Permain-mainkan Hak dan Nyawa Warga, Negara Harus Tindaktegas PT Prudential Life Assurance

Permain-mainkan Hak dan Nyawa Warga, Negara Harus Tindaktegas PT Prudential Life Assurance.
Permain-mainkan Hak dan Nyawa Warga, Negara Harus Tindaktegas PT Prudential Life Assurance.

Negara melalui Pemerintah diminta untuk menindaktegas PT Prudential Life Assurance alias Prudential, karena mempermain-mainkan hak warga Negara Indonesia.

Tingkat kepercayaan masyarakat kepada perusahaan asuransi swasta seperti PT Prudential Life Assurance kian menurun, dikarenakan Purdential tidak menjalankan kewajibannya kepada warga Negara.




Sandi Ebenezer Situngkir, seorang advokat yang mendampingi kliennya seorang Kakek bernama Kamaluddin Ng, warga Pluit, Jakarta Utara, mengaku kecewa dengan tata cara Asuransi Prudential yang memperlakukan warga yang berhak atas klaim asuransi itu, dengan cara-cara tidak manusiawi.

Soalnya, menurut Sandi Ebenezer Situngkir, kliennya Kamaluddin Ng sudah sah secara hukum yang berlaku di Indonesia, sebagai pihak yang berhak menjadi waris dari sejumlah klaim asuransi Prudential yang dimiliki anaknya, Tadjudin, yang sudah meninggal dunia.

Menurutnya, PT Prudential Life Assurance sudah seharusnya langsung untuk melakukan pembayaran Asuransi Polis Nomor 51302171, atas nama Tadjudin dan Polis asuransi Nomor : 06920421 atas nama Tadjudin kepada Kamaluddin Ng.




“Seharusnya sudah dibayarkan sejak tahun lalu. Namun, kenyataannya hingga hari ini, Prudential menahan-nahan dan malah membuat Pak Kamaluddin bagai diping pong, dengan alasan yang tidak jelas, dan tidak manusiawi. Lama-lama, seluruh masyarakat yang menjadi nasabah Prudential bisa-bisa tak percaya dan hengkang dari Prudential,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir, di Jakarta, Jumat (31/01/2020).

Sandi menegaskan, Prudential sudah tidak patuh dan tidak tunduk kepada hukum yang berlaku di Indonesia. Bahkan juga sudah tidak menjalankan lagi prinsip-prinsip asuransi dan regulasinya. Karena Prudential mencoba menghalang-halangi dengan berbagai cara agar Kamaluddin tidak mendapatkan haknya sebagai waris dari anaknya yang sudah meninggal dunia, Tadjudin.

Dia mengungkapkan, sudah berkali-kali Kamaluddin menyerahkan semua putusan pengadilan yang menyatakan dengan tegas bahwa dirinyalah yang ditunjuk pengadilan sebagai wali dan berhak atas klaim asuransi Polis Nomor 51302171, atas nama Tadjudin dan Polis asuransi Nomor : 06920421 atas nama Tadjudin itu.




Bahkan, lanjutnya, berkali-kali permohonan sudah diajukan kepada PT Prudential Life Assurance agar segera mencairkan dana polis itu ke Kamaluddin. Namun, pihak Prudential tak melaksanakan putusan pengadilan itu.

“Tidak ada hak Prudential menahan-nahan pembayaran dana ke Pak Kamaluddin. Begitu ada putusan, yang sudah menegaskan mengenai hak itu, maka maksimal dalam 30 hari harus sudah dicairkan oleh Prudential,” tutur Sandi.

Lagi pula, katanya, alasan pihak Prudential yang bersikukuh menahan karena ada gugatan dari seorang perempuan bernama Maria Christiane, tidak dapat diterima akal sehat dan prosedur hukum yang berlaku di Indonesia.




Soalnya, Maria Christiane yang mengaku sebagai Ibu dari anak yang bernama Christallyn Lee, dan sebagai isteri dari Tadjudin (Almarhum), dan dianggap sebagai orang yang memiliki hak atas klaim asuransi itu, tidak dapat dibuktikan.

Christallyn Lee, si anak kecil yang disebut oleh Maria Christiane sebagai anak dari Tadjudin (Almarhum) belum bisa dibuktikan.

“Lagi pula, urusan itu bukan ranahnya Prudential. Itu ranah proses hukum yang lain. Tak ada urusannya Prudential dengan proses itu. Prudential bukan pihak yang mengurusi langsung hubungan kekeluargaan itu. Prudential harusnya segera mencairkan dana ke Pak Kamaluddin, sebab putusan pengadilan mengenai hak waris asuransi milik Tadjudin itu diputuskan ke Kamaluddin,” terangnya.




Mengenai sengketa pengakuan anak dan hubungan suami isteri Tadjudin (Almarhum) dengan Maria Christiane itu, dijelaskan Sandi, juga penuh persoalan. Sebab, tak satu pun dokumentasi atau data resmi yang sah, yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa Christallyn Lee itu adalah anak dari Tadjudin (Almarhum) dengan Maria Christiane.

“Belum bisa dibuktikan apakah benar itu anaknya. Malah, pihak keluarga Tadjudin menyatakan, bahwa Tadjudin tak pernah mengakui anak itu sebagai anaknya. Itu urusan lain. Silakan test DNA aja jika bingung dengan persoalan itu,” tuturnya.

Kemudian, diungkapkan Sandi Ebenezer Situngkir, klaim dan pengakuan sepihak bahwa Christallyn Lee adalah anak Tadjudin (Almarhum) dilakukan Maria Christiane dengan menggunakan data dan dokumen palsu, dalam pengajuan gugatannya.




“Malah, pihak Pak Kamaluddin sudah melaporkan Maria Christiane ke Polisi, atas dugaan pemalsuan data dan dokumen. Sebab, memang pihak Dukcapil Jakarta Utara, menolak bahwa pihaknya pernah mengeluarkan bukti diri atau putusan bahwa Christallyn Lee sebagai anak dari Tadjudin (Almarhum). Sudah ada surat resmi Dukcapil Jakarta Utara yang menolak,” bebernya.

Jadi, tak seharusnya Prudential menahan-nahan dan mencari-cari alasan untuk tidak mencairkan dana polis Tadjudin itu ke Kamaluddin.

“Justru, Prudential seharusnya patuh pada perjanjian dan putusan pengadilan yang sah di Republik ini. Maka janganlah menahan-nahan hak warga Negara,” tegasnya.




Kamaluddin Ng juga menyebut, selama puteranya yang bernama Tadjudin itu masih hidup, tidak pernah menyebut bahwa ada anaknya lahir dari Maria Christiane.

“Malah dia ribut dengan Maria Christiane waktu itu. Tadjudin menyebut Maria Christiane memiliki kekasih pria-pria lain. Lebih dari satu orang. Dan dia meragukan, anak itu sebagai anaknya. Ya kalau memang mau dibuktikan ya silakan saja lalukan Tes DNA. Tetapi, soal hak wali waris asuransi Prudential Tadjudin itu oleh Pengadilan diputuskan ke saya,” tutur Kamaluddin.

Terkait laporan dugaan pemalsuan dokumen dan jati diri Christallyn Lee yang dilakukan Maria Christiane, Kamaluddin mengaku melaporkan Maria Christiane ke Polres Jakarta Utara. “Sudah dua kali dia dipanggil dan di-BAP. Karena dugaan pemalsuan,” ujar Kamaluddin.




Dia juga menyampaikan, semua bukti-bukti yang dimilikinya, terutama berkenaan dengan wali waris asuransi Perudentialnya Tadjudin, sudah diserahkan juga ke pihak PT Prudential Life Assurance.

“Sebab, tak ada yang saya tutup-tutupi. Kami hanya meminta hak kami diberikan oleh Prudential. Jangan dipermain-mainkan,” ujar Kamaluddin.

Sementara, Coorporate Communication PT Prudential Life Assurance, Kamelia Mohamad menyampaikan, pihaknya harus berkoordinasi terlebih dahulu untuk membahas permasalahan yang diungkapkan oleh Kamaluddin tersebut.




Nah, dari koordinasi yang dilakukan di internal Prudential, lanjut Kamelia Mohamad, Chief Customer and Marketing Officer Prudential Indonesia Luskito Hambali menyampaikan lewat Kamelia Mohamad, bahwa pihak Prudential masih menunggu putusan pengadilan mengenai wali yang sah.

“Perlu kami sampaikan, bahwa Prudential Indonesia telah menerima pengajuan klaim atas Polis (almarhum) Bapak Tadjudin selaku pemegang polis. Namun saat ini, kami sedang menunggu keputusan hukum tetap dari Pengadilan mengenai wali yang sah selaku penerima manfaat Polis. Selanjutnya, kami berkomitmen untuk melaksanakan kewajiban kami yaitu membayarkan klaim nasabah sesuai dengan prosedur dan ketentuan dalam Polis berdasarkan keputusan tersebut. Demikian penjelasan yang disampaikan Chief Customer and Marketing Officer Prudential Indonesia Luskito Hambali atas persoalan ini,” ujar Kamelia Mohamad.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan