbuh kembang anak dalam gereja akan mempengaruhi perkembangan gereja. Gambaran masa depan gereja dapat dilihat dari cara gereja memperlakukan anak saat ini, karena anak adalah generasi masa kini dan generasi masa depan gereja.





Untuk PGI, peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 pada 23 Juli 2019 ini mengambil tema Peran Keluarga Dalam Perlindungan Anak, dengan Sub Tema, Perkuat peran keluarga dalam berbagai upaya untuk pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak; Wujudkan pengasuhan yang berkualitas dan berbasis hak anak yang dimulai dari keluarga. Tagline: Kita Anak Indonesia, Kita Gembira! #KitaGembira.

Menurut Repelita, tujuan Perayaan Hari Anak Nasional tersebut adalah untuk menumbuhkan kepedulian, kesadaran dan peran aktif setiap individu, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media, pemerintah dan negara dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas untuk anak serta memberikan perhatian dan informasi yang seluas-luasnya kepada seluruh anak dan keluarga tentang pentingnya meningkatkan kualitas anak melalui peningkatan pengasuhan keluarga yang berkualitas.

Kepala Humas PGI Irma Riana Simanjuntak mengatakan, pada peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2019 ini, PGI bersama Pelayan Anak mengajak gereja-gereja di Indonesia dan masyarakat Indonesia untuk melakukan penguatan kepada keluarga, sebagai lembaga pertama dan utama dalam memberikan pengasuhan yang berkualitas.





“Agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak,” tutur Irma.

PGI juga mengimbau setiap Gereja menerapkan Program Gereja Ramah Anak, dan melayani anak-anak dengan ramah anak.

Menurut dia lagi, Gereja harus menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar anak dapat terlindungi, hidup, tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal.





“Gereja juga harus membangun penyadaran kepada keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dalam menanggulangi pernikahan dini yang mengancam kehidupan anak-anak di Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, perlu membangun kerjasama yang baik antara keluarga, masyarakat dan pemerintah untuk mencegah stanting untuk kualitas anak bangsa yang lebih baik.

“Kami mengimbau gereja untuk melakukan penguatan kepada guru, aktivis dan penggiat anak agar sebagai orang terdekat yang mendidik dan mendamping anak dapat memiliki pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak,” ujar Irma.





Sejak dini, lanjutnya, setiap orang tua, dan gereja harus sudah melakukan penguatan kepada anak agar memiliki kemampuan terlibat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dirinya serta memiliki kemampuan untuk melindungi diri.

“Serta membangun penyadaran kepada para pemimpin, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, termasuk pimpinan gereja untuk memberikan perhatian yang lebih besar dalam upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak,” tutup Irma.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan