Breaking News

Peristiwa di Masyarakat Adat Sihaporas Dipelintir, Kapolres Simalungun Diminta Taati Proses Hukum Yang Benar

Ketua Umum Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) Judin Ambarita (kanan) bersama Wakil Ketua Umum Lamtoras Mangitua Ambarita (Ompu Morris) saat melaporkan persoalan mereka dan meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan KOrban (LPSK) di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. ( Foto: Istimewa ) Ketua Umum Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) Judin Ambarita (kanan) bersama Wakil Ketua Umum Lamtoras Mangitua Ambarita (Ompu Morris) saat melaporkan persoalan mereka dan meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan KOrban (LPSK) di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. ( Foto: Istimewa )

Dugaan intimidasi, pembelokan fakta, dan juga upaya menangkapi anggota Masyarakat Adat Sihaporas terus terjadi.

Bahkan, masyarakat juga sudah tidak percaya dengan sejumlah aparat kepolisian. Yang diduga hanya menjadi kaki tangan perusahaan PT Toba Pulp Lestari (TPL), yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU), di Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara.

Wakil Ketua Umum Pengurus Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), Mangitua Ambarita bergelar Ompu Morris, meminta kepada semua pihak yang masih peduli dan memiliki nurani kebenaran, untuk membantu dan menolong Masyarakat Adat Sihaporas.

“Kami minta tolong, supaya semua pihak, terutama teman-teman pers gencar meliput dan mengangkat serta mengungkap peristiwa dan proses yang sebenarnya terjadi. Sebab, saya melihat, pihak PT TPL sudah bermanuver dengan berbagai modus,” tutur Mangitua Ambarita, Rabu (16/102/2019).

Terbukti, selain dugaan membayar oknum aparat kepolisian sebagai kaki tangannya, PT TPL juga memecah belah warga dan desa-desa tetangga.

“Konkritnya, saya lihat di FaceBook atas nama Andar Napitu. Dia adalah anggota masyarakat Kampung Gunung Pariama, yakni kampung tetangga Desa Sihaporas. Dia diundang oleh pihak PT TPL untuk mengadakan semacam pelatihan,” ujar Mangitua.

Nah, lanjut dia, patut diwaspadai bahwa PT TPL dan pihak-pihak masyarakat hendak dimanfaatkan untuk diadudomba.

“Nah, patut kami curiga bahwa pihak TPL akan memanfaatkan mereka-mereka yang tidak sepaham dengan kami dalam perjuangan Lamtoras ini. Untuk hal-hal yang dapat merugikan pihak Lamtoras, atau juga sebagai ajang show force bagi TPL kepada kami,” ujarnya.

Karena itu, Mangitua Ambarita berharap, pers dan seluruh masyarakat tidak menutup mata dengan sepak terjang PT TPL dan kaki tangannya, yang kerap melakukan tindakan-tindakan intimidatif, terror, bahkan tak segan membeli aparat dan hukum itu sendiri, untuk menghabisi masyarakat adat di wilayah itu.

Terkait penjelasan Kapolres Simalungun AKBP Heribertus Ompusunggu mengenai persoalan yang dihadapi Masyarakat Ada Sihaporas, Mangitua Ambarita mengatakan, sebaiknya Polisi bersikap obyektif, tidak berat sebelah. Dan jangan menutup keadilan bagi masyarakat.

“Dalam memberikan keterangan, hendaknya Kapolres mendengarkan dan menggali dari kedua belah pihak. Jangan sepihak saja,” tuturnya.

Menurut Mangitua Ambarita, sangat sedih rasanya diperlakukan dengan intimidatif dan diskriminatif oleh aparat kepolisian. Takkan mungkin Warga Sihaporas datang lagi melapor ke Polres, sebab pelapor yang jadi korban malah dituduh sebagai pelaku dan ditangkap.

“Melihat dua orang saudara kita yang tadinya hendak memberikan keterangan dan kesaksian di Polres, malah langsung diringkus dan ditahan. Tentulah warga masyarakat takut ditangkap juga, makanya tidak datang lagi melapor,” ungkapnya.

Terkait pemukulan terhadap anak kecil yang dilakukan oleh pekerja PT TPL, menurut Mangitua Ambarita, Kapolres Simalungun telah dengan sengaja berpihak kepada pihak PT TPL. Sebab, sesungguhnya anak itu dipukul, dan sudah dibawa ke Puskemas di Simalungun.

Jika Kapolres Simalungun menantang orang tua si anak untuk melapor lagi, lanjut Mangitua, sudah tidak mau, dan sudah terlanjur tidak percaya dengan kinerja Polres Simalungun.

“Kemudian masalah pemukulan anak juga harus diproses dengan benar. Saat ini orang tua si anak  bagaimana mau memberi kesaksian? Apa jaminannya dia melapor lantas tidak malah dikriminalisasi dan diringkus?” ujarnya.

Dugaan adanya provokasi oleh warga masyarakat Sihaporas sebagaimana dituduhkan oleh Kapolres Simalungun, lanjutnya, sangat diskriminatif dan bersengaja memojokkan warga Masyarakat Adat Sihaporas.

Mengenai pernyataan kepemilikan tanah Masyarakat Adat Sihaporas, Kapolres Simalungun AKBP Heribertus Ompusunggu disebutnya asal-asalan. Polisi, seperti Heribertus Ompusunggu seharusnya menggali sejarah dan informasi mengenai tanah itu dari turun temurun.

“Pak Kapolres Simalungun itu menyampaikan statement tanpa konfirmasi kepada kedua belah pihak. Kami, Masyarakat Adat Sihaporas, Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita sudah di lahan itu sebelum PT Inti Indorayon Utama (IIU) atau yang sekarang berganti nama dengan PT TPL ada,” ujar Mangitua Ambarita.

Mangitua Ambarita menegaskan, Kapolres Simalungun AKBP Heribertus Ompusunggu beserta jajaran, dan seluruh masyarakat perlu tahu asal-muasal dan sejarah Masyarakat Adat Sihaporas di lokasi itu. Sehingga, dengan mengetahui dan mengerti posisi, maka penyelesaian persoalan akan obyektif. Tidak saling menjustifikasi.

Mangitua melanjutkan, Masyarakat Adat Sihaporas yang saat ini mendiami dan memiliki hak ulayat di wilayah itu adalah Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita. Keturunannya ada tiga. Yakni Ompu Sohailoan, yang keturunannya bermukin di Sihaporas Aek Batu.

Kedua, Ompu Jaipul, yang keturunannya bermukim di Sihaporas Lumban Ambarita, Sihaporas Bayu dan Sihaporas Bolon.

Ketiga, Ompu Sogara, yang keturunannya bermukim di Motung, tidak jauh dari lokasi yang dipersengketakan saat ini.

“Nah, yang datang membawa mobil yang dibilang Kapolres Simalungun itu adalah Keturunan Ompu Sogara yang bermukim di Motung, Tobasa. Mereka sudah 7 generasi berada di sana. Saking rindunya Ompu Sogara dan keturunannya kembali ke Sihaporas, maka beliau minta dan mewasiatkan agar jasadnya dikubur dengan posisi berdiri dan menghadap ke Sihaporas,” ungkap Mangitua Ambarita.

Tugu Ompu Sogara, lanjutnya, dibangun dan diresmikan pada Oktober 2017. Selama ini, sejak tahun 1974-1977, proses pembangunan Tugu Ompu Mamontang Laut di Sihaporas dilakukan.

“Setiap ada ritual adat dan pesta, saling mengundang, antara Ambarita Sihaporas dan Motung. Nah, keturunan ompung ini pun bersatu padu dengan Lamtoras memperjuangkan tanah adat Sihaporas,” tuturnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*