Breaking News

Penipuan Pakai Modus Rekrutmen Pegawai PT Pertamina Lewat Medos, Polisi Diminta Segera Memburu Pasangan Kumpul Kebo Fitri dan Havil

Penipuan Pakai Modus Rekrutmen Pegawai PT Pertamina Lewat Medos, Polisi Diminta Segera Memburu Pasangan Kumpul Kebo Fitri dan Havil. Penipuan Pakai Modus Rekrutmen Pegawai PT Pertamina Lewat Medos, Polisi Diminta Segera Memburu Pasangan Kumpul Kebo Fitri dan Havil.

Masyarakat yang menjadi korban penipuan dengan berbagai modus mempertanyakan respon aparat penegak hukum atas laporan mereka.

Selain tampak kurang digubris, aparat kepolisian misalnya, sering tidak mau tahu dengan persoalan yang dilaporkan oleh institusi Bhayangkara itu.





Riyan Saputra, salah seorang korban penipuan bermodus rekrutmen pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Pertamina lewat media sosial (Medsos), juga masih ditelantarkan.

Laporannya yang sudah dimasukkan ke Polres Depok, Jawa Barat, pada Jumat, 5 Juli 2019. Riyan, kelahiran Jakarta, 29 Juli 1993 itu melaporkan sendiri dugaan penipuan yang dialaminya.

“Sampai sekarang belum tahu bagaimana tindak lanjut laporan saya. Sudah saya laporkan ke Polres Depok. Belum ada respon,” ujar Riyan Saputra, Kamis (11/07/2019).





Riyan melaporkan dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan, sebagaimana dalam Pasal 378 KUHP.

“Banyak korbannya. Saat ini, saya bersama tujuh orang lainnya yang juga korban, kami berdelapan orang, sedang menantikan proses apa yang akan dilakukan terhadap pelaku penipuan yang menilep uang kami itu,” tutur Riyan lagi.

Dia menceritakan, awalnya, dirinya yang masih bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai operator komunikasi, sedang membuka FaceBook-nya.





Riyan yang juga berprofesi sebagai Model Freelance  di Jakarta itu, melihat ada informasi di wall temannya, teman sekelasnya sewaktu SMA yang bernama Fitri Than, yang bernama aslinya Fitri Wahyuni.

“Pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2019, saya membuka facebook, karena sudah lama tidak aktif di media tersebut. Sekalian menyapa teman-teman lama yang ada di luar kota. Saat sedang online sekilas saya melihat status teman saya akunnya yang bernama Fitri Than, nama aslinya Fitri Wahyuni. Dia teman SMA, satu kelas dulu,” tutur Riyan.

Statusnya berbunyi; Masih ada slot untuk karyawan pertamina BUMN. Bantu teman cari meja kosong, untuk admin patra 2, mungkin ada yang minat bisa chat 087808382930. Minimal D3/S1.





Membaca status itu, Riyan pun tertarik dan mencoba komunikasi lewat inbox, serta meninggalkan nomorhenpon-nya agar bisa dihubungi dan saling berkomunikasi menindaklanjuti informasi tersebut.

Setelah dihubungi, Fitri memberikan nomor telepon seseorang bernama Muhammad Bisri Havil. “Fitri Wahyuni menyarankan untuk menghubungi pacarnya bernama Muhammad Bisri Havil. Enggak tahu pacaran atau sudah menikah, mereka satu rumah, satu kos-an, kumpul kebo kali. Jadi, menurut Fitri, Havil yang lebih mengetahui tentang seluk beluk mengenai pekerjaan di Pertamina tersebut adalah si Muhammad Bisri Havil serta meninggalkan kontaknya,” tuturnya.

Singkat cerita, Riyan pun menghubungi Muhammad Bisri Havil untuk memastikan mengenai lowongan pekerjaan di Pertamina tersebut.





Respon pun sangat cepat, Havil langsung merespon chatting, dengan saat humble Havil memperkenalkan diri dan mengaku sebagai Operasional Niaga di PT Pertamina.

Havil juga menjelaskan mengenai mekanisme alur masuknya karyawan baru jika ingin bergabung melalui Human Resource Development (HRD) Pertamina secara langsung.

Havil pun meminta untuk mentransferkan sejumlah uang terlebih dahulu ke nomor rekening pribadi  di BCA dengan nomor rekening 0953822455 a/n Muhammad Bisri Havil.





“Dia meminta uang sebesar Rp 6 juta, tanggal 27 Januari 2019, sebagai uang pangkal. Katanya, itu sebagai bukti keseriusan kita bergabung di Pertamina,” tutur Riyan.

Beberapa hari kemudian Muhammad Bisri Havil menginformasikan bahwa Surat Keputusan (SK) akan segera turun pada 10 Februari 2019. Namun masih ada sejumlah uang yang harus segera dibayarkan.

“Dia kembali meminta uang sebesar Rp 10 juta pada 01 Februari 2019. Katnya, Pihak HRD meminta uang tersebut atas desakan dari manager langsung untuk segera di lakukan proses pemberkasan karyawan baru,” beber Riyan.





Riyan pun menyanggupi mentransfer uang itu ke nomor rekening pribadi beliau BCA dengan nomor rekening 0953822455 a/n Muhammad Bisri Havil.

Namun, hingga tanggal yang telah di tentukan yakni 10 Februari 2019, tidak kunjung bekerja dan SK yang di janjikan tidak ada.

“Havil beralasan, SK masih diproses, disuruh menunggu karena adanya pemunduran pengeluaran tanggal SK menjadi 15 Maret 2019.  Menurut Havil, pengunduran waktu penerimaan itu dilakukan resmi oleh Human Resource Development (HRD) Pertamina. Saya pun bersedia menunggu,” ujarnya lagi.





Dalam proses menunggu, Riyan dihubungi lagi oleh Havil. Havil menginformasikan untuk mentransfer yang terakhir sisa kekurangan sebelum bergabung pada secara resmi di Pertamina. Komunikasi itu berlangsung pada pukul 15.58 WIB,  tanggal 15 Februari 2019.

Riyan diminta mengirimkan uang sebesar Rp 5.800.000,- dengan alasan untuk meluluskan test medical check-up,tanpa harus test kesehatan. Uang tetap dikirim ke nomor rekening pribadi Havil di BCA dengan nomor rekening 0953822455 a/n Muhammad Bisri Havil.

Pada tanggal 15 maret 2019, Riyan menanyakan ke Havil apakah sudah turun SK dan apakah dirinya sudah siap bekerja di Pertamina.





Havil menjawab ada kesalahan informasi dari pihak HRD Pertamina, bahwa penerimaan karyawan di undur kembali.

“Saya kecewa dengan selalu di mundurnya tanggal yang telah di janjikan, selalu di luar dari kesepakatan yang telah di janjikan oleh Muhammad Bisri Havil,” ujar Riyan.

Karena menunggu terlalu lama, Riyan memutuskan untuk kembali ke dunia model. Namun Havil yang mengetahui hal itu menyatakan tidak setuju.

Sebab, jika Riyan kembali sebagai model, maka akan banyak media massa yang akan meliputnya.





“Saya pun mempunyai alasan sendiri bahwa selama saya belum bekerja di pertamina secara resmi saya tetap menjalankan profesi saya sebagai model,” ujarnya.

Karena tidak kunjung kerja, Muhammad Bisri Havil  kembali menjanjikan setelah Pemilu Presiden pasti akan bekerja karena perusahaan Pertamina.

Menurut Riyan, Havil beralasan pengunduran rekrutmen dirinya berpengaruh suasana pemilu yang berlangsung. Setelah pemilu 2019, Riyan juga tak kunjung dipanggil untuk bekerja di Pertamina. Havil masih menjanjikan menunggu sampai Idul Fitri 2019.





“Kenyataan, hingga saat ini saya tidak bekerja di Pertamina, dan semua yang dijanjikan Havil tidak terbukti. Saya pun melaporkan hal ini ke Polresta Depok pada 05 Juli 2019.  Saya berharap, sangat berharap, aparat segera menindak lanjuti kasus penipuan yang saya alami. Hingga saat ini Muhammad Bisri Havil dan Fitri Wahyuni masih buron,” tutur Riyan.

Riyan mengingatkan, meskipun kenal dengan seseorang di media social, hendaknya tidak mudah percaya dengan berbagai tawaran dan iming-iming yang ditawarkan. “Saya kapok, tidak akan mudah percaya lagi dengan medsos. Meski teman sendiri, teman SMA sendiri, satu kelas lagi, bisa dengan tega menipu,” ujarnya.

Penipu Tawarkan Kerja di PT Pertamina Sejak Bulan Puasa

Hal yang sama diakui oleh, Syafira Azzahra. Perempuan kelahiran Bogor, 21 Juli 2000 ini juga kena tipu pasangan Fitri Wahyuni alias Fitri Than dan Muhammad Bisri Havil.





Perempuan lajang yang akrab disapa Firaa ini juga telah memberikan uang kepada Muhammad Bisri Havil supaya bisa masuk sebagai pegawai di PT Pertamina.

“Saya juga salah seorang yang kena tipu oleh Muhammad Bisri Hafil. Saya direkomendasikan oleh Ilham, salah seorang teman, yang juga korban,” tutur Firaa, Kamis (11/07/2019).

Dia berharap, para pelaku segera ditangkap dan dijatuhi sanksi berat. Muhammad Ilham Maulana, juga berharap agar Muhammad Bisri Havil dan Fitri Wahyuni alias Fitri Than segera ditangkap dan diproses hukum.





Pria kelahiran Bogor, 17 November 1999 ini mengaku sudah lebih dari 2 bulan dirinya menunggu janji-janji yang diberikan Havil untuk masuk sebagai karyawan di PT Pertamina.

“Saya sudah transfer uang ke dia. Ada yang juga saya berikan langsung uangnya,” ujar Ilham.

Havil menjanjikan, Ilham dan kawan-kawannya akan masuk sebagai pegawai di PT Pertamina sebelum lebaran kemarin. “Saya ditawari oleh Havil itu sebelum puasa,” ujar Ilham.

Koordinator Litigasi Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) Haris Budiman menyampaikan, para korban harus melaporkan semuanya modus dan juga bukti-bukti janji maupun bukti transfer uang.





Dia juga berharap, aparat kepolisian bisa segera bergerak dan menindaklanjuti laporan yang mereka lakukan ke pihak Kepolisian.

“Modus penipuan dengan berbagai tawaran sangat marak kini lewat media sosial dan dunia maya. Selain dibutuhkan langkah cepat aparat kepolisian untuk menindaklanjuti laporan masyarakat, masyarakat juga harus waspada dan jangan cepat percaya dengan iming-iming atau janji-janji,” tutur Haris Budiman.

Haris Budiman juga menekankan, proses hukum harus dilakukan, demi kepastian hukum dan juga untuk menindaklanjuti berbagai tindak pidana dan penipuan yang marak terjadi di media social juga.





“Perlu upaya dan regulasi lainnya, yang bisa mempercepat pengusutan penipuan di media social, seperti langkah pencegahan dan penyuluhan dari aparat penegak hukum kepada masyarakat di medsos,’ ujar Haris Budiman.

Aparat Kepolisian Wajib Memburu Pelaku

Ketua Lembaga Bantuan Hukum Benang Biru (LBH Benang Biru) Raja Marolop Daniel Sitorus menyampaikan, laporan mengenai berbagai modus penipuan yang diawali dengan iming-iming dan tawaran-tawaran di media sosial harus ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.

Selain sudah menjadi kewajiban, aparat penegak hukum, seperti kepolisian, saat ini sudah canggih dan mampu melacak keberadaan pelaku penipuan.





“Tidaklah sulit menindaklanjuti. Alat sudah canggih, modus juga sudah dikuasai, mestinya bisa cepat direspon,” tutur Raja Marolop.

Dia menerangkan, pihaknya pun tengah menangani dugaan tindak pidana penipuan lewat medsos. Sebanyak 44 korban penipuan dengan iming-iming akan bepergian ke Eropa selama 14 hari. Pelakunya adalah Rianti Lestari Simbolon yang mengaku sebagai Pemilik Bolon Travel and Tours.

“Kami sudah melaporkannya ke Polda Metrojaya pada rabu 3 Juli 2019. Kami berharap, aparat juga bisa segera bertindak,” tutur Raja.





Para korban, lanjut dia, kebanyakan orang tua usia lanjut, pensiunan dan juga kaum ibu yang berkenalan dengan pelaku lewat media social.

“Karena sama-sama dekat, ada yang tetanggaaan, keluarga, para korban menginformasikan kepada kawan dan keluarganya yang lain, agar bepergian bersama ke Eropa,” tuturnya.

Rupanya mereka tidak pernah jadi berangkat, sebab yang dilakukan Rianti Lestari Simbolon itu tidak pernah terbukti.

“Harusnya para ibu dan para kakek dan nenek yang sudah mentransfer uang sebagai biaya perjalanan ke Eropa itu dijadwalkan berangkat pada Minggu 30 juni 2019 lalu, faktanya sampai kini tidak jadi berangkat. Kasihan sekali. Rianti Lestari itu tidak beradab, bayangkan jika korbannya itu ibunya, atau bapaknya atau saudara-saudaranya, kok tega banget,” beber Raja.





Atas laporan mereka, Penyidik Polda Metrojaya yang menangani langsung laporan itu, masih melakukan proses verifikasi dan juga pengembangan, dan pengumpulan bukti-bukti.

Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPK) Polda Metrojaya, Kompol Harlin Pangaribuan menyampaikan, pihaknya masih meneliti dan melakukan penelusuran.

“Sepuluh hari ini, semua berkas dan bukti dan informasi akan kita kumpulkan, dan harus dilengkapi,” tutur Kompol Harlin Pangaribuan.(JR)

Nomor Kontak Kuasa Hukum, LBH Benang Biru

Raja Marolop Daniel Sitorus: 082111367877

Haris Budiman: 081347630224

1 Comment on Penipuan Pakai Modus Rekrutmen Pegawai PT Pertamina Lewat Medos, Polisi Diminta Segera Memburu Pasangan Kumpul Kebo Fitri dan Havil

  1. dunia sekarang semakin menggila ya, padahal temen sendiri itu… Parahh

Leave a comment

Your email address will not be published.


*