Breaking News

Peredaran Obat dan Makanan Kian Tak Terkontrol, Masyarakat Kudu Ekstra Hati-Hati Konsumsi Minuman Energi

Peredaran Obat dan Makanan Kian Tak Terkontrol, Masyarakat Kudu Ekstra Hati-Hati Konsumsi Minuman Energi. Peredaran Obat dan Makanan Kian Tak Terkontrol, Masyarakat Kudu Ekstra Hati-Hati Konsumsi Minuman Energi.

Masyarakat diingatkan untuk ekstra hati-hati belanja obat-obatan, minuman energi bahkan minuman beralkohol.

Selain itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta aparatur pemerintah beserta aparat penegak hukum lainnya diharapkan bertindak tegas kepada pembuat dan penjual bahan makanan dan minuman yang membahayakan nyawa manusia.

Arif, salah seorang warga Jakarta mengakui harus bertindak ekstra hati-hati membeli dan mengkonsumsi makanan, obat dan atau minuman yang beredar di pasaran.

“Soalnya, saya lihat sudah tidak terkontrol makanan dan minuman-minuman, maupun obat-obatan yang bisa bebas diperjualbelikan di pasaran. Banyak yang mengandung zat-zat berbahaya. Tak sedikit yang juga mengandung zat adiktif, seperti narkoba. Itu sangat berbahaya bagi manusia, terutama buat anak-anak dan kaum ibu,” tutur Arif saat berbincang, Rabu (14/08/2019).

Menurut pria asal Jawa Barat ini, pada saat Hari Raya Haji atau idul adha kemarin, teman-temannya banyak mengkonsumsi daging sembelihan. Bukan hanya makan daging sembelihan, menurut dia, minum-minuman berbagai jenis pun disediakan.

Bahkan, beberapa minuman alkohol juga dijadikan sebagai minuman untuk membakar lemak yang dikonsumsi.

Anehnya, tak jarang, konsumsi minuman itu dioplos dengan jenis menuman lainnya. Katanya supaya lebih nendang dan oke.

“Ada minuman energi juga, seperti Kranting Daeng, M 150, minuman botol, minuman kaleng, minuman kotak. Macam-macam deh,” ujarnya.

Pria muda lulusan perguruan tinggi di Jakarta ini mulai menapaki bisnis kecil-kecilannya di Ibukota. Selain sesekali nongkrong dan bersosialisasi dengan teman-temannya, Arif juga mengaku sesekali mengkonsumsi minuman beralkohol. “Sejak SMA sih sesekali minum minuman beralkohol,” katanya.

Namun, dirinya juga mengingatkan, sudah banyak kejadian yang mengenaskan karena minum-minuman keras dengan dicampur bahan-bahan berbahaya.

“Di kampung saya, beberapa tahun lalu, 7 orang tewas karena minum minuman oplosan. Pas ada hajatan. Pesta pernikahan kawan di kampung,” ungkapnya.

Menurut Arif, minuman jenis anggur merah Cap Orang Tua, anggur Cap Rajawali, Arak, ciu, Arak Bali, Bir, Scot, Wishkey dan berbagai merek minuman beralkohol lainnya sering menjadi incaran masyarakat untuk diminum.

Minuman-minuman itu dioplos. Dicampur dengan jenis minuman lain. Misalnya, anggur merah dicampur dengan minuman energi seperti Kratingdaeng atau M150.

Ada juga yang mencampurnya dengan lotion anti nyamuk seperti Autan dan sejenisnya. Ada juga yang mencampur minuman dengan bahan pembersih lantai atau bahan nge-pel.

“Biasanya, tidak puas minum lewat botol. Minuman dituangkan semua di dalam baskom, diaduk dengan bahan-bahan oplosannya. Dan diminum beramai-ramai, sambil bersendagurau. Minuman dan bahan-bahan itu kan banyak di pasar. Gampang nyarinya kok. Banyak dijual di warung-warung juga,” katanya.

Memang, lanjut Arif, hampir semua suku bangsa yang tinggal di wilayah Indonesia gemar minum minuman keras. Bahkan, hampir semua suku bangsa itu memiliki jenis minuman khas lokalnya masing-masing.

“Dan itu rata-rata mengandung alkohol. Bisa bikin mabuk. Tuak misalnya, hampir semua daerah ada jenis tuaknya masing-masing,” tuturnya lagi.

Martin, mahasiswa rantau asal Bengkulu, mengaku banyak juga konsumen minum-minuman berenergi, dan alkohol di Tanah Air.

Bahkan, kata dia, baru-baru ini dia baru mengetahui kalau jenis obat batuk Komix bisa bikin mabuk. “Ada kawan minum. Dicampur denganKomix. Mabok,” ujarnya.

Bukan hanya untuk minuman, menurut pria semester akhir Fakultas Hukum di salah satu Universitas ternama di daerah Jakarta Timur itu, makanan dan obat-obatan juga peredarannya kian banyak.

“Saya tak tahu apakah itu dikontrol atau memang disengaja dibiarkan begitu saja. Soalnya kian banyak dan tidak sedikit ternyata yang mengandung zat-zat berbabahaya,” ujar Martin.

Bahkan, untuk makanan bayi dan anak-anak kecil, tidak sedikit yang mengandung bahaya. Jikalau BPOM dan pemerintah diam saja, menurut dia, maka masyarakat akan jadi korban terus menerus.

“Ancaman kehilangan nyawa loh. Baru-baru ini, bayangkan pembalut pun ternyata ada bahan yang bikin mabok. Kacau sekali ya,” ujar Martin.

Pengadaan Obat dan Vaksin Pun Dikorupsi

Bukan hanya ditataran konsumsi yang banyak menyebabkan masalah. Membahayakan jiwa. Untuk pengadaan obat, vaksin dan perbekalan kesehatan pun sudah dimulai dengan cara-cara curang dan korup.

Hal ini diyakini akan berpengaruh pada proses dan pemasaran obat, vaksin dan perbekalan kesehatan itu di masyarakat.

Buktinya, aparat penegak hukum pun kewalahan mengusut korupsi pengadaan obat, vaksin dan perbekalan kesehatan, yakni penyediaan obat AIDS dan premenstrual syndrome (PMS).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Mukri menuturkan, pihaknya masih berjibaku mengusut dugaan tindak pidana korupsi pengadaan obat AIDS dan PMS yang terjadi di Kementerian Kesehatan itu. Pengadaan itu diduga bermasalah pada tahun anggaran 2016.

Jadi, diterangkan Mukri, pada tahun 2016, Direktorat Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan pada Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, melaksanakan pengadaan Obat, Vaksin, dan Perbekalan Kesehatan berupa penyediaan obat untuk penyakit AIDS dan PMS. “Anggarannya dari APBN. Itu tahan 2,” ujar Mukri.

Kemudian, perusahaan yang menjadi penyedia barang itu adalah PT Indofarma Global Medika. Nilai kontraknya sebesar Rp. 85.197.750.000,-.

Pengadaan tersebut dilaksanakan dengan mekanisme pelelangan umum. Dalam pelaksanaan pengadaan obat AIDS dan PMS itu diduga terjadi penyimpangan. “Dengan tidak mempedomani Peraturan-Peraturan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah,” ujar Mukri.

Hingga Selasa, 13 Agustus 2019, lanjutnya, penyidik di Kejaksaan Agung sudah memeriksa lagi 4 orang saksi dalam kasus itu.

Mereka yang diperiksa itu adalah Breni Setyoko.  Breni adalah Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Barang yakni obat dan vaksin padaKemenkes. Dia diperiksa berkaitan serah terima barang obat Aids dan PMSdari PT Kimia Farma Trading & Distribution kepada Kementerian Kesehatan.

Kedua, Dina Cahyanita. Dina adalah Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Barang berupa obat dam vaksin. Dina diperiksa terkait dengan serah terima barang obat Aids dan PMS dari PT Kimia Farma Trading & Distribution kepada Kementerian Kesehatan.

Selanjutnya ada DP Yettyningsih. Yettyningsih juga Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Barang berupa obat dan vaksin Kemenkes. Diadiperiksa terkait dengan serah terima barang obat Aids dan PMS dari PT. Kimia Farma Trading & Distribution kepada Kementerian Kesehatan.

Dan keempat adalah Suzie Rengganis. Susi merupakan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan Barang jenis obat dan vaksin Kemenkes.

“Sama, dia juga diperiksa terkait dengan serah terima barang obat Aids dan PMS dari PT Kimia Farma Trading and Distribution kepada Kementerian Kesehatan,” ujar Mukri.

Dia berharap, pengusutan kasus ini segera tuntas. Dan kasus-kasus sejenis tidak akan terulang lagi. Sebab, sangat berbahaya bagi nyawa dan kehidupan masyarakat. “Kita akan kejar terus dan usut sampai tuntas,” ujar Mukri.

BPOM Rutin Lakukan Pengawasan dan Pengujian

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Mayagustina Andarini mengatakan, pihaknya selalu melakukan kontrol terhadap peredaran obat, makanan dan minuman-minuman serta bahan-bahan kosmetik.

Proses penelitian dan pengujian juga dilakukan oleh BPOM. Seperti pada minuman berenergi jenis Krantingdaeng dan M150.

Menurut Maya, hasil pengawasan BPOM, tidak ditemukan hal yang membahayakan dari bahan maupun zat di dalam minuman itu.

“Sampling dan pengujian terhadap minuman berenergi selama ini tidak mengandung kandungan zat adiktif atau narkoba,” tutur Mayagustina.

Maya menerangkan, sesuai data registrasi, produk minuman berenergi mengandung taurin, kafein dan berbagai vitamin dengan disertai label peringatan, Hindari penggunaan pada anak-anak wanita hamil atau menyusui dan  Tidak melebihi aturan pakai yang telah dianjurkan.

Lebih lanjut, Maya menerangkan, berdasarkan literature, disebutkan bahwa kafein memiliki efek farmakologis sebagai stimulan susunan saraf pusat yang dapat digunakan untuk mengurangi kelelahan fisik dan mengembalikan kewaspadaan.

“Sedangkan efek dari taurin adalah untuk mendukung perkembangan sistem syaraf pusat,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*