Breaking News

Perdagangan Anak Lewat Media Sosial, Menteri Yembise Inginkan Pengusutan Jaringan Sampai Tuntas

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak, Yohana Susana Yembise inginkan aparat hukum usut tuntas perdagangan anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak, Yohana Susana Yembise meminta aparat Kepolisian Republik Indonesia membongkar tuntas perdagangan anak yang dijadikan korban sebagai korban bagi para predator seks sesame jenis. Perdagangan anak yang dilakukan lewat media sosial itu harus diusut sampai tuntas.

 

Yembise mengatakan, dirinya sudah berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri agar kasus ini diusut sampai tuntas.

 

“Jadi sedang diselidiki, saya akan mendampingi terus Bareskrim. Sehingga kita mungkin bisa menguak kembali jaringan kasus sperti ini, karena melibatkan anak-anak dan akhirnya menjadi korban,” ujar Yohana di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (1/9/2016).

 

Menurut Yohana Yembise, sebagian besar korban perdagangan anak adalah melalui modus medsos, luasnya jaringan pergaulan di media sosial dapat membuat kebanyakan anak di bawah umur cepat tergiur dengan iming-imingi yang ditawarkan.

 

“Dan kami tidak tau berapa banyak anak-anak yang sudah terlibat. Tapi tahun lalu atau bulan lalu, saya sempat katakan bahwa sudah ada sekitar 3000-an anak masuk dalam jaringan Gay,” ungkapnya.

 

Untuk itu, Yohana meminta semua kementerian dan lembaga yang berkaitan dengan perempuan dan anak, untuk menjaga dan melindungi serta mencegah setiap anak dari kejahatan perdagangan orang.

 

“Saya pikir dengan adanya kasus ini, itulah saatnya kita masuk dan berusaha untuk mencegah supaya jangan sampai menjalar lagi kepada anak-anak kita, karena Negara harus menjaga dan melindungi mereka,” tandasnya.

 

Dia juga meminta, agar semua pihak mengambil langkah dalam pencegahan perdagangan anak supaya tidak bertambah luas samapai ke daerah-daerah.

 

“Kami ada koordinasi sampai ke daerah-daerah, kepala-kepala badan provinsi sampai kabupaten kota. Kami juga punya pusat pelayanan terpadu perempuan dan anak, dan juga kami bekerja sama dengan unit PPA yang ada disemua kepolisian baik pusat sampai dengan daerah,” papar Yohana.

 

Selain itu, dikatakan wanita yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KNPI Kabupaten Paniai itu, banyak laporan dari daerah-daerah berbagai jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak, banyak tindak pidana perdagangan orang.

 

“Ini kebetulan yang terlapor, tetapi banyak yang terjadi di daerah-daerah yang sudah melaporkan bagaimana mereka menangani berbagai bentuk jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan juga tindak pidana perdagangan orang. Dimana perempuan dan anak-anak banyak korban,” ungkapnya.

 

Yohana Yembise menyampaikan, Kemen PPPA berperan penuh untuk mencegah supaya tidak terjadi kekerasan. Melalui badan-badan pemberdaya perempuan, sosialisasi dan advokasi sudah dilakukan.

 

“Tugas kami adalah untuk mencegah tidak terjadi kekerasan. jadi sosialisasi, advokasi kami tetap berjalan terus melalui badan-badan pemberdaya perembuan,” ucapnya.

 

Selain itu, Kemen PPPA, juga bekerjasama dengan organisasi masyarakat, Pusat Studi Wanita Seluruh Indonesia, dan perguruan-perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Serta melibatkan tokoh-tokoh adat dan juga tokoh masyarakat.

 

“Organisasi perempuan yang terlibat atau yang sangat prihatin terhadap perempuan dan anak, kami libatkan sekarang di kementerian untuk membantu,” pungkasnya.

 

Pelaku perdagangan anak untuk sesama jenis AR (41) sudah di tangkap Bareskrim Polri pada Selasa 30 Agustus 2016. Saat itu penangkapan terjadi di sebuah hotel di kawasan Cipayung Jakarta Timur.

 

Melalui Media Sosial (Medsos), AR menjual anak-anak tersebut dengan cara memajang foto-foto korban di akun facebooknya dengan tarif yang telah ditentukan.(Jimmi)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*