Penipuan Massal Ala GCG Asia, Puluhan Ribu Orang Indonesia Jadi Korban, Polisi Jangan Main Mata Dengan Pelaku

Penipuan Massal Ala GCG Asia, Puluhan Ribu Orang Indonesia Jadi Korban, Polisi Jangan Main Mata Dengan Pelaku.
Penipuan Massal Ala GCG Asia, Puluhan Ribu Orang Indonesia Jadi Korban, Polisi Jangan Main Mata Dengan Pelaku.

Korban penipuan dengan modus forex  dan fintech beramai-ramai meminta penyidik kepolisian melakukan proses hukum secara Transparan. Jangan main mata dengan pelaku, dan jangan mengambil keuntungan pribadi dari penanganan kasus yang melibatkan Pialang Guardian Capital Group (GCG) Asia itu.

Wiriawan, salah seorang nasabah Asuransi Prudential, yang menjadi korban pialang Capital Group (GCG) Asia, di Jawa Timur, mengungkapkan, rupanya, GCG Asia ini memiliki basis terbesar di Surabaya. Untuk wilayah Indonesia, Surabaya leading dengan nasabah terbanyak. Totalnya bisa mencapai 34 ribu nasabah atau member. Bisnis bodong ini dimotori pasangan suami isteri selaku leader yakni David Hendrawan dan Rinawati.

“Saya kenal David Hendrawan dan Rinawati sebagai agent Prudential. Saya memang nasabah Prudential. Namun, Rina da David memanfaatkan nasabah Prudential di sejumlah wilayah dan diiming-imingi dapat duit ke GCG Asia,” ungkap Wiriawan, Kamis (03/10/2019).

David Hendrawan diperkirakan juga merupakan leader dari pelaku lainnya, yakni Gunawan Wijaya yang sudah ditahan di Polda Metro Jaya. Gunawan Wijaya tadinya ditahan bersama para Money Changer bodong. Namun para pemilik money changer yang kebanyakan berlokasi di Bangka Belitung itu dilepas lagi oleh penyidik Polda Metrojaya. Wilayah jaringannya termasuk Jakarta, Pontianak, Tanjung Pinang, Medan, Bali, Bandung dan wilayah lainnya.

Hingga kini, lanjut Wiriawan, ribuan korban penipuan GCG Asia di Surabaya dan wilayah lain masih berupaya mencari keadilan.

Dia mengatakan, pasangan suami isteri David Hendrawan dan Rinawati merupakan Top Leader GCG Asia. Keduanya  ternyata juga merupakan Agen Perusahaan asuransi ternama Prudential. Sehingga dengan  memanfaatkan jaringan nasabah Prudential yang sudah ada,  dengan mudah untuk merekrut member-member baru dalam permainan ponzi sistem piramida berkedok trading forex tersebut.

Sebagaimana yang dialaminya, Wiriawan mengatakan, dengan membonceng nama besar asuransi Prudential, yang mempunyai jaringan nasabah yang besar di Indonesia, David Hendrawan dan Rinawati sebagai Top Diamond Leader GCG Asia mampu merekrut puluhan ribu nasabah atau member hanya dalam waktu 3 bulan. Dengan total penjualan diperkirakan 126 juta Dolar Amerika atau setara dengan 1,8 triliun rupiah.

Hingga kini masyarakat yang terdiri dari 5 orang telah melaporkan ke Polda Jatim dengan kerugiannya berkisar sebesar Rp 12 miliar.

“Bagaimana kalau  sampai puluhan ribu yang melaporkan? Besar sekali angka yang diraup mereka bukan?” tantangnya.

Para korban berharap, Pemerintah membentuk Tim Satgas yang dapat dengan cepat dan sigap mengambil tindakan untuk menyelamatkan dana masyarakat sebesar belasan triliun rupiah. Sebelum dana tersebut disembunyikan atau dikirimkan para Top Leader tersebut keluar negeri melalui black market money changer (MC).

Kasus ini merupakan bola panas yang bergulir menjadi di tingkat Nasional, dengan menelan korban puluhan ribu yang bertebaran di beberapa wilayah lain.

“Dan hebatnya sampai kini masih beroperasi dikarenakan lambatnya pihak aparat menjerat ara pelakunya,” ujar Wiriawan.

Hampir sama, Bambang Djaya, warga Jakarta, yang menjadi salah seorang korban GCG Asia, mengakui. Kondisi para korban di daerah lain hampir sama dengan para korban yang melaporkan di Polda Metrojaya. “Korban-korban lain juga menuntut agar uangnya segera dapat dikembalikan,” ujar Bambang Djaya, di Polda Metrojaya, Kamis (3/10/2019).

Mereka telah melaporkan Rinawati sebagai Leader GCG Asia Surabaya ke Polda Jawa Timur pada 13 September 2019. Dalam laporannya di Polda Jawa Timur, Rinawati dijerat dengan Pasal 372 dan pasal 378, serta pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Herannya para terlapor setelah diambil BAP pada hari Senin tanggal 30 September 2019  dipulangkan pada malam hari.

“Padahal kasus ini sama persis dengan yang ditangani oleh Pihak Polda Metro Jaya yang sudah menjerat lima orang tersangka. Yang beda hanya Pelaku dan locus-nya saja,” jelas Bambang Djaya.

Para korban berharap, aparat kepolisian segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku suami isteri tersebut yang telah melakukan penipuan dengan menjerat sesuai pasal-pasal hukum yang dilaporkan dan tidak membiarkan berlarut-larut. “Yang nyata-nyata sudah ada dua alat bukti yang diserahkan,” katanya.

Menurut dia, hingga kini praktik penipuan GCG Asia masih beroperasi dan mencari  korban baru dari masyarakat yang terbujuk rayu dengan janji-janji keuntungan yang menggiurkan. Dan janji tidak pernah rugi bahkan dengan janji manisnya bahwa modal dapat ditarik setiap saat.

“Ibaratnya saya membeli sekeranjang buah apel segar tapi diberi apel palsu. Polisinya mesti cepat dan cekatan. Jangan sampai uang nasabah yang jadi korban dipindahkan atau ngaku-ngaku habis dan entah apalagi. Kami menginginkan uang kami dikembalikan,” tegasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan