Pengusutan Kasus Penipuan Massal Ala Investasi Bodong GCG Asia, Sejak Proses Penyelidikan Hingga Persidangan Bertele-tele dan Banyak Keanehan

Masyarakat Pencari Keadilan Pertanyakan Komitmen Penegakan Hukum

Pengusutan Kasus Penipuan Massal Ala Investasi Bodong GCG Asia, Sejak Proses Penyelidikan Hingga Persidangan Bertele-tele dan Banyak Keanehan. Masyarakat Pencari Keadilan Pertanyakan Komitmen Penegakan Hukum.
Pengusutan Kasus Penipuan Massal Ala Investasi Bodong GCG Asia, Sejak Proses Penyelidikan Hingga Persidangan Bertele-tele dan Banyak Keanehan. Masyarakat Pencari Keadilan Pertanyakan Komitmen Penegakan Hukum.

Sampai kini, proses pencarian keadilan dan penegakan hukum sangat rumit dan mahal di Indonesia. Proses pengusutan sebuah perkara, mulai dari penyelidikan hingga disidangkan di Pengadilan, masih bertele-tele, sering tidak jujur dan jauh dari komitmen penegakan hukum dan keadilan.

Hal itulah yang juga dirasakan oleh para korban penipuan berkedok Pialang Saham dan Investasi ala Guardian Capital Group Asia (GCG Asia).

Bambang alias Bede, salah seorang korban penipuan berkedok pialang saham dan investasi ala Guardian Capital Group Asia (GCG Asia) kecewa dengan para aparat penegak hukum di Indonesia.

Warga Jakarta ini menjadi salah seorang korban yang melaporkan tindak pidana penipuan dan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) oleh  perusahaan bodong  GCG Asia yang tak punya ijin beroperasi di Indonesia itu ke Polda Metrojaya.

“Ternyata, berharap ke proses penegakan hukum di Indonesia ini masih sangat mengecewakan. Para pencari keadilan seperti saya, sering dikibuli oleh para penyidik di Polda Metrojaya, bahkan sampai proses persidangan sudah berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Mulai dari proses penyelidikan di Polda Metrojaya hingga pengadilan, proses hukum bertele-tele dan penuh kegelapan,” tutur Bede saat berbincang di Jakarta, Jumat (07/02/2020).

Gurat kekecewaan dan lesu, tampak membayang di wajah Bede. Sudah berbulan-bulan pelaporan dilakukannya bersama teman-temannya korban penipuan GCG Asia itu di Polda Metrojaya. Sejak tahun 2019 lalu.

Proses persidangan terhadap kasus ini baru dimulai Januari 2020 ini. Itu pun hanya dengan satu orang tersangka yang didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kejati DKI), yang di-over ke JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar). Dengan persidangan dimulai digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar).

Satu-satunya tersangka dalam kasus ini hanyalah Gunawan Wijaya. Gunawan Wijaya mengaku sebagai Leader atau Koordinator GCG Asia di Jakarta. Gunawan Wijaya berprofesi sebagai salah satu agen perusahaan asuransi ternama di Jakarta. GCG Asia sendiri berbasis di Kualalumpur, Malaysia. Masuk ke Indonesia dan beroperasi dengan bebas, tanpa ijin.

Menurut Bede, di Jakarta ada beberapa orang yang menjadi kaki tangan bisnis bodong itu. Selain Gunawan Wijaya, ada juga isterinya Lenny Husni Tjhie dan beberapa orang lagi.

Gunawan Wijaya dan Lenny Husni Tjhie adalah pasangan suami isteri. Pasangan yang berdomisili di Jalan Casa Jardin Cluster Catalya Blok C I No 2 RT 001 RW 009, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat ini dilaporkan oleh para korban ke Polda Metrojaya.

Para korban ada sekitar 4000-an orang. Modus yang dilakukan Gunawan Wijaya dan isterinya Lenny Husni Tjhie adalah dengan komunikasi lewat gadget, terutama pertama-tama mengajak sejumlah nasabahnya di perusahaan asuransi, kemudian disebar ke sanak family dan rekan-rekan.

Selanjutnya, dilakukan pertemuan-pertemuan kecil dan juga pertemuan-pertemuan besar, bahkan seminar, dengan Gunawan Wijaya dkk sebagai speaker, untuk meyakinkan para calon korbannya.

Para korban dijanjikan keuntungan besar jika menginvestasikan uangnya di GCG Asia, lewat Gunawan Wijaya dkk. Bede sendiri menyetorkan uangnya ke rekening Gunawan Wijaya tidak kurang dari 1500 dolar amerika di tahap pertama.

Bayangkan saja, jika ada 4000-an korban, dengan menginvestasikan uangnya dengan jumlah yang bervariasi, angka minimal 1500 dolar amerika, bisa dihitung berapa ratus miliar uang yang dikumpulkan Gunawan Wijaya dkk, dengan cara menipu.

“Yang kami merasa aneh juga, penyidik Polda Metrojaya hanya menetapkan Gunawan Wijaya sebagai tersangka. Sedangkan Lenny Husni, isterinya, bebas melenggang hingga saat ini. Demikian juga sejumlah orang lainnya, yang seharusnya bertanggungjawab, tak pernah dijadikan tersangka lagi. Padahal, mereka itu komplotan,” tutur Bede.

Bede bisa memastikan berbagai keanehan dalam proses penyelidikan hingga pelimpahan berkas perkara itu ke Jaksa, bahkan hingga ke Pengadilan. Sebab, Bede tidak pernah absen mengawal laporannya dan kawan-kawan dari mulai proses pelaporan hingga saat ini.

“Wong saya pantengin dari awal sampai sekarang. Saya aktif mendatangi dan menanyakan penyidik di Polda Metrojaya. Namun, yang saya temukan, ada orang-orang yang terkait kasus ini yang diperiksa diam-diam. Ada yang sempat ditahan, namun sudah dilepaskan lagi. Lenny Husni pun sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun tak ditahan hingga kini,” ungkap Bede.

Selain itu, lanjutnya, mendadak sejumlah penyidik yang menangani laporan ini pindah tugas dengan pangkat yang sudah naik. Mendadak sejumlah penyidik mengalami penambahan aset pribadi.

“Semua itu terekam di memori saya. Dan saya sudah ajukan protes berkali-kali ke penyidik. Namun tak digubris,” jelas Bede.

Bede juga mengungkapkan keheranannya yang melihat adanya keanehan dalam proses pengusutan perkara sejenis. Di Polda Jawa Timur, kasus yang mirip, yakni  kasus penipuan investasi bodong MeMiles.

Di kasus itu, menurut Bede, penyidik kepolisian begitu heboh dan langsung menyikat sejumlah tersangka.

“Kok kalau kasus investasi bodong GCG Asia tidak digubris? Padahal, kami juga melaporkan hal yang sama, yakni kasus GCG Asia juga di Polda Jawa Timur. Sampai sekarang tak jelas nasib pengusutannya di Polda Jawa Timur kok,” cetus Bede.

Dia sangat menyayangkan kinerja kepolisian di Polda Metrojaya dan Polda Jawa Timur yang tampaknya tidak serius mengusut kasus kakap investasi bodong ala GCG Asia.

“Kepercayaan kami para korban, para pencari keadilan mendadak drop kepada penyidik Kepolisian. Tak nyangka, kalau polisi kita ternyata begitu. Sebaiknya, Kapolda dan Kapolri menelusuri secara seksama kinerja penyidiknya. Sebab, kepercayaan masyarakat jadi redup kepada Polisi,” ujar Bede.

Persidangan Aneh dan Mencurigakan

Kasus ini ditangani oleh para penyidik di Subdit II Fiskal, Moneter dan Devisa (Fismondev) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya. Dengan para penyidiknya adalah Kompol Ali Zusron, Kompol Harun,  AKP Mashuri, Ipda Jhonry Suryantho, Aiptu Setianto Wibowo, Bripka Risca Octaviani, Brigadir Adnan Sunkar, Brigadir Andhik Hermawan, Brigadir Riky Janwar, dan Bripda Surya Hadi.

Jadwal persidangan kasus penipuan dan TPPU ala GCG Asia di Jakarta seharusnya dimulai pada Senin 6 Januari 2020. Dengan terdakwa Gunawan Wijaya. Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Agus Khausal Alam, Ary Iqbal Setio Nasution dan Febby Salahuddin, batal. Ketiga JPU ini bersidang berganti-gantian.

Persidangan seyogiayanya digelar di Ruang Sidang Nomor 10, Lantai 2, Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar), terbuka untuk umum. Majelis Hakimnya adalah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat Dr Syahlan sebagai Ketua Majelis Persidangan. Dengan Hakim Anggotanya Heri Soemanto, Sri Hartati. Dengan Panitera Pengganti Erniwati.

“Persidangannya dijadwalkan antara jam 11 pagi atau jam 1 siang. Ganti-gantian, dan molor. Persidangan perdana pada 6 Januari 2020 batal, dikarenakan tidak ada yang hadir. Baik JPU dan terdakwa Gunawan Wijaya tidak hadir pada persidangan perdana. Kok bisa ya?” jelas Bede.

Jadwal persidangan selanjutnya diagendakan pada 13 Januari 2020. Persidangan kali ini juga batal. Alasannya sama. JPU dan terdakwa tidak ada, tidak hadir.

Barulah pada tanggal 20 Januari 2020, jadwal persidangan ketiga, dengan agenda pembacaan dakwaan, persidangan kasus poenipuan dan TPPU GCG Asia ini digelar. Terdakwa Gunawan Wijaya hadir dengan didampingi kuasa hukumnya Didik Kurniadi.

“Jadinya, sidang dimulai pada 20 Januari 2020, dengan agenda awal lagi, yaitu pembacaan dakwaan oleh JPU,” tutur Bede.

Sidang berikutnya pada 27 Januari 2020. Dengan agenda, mendengarkan keterangan para saksi. Ada 5 orang saksi yang dihadirkan, yaitu Bambang Djaya sebagai pelapor, Fransis Tjeng sebagai saksi korban, Anton Harsono Lim sebagai saksi korban, Ni Putu Lilia Ratna Dewi sebagai saksi korban, Iskandar Alamsyair sebagai saksi korban.

Pada persidangan tanggal 27 Januari 2020 ini, dari 5 saksi yang dipanggil, hanya 2 yang hadir dan memberikan kesaksiannya di muka pengadilan. Yaitu, Bambang Djaya dan Fransis Tjeng.

Kemudian, sidang berikutnya, yang seyogiaya digelar pada Senin 3 Februari 2020, dengan agenda mendengar keterangan saksi, dari sebanyak 8 saksi, ternyata batal juga.

“Dengan alasan, terdakwa tidak hadir ke persidangan. Alasannya ada yang mencoret namanya dari jadwal persidangan hari itu, sehingga terdakwa tidak dibawa ke pengadilan,” ungkap Bede.

Para saksi yang dipanggil untuk bersaksi pada persidangan Senin 3 Februari 2020 itu adalah Ni Putu Lilia Ratna Dewi, Herry Winata, Iskandar Alamsyair, Yenty, Marisa, Irwan, Edy Incaved Sutami, dan Lenny Husni Tjhie yang merupakan isteri terdakwa Gunawan Wijaya.

Nah, dari 8 saksi yang dipanggil itu, yang sempat hadir di ruang sidang pada Senin 3 Februari 2020 itu ada 5 orang yakni Ni Putu Lilia Ratna Dewi, Herry Winata, Iskandar Alamsyair, Yenty, dan Marisa. Sedangkan 3 orang saksi lainnya tidak hadir, yakni  Irwan, Edy Incaved Sutami, dan Lenny Husni Tjhie yang merupakan isteri terdakwa Gunawan Wijaya.

Dikarenakan gagal bersidang, jadwal persidangan selanjutnya dijadwalkan pada Senin 10 Februari 2020. Dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi. Saksi-saksinya adalah mereka yang harusnya didengarkan keterangannya pada persidangan Senin 3 Februari 2020. Yakni 8 orang saksi.

Menyikapi jadwal dan persidangan yang sering batal itu, Bede semakin kecewa. Ternyata, hingga pengadilan berjalan pun proses-proses pencarian keadilan masih bertele-tele dan semakin mencurigakan.

“Wibawa Pengadilan Negeri Jakarta Barat tercoreng. Seakan hanya panggung sandiwara. Pengadilan dengan seenaknya batal sidang. Dengan alasan, terdakwanya tidak hadir dan JPU-nya juga tidak hadir. Sudah 3 kali batal persidangan, dengan alasan yang tidak jelas, tidak masuk akal. Inikah yang disebut dengan Pengadilan Abunawas?” cetus Bede.

Bede mengengarai, selain ada permainan  antara Gunawan Wijaya sebagai tersangka kasus ini dengan Penyidik Polda Metrojaya, maka dalam peristiwa-peristiwa batalnya persidangan pun ditengarai ada main mata antara JPU dengan terdakwa Gunawan Wijaya.

“Sehingga dengan seenaknya berlasan ada yang mencoret nama terdakwa dari daftar persidangan hari itu, dan tidak dibawa di dalam mobil tahanan. Nah, siapa yang mencoret? Ini patut diusut,” sesal Bede.

Dia mengatakan, dirinya melakukan pengecekan terhadap daftar para terdakwa yang akan disidangkan. Di dalam daftar nama-nama tahanan hanya ada 18 tahanan yang dicantumkan. Padalah seharusnya 19 orang dengan Gunawan Wijaya.

Dengan mengikuti proses pengusutan kasus investasi bodong, penipuan dan TPPU di GCG Asia itu, Bede yang full mengawal dan mengikuti setiap detailnya. Dia melihat, Guawan Wijaya dkk bisa leluasa mengatur penyelidikan dan penyidikan. Bahkan hingga diserahkan ke JPU, Gunawan Wijaya juga bisa menyetel proses persidangan.

“Kami melihat, terdakwa seakan menjadi tuan, sebagai tuan rumah yang bisa seenaknya mengatur kapan jalannya persidangan. Ini mencurigakan bukan? Sebegitu hebatnyakah terdakwa Gunawan Wijaya sehingga dapat mempermainkan wibawa pengadilan di Republik Indonesia ini? Seakan, bukan hanya di Polda Metrojaya bisa dikuasai dan diatur-atur oleh Gunawan Wijaya, tetapi hingga ke pengadilan pun dikuasainya?” sesal Bede.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*