Perkara Terorisme, Jaksa Tuntut Pak De Hukuman Penjara 15 Tahun

Perkara Terorisme, Jaksa Tuntut Pak De Hukuman Penjara 15 Tahun.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) menuntut terdakwa pelaku terorisme Syamsul Arifin SPDI alias Abu Umar alias Syarif alias Pak De dengan pidana penjara 15 tahun.

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Mukri menjelaskan, tuntutan itu dibacakan JPU pada persidangan yang digelar pada Kamis, 7 Februari 2019 lalu di PN Jakbar.

Tim JPU yang beranggotakan Jaksa Satuan Tugas Terorisme Kejaksaan Agung RI menyatakan Pak De telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Terorisme melanggar Pasal 15 junto Pasal 6 Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, sebagaimana yang telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003.

“Menuntut agar Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Syamsul Arifin. SPDI Alias Abu Umar Alias Syarif Alias Pak De dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” tutur Mukri menjelaskan kepada wartawan, di Kompleks Kejaksaan Agung, Selasa (26/02/2019).

Terdakwa yang merupakan Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Jawa Timur. Jaksa menyatakan, Pak De bersama-sama dengan Agus Satriyo Widodo Alias Abu Haidar Alias Widodo, Miftahul Munis Alias Munif Alias Zaidan Nafis, Sutrisno  Alias Pak Tris, Kristianto Alias Mas Abi alias Abu Sobri alias Abi alias Pak Kris, Muhammad Fatwa alias Abu Nafis alias Abu Ahaaf alias Adam Alias Edo, Rizky Ardian Sulanjaya Shi Alias Rizky alias Dian, Boy Arpiansyah Rukmana alias Azzamabdullah Mashuri alias Mashuri alias Huri, Damayanti alias Yanti binti Sudiono, Bety Rinawati Brojo alias Tibo alias Mbak Bet alias Habibah dan Emil Lestari alias Emil alias Umu Azka–masing-masing dilakukan penuntutan secara terpisah-pada bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Mei 2018, bertempat di daerah Sempu Batu Malang, di Dusun Goah, Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, di Pegunungan Panderman, di Kelurahan Sentul Kota Blitar, di Villa Kusuma Estate di daerah Batu Kabupaten Malang, di SMP Negeri 4 daerah Kota Probolinggo, di Ngagel Kecamatan Gubeng Surabaya, di Jalan Diponegoro Surabaya Jalan Arjuno Surabaya, di Rasunawa Lantai 5 No 16 Sidoarjo, Polrestabes Surabaya, di Perum Bandar Arung Asri Blok B/8 RT 15, Dusun Tanjung Desa Banjar Arung, Kecamatan Singo Sari, Kabupaten Malang, Jawa Timur telah melakukan pemufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme.

“Tindakan dengan cara sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau menimbulkan korban yang bersifat massal. Dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional,” tutur Mukri.

Persidangan terdakwa Syamsul Arifin. SPDI Alias Abu Umar Alias Syarif Alias Pak De berdasarkan ketentuan Pasal 85 KUHAP dan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor: 174/KMA/SK/IX/2018 tanggal 12 September 2018 tentang penunjukan Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk memeriksa dan memutus perkara pidana, sehingga dapat disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

“Terhadap tuntutan pidana tersebut, Penasihat Hukum maupun Terdakwa  Syamsul Arifin. SPDI Alias Abu Umar Alias Syarif Alias Pak De telah menyampaikan nota pembelaan atau pledoi,” ujar Mukri lagi.

Pledoi dibacakan pada persidangan hari Kamis, 14 Februari 2019. Selanjutnya, Ketua Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang menyidangkan perkara ini, mengagendakan sidang berikutnya dengan agenda putusan pada persidangan hari Kamis, 28 Februari 2019.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan