Peneliti IPB Jainal Pangaribuan Minta Presiden Jokowi Kembangkan Pohon Bagot di Kawasan Danau Toba

Lingkungan Tidak Rusak, Masyarakat Adat Aman Tentram, Penghasilan Negara Meningkat

Lingkungan Tidak Rusak, Masyarakat Adat Aman Tentram, Penghasilan Negara Meningkat, Peneliti IPB Jainal Pangaribuan Minta Presiden Jokowi Kembangkan Pohon Bagot di Kawasan Danau Toba (KDT).
Lingkungan Tidak Rusak, Masyarakat Adat Aman Tentram, Penghasilan Negara Meningkat, Peneliti IPB Jainal Pangaribuan Minta Presiden Jokowi Kembangkan Pohon Bagot di Kawasan Danau Toba (KDT).

Lingkungan Tidak Rusak, Masyarakat Adat Aman Tentram, Penghasilan Negara Meningkat

Hampir semua daerah dan juga masyarakat Indonesia tidak asing dengan aren. Pohon aren ini bisa tumbuh di hampir semua wilayah di Tanah Air.

Selain itu, hampir tidak ditemukan kelemahan dari pohon keras yang kini dikembangkan di beberapa wilayah, untuk produk gula aren ekspor ke luar negeri.

Di berbagai daerah, aren dikenal dengan penamaan yang beragam. Jenisnya juga ada beberapa. Namun semuanya adalah aren.

Di Sumatera Utara, khususnya di daerah Kawasan Danau Toba (KDT), orang-orang Batak menyebut aren dengan Bagot atau Pakko. Tergantung wilayahnya. Daerah lainnya di Nusantara juga memiliki penamaan yang sesuai daerahnya terhadap aren ini.

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Jainal Pangaribuan menuturkan, pohon arena atau bagot ini adalah pohon sahabat masyarakat, sahabat lingkungan, sahabat keuangan masyarakat, dan sahabat semua mahkluk.

Namun sayang, sampai kini belum dimaksimalkan untuk menjadi tanaman yang menghasilkan nilai ekonomis yang besar. Dan belum dimaksimalkan sebagai salah satu tanaman yang akan memberikan devisa atau pendapatan yang besar bagi masyarakat dan Negara.

“Potensinya sangat besar. Aren atau Bagot ini sangat akrab di masyarakat kita. Dari Sabang sampai Merauke. Tidak sulit menanamnya, dan tidak rewel dengan hampir semua kondisi lahan. Tumbuh dan menghasilkan,” tutur Jainal Pangaribuan ketika berbincang, Sabtu (26/10/2019).

Selama lebih dari 20 tahun meneliti dan mengembangkan bibit dan tanaman bagot ini, Jainal Pangaribuan mengaku membutuhkan kemauan politik, kemauan usaha dan kepedulian para stake holders dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maupun para pemodal yang mencintai kelestarian lingkungan, dengan keuntungan ekonomis yang bagus, untuk mengembangkan pohon aren itu.

Yang diketahui masyarakat selama ini, lanjut dia, pohon aren hanya dipergunakan untuk hal-hal yang memiliki potensi ekonomi kecil. Padahal, lebih dari itu bisa diproduksi. Dari mulai akar, batang, daun, pelepah, buah, hingga sari dan tepungnya, termasuk getah atau tuaknya bisa dikembangkan dengan bernilai ekonomis besar.

“Selama ini kan masyarakat kita tahunya akarnya berguna. Batang aren bisa sebagai kayu atau untuk jembatan. Pelapahnya atau daunnya untuk sapu lidi, airnya sebagai nira atau tuak. Buahnya untuk makanan kolang kaling. Ya yang seperti-seperti itu saja yang masih akrab di masyarakat kita,” tutur Jainal Pangaribuan.

Jainal Pangaribuan yang juga aktif dilembaga penelitian dan lingkungan sebagai President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) ini mengajak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengembangkan pohon aren atau bagot ini.

Hampir semua lahan, terutama lahan kosong, lahan terlantar, lahan bekas tambang, lahan terjal sekalipun, bisa ditumbuhi oleh pohon bagot. Bahkan lembah-lembah terjal pun bisa.

Dari jutaan hektar lahan yang belum dimaksimalkan, menurut Jainal Pangaribuan, bisa ditanami dengan pohon bagot.

Bagot atau pohon aren akan menghasilkan bahan makanan, alat-alat kebutuhan masyarakat, juga lingkungan yang bersih. Sagu atau tepung bisa diproduksi dari aren. Kolangkaling atau jenis makanan lainnya juga bisa diproduksi dari buah aren. Produk kerajinan tangan, seperti furniture, alat-alat rumah tangga pun bisa. Niranya bisa untuk minuman. Ada yang menyebutnya dengan tuak.

“Juga untuk bahan obat-obatan, kosmetik dan juga untuk kebutuhan gula aren. Aren juga sangat potensial memproduksi bioethanol, energi terbarukan,” ujar Jainal Pangaribuan.

Gula aren saja, lanjutnya, sudah dikembangkannya bersama teman-temannya di daerah Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Papua. Dengan menggunakan aren.

Saat ini, Jainal Pangaribuan bersama beberapa kawannya juga tengah mengembangkan pembibitan dan pengembangan pohon bagot di wilayah Sumatera Utara, khususnya di Kawasan Danau Toba (KDT).

“Saat ini tujuan ekspor gula aren, permintaan sangat banyak dari Negara-negara Eropa. Dan gula aren Indonesia paling banyak digandrungi,” ungkapnya.

Apa kelebihan pohon bagot atau aren dibanding pohon lainnya? Selain menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lokal, pohon ini bisa ditanami dimana saja. Termasuk di samping rumah, di kebun-kebun, di hutan-hutan, di lembah-lembah, di tanah yang tak terurus dan lain sebagainya.

Hebatnya lagi, menurut Jainal Pangaribuan, tidak butuh kerumitan menanam dan memelihara pohon bagot itu.

Perlu diketahui, badan dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menekankan kampanye lingkungan. Dan juga pengolahan lahan yang tidak merusak lingkungan. Demikian juga dengan produksi berbagai kebutuhan hidup manusia, termasuk makanan, obat-obatan, energi dan lain sebagainya, diutamakan yang tidak merusak lingkungan.

Nah, ada tiga kelebihan utama dari pohon bagot ini untuk hal itu. Pertama, pohon bagot tidak merusak lingkungan. Menurut Jainal Pangaribuan, menanam pohon bagot pasti menjaga kadar humus tanah. Juga mencegah bencana, seperti tanah longsor.

Yang paling menguntungkan secara ekologis, lanjut dia, pohon bagot memproduksi oksigen yang sangat bagus.

“Sangat berbeda misalnya dengan tanaman eucalyptus, yang banyak ditanami oleh pabrik-pabrik perusak lingkungan. Tanaman itu merusak lahan. Menyedot semua unsur hara tanah. Tanah menjadi kering dan tandus. Membuat air tanah pahit. Tidak ramah lingkungan. Kalau pohon bagot malah tidak begitu,” tuturnya.

Seperti diketahui, Indonesia kini diharapkan sebagai paru-paru dunia. Yang memproduksi oksigen bagi dunia. Karena itu, sebaiknya dijaga dan dikembangkan lagilah pohon bagot itu.

Jainal Pangaribuan mencontohkan, di Kawasan Danau Toba (KDT) ada pabrik bubur kertas bernama PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) yang sekarang berubah nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL). Pabrik ini sangat rakus terhadap lahan. Juga sangat merusak alam. Hampir semua produksinya egois. Hanya untuk pemilik modal. Masyarakat tidak mendapatkan apa-apa.

“Kalau dalam istilah kita, pabrik TPL itu sudah melakukan genoside terhadap masyarakat dan lingkungan Kawasan Danau Toba, sejak lama. Merusak tanaman padi dan kolam ikan darat. Udara juga tercemar dan menimbulkan berbagai jenis penyakit. Termasuk, pertumbuhan anak-anak kecil semakin tidak normal. Akibat udara yang busuk dan bervirus. Ini yang saya sebut sudah terjadi genosida di Toba,” ungkap Jainal Pangaribuan lagi.

Keuntungan kedua penanaman pohon bagot, lanjutnya, pohon ini bernilai sosial. Selama ini, masyarakat adat, menggantungkan banyak hal dengan pohon bagot. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga sebagai mata pencaharian.

Pohon bagot yang bernilai sosial ini adalah milik masyarakat. Masyarakat pastinya akan bangga jika dikembangkan dengan baik.

Ketiga, bernilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomi yang dimiliki dari hasil pohon bagot, lanjut Jainal Pangaribuan, untuk yang sederhana saja, sudah banyak orang tua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, karena menghasilkan uang dari pohon bagot.

“Misalnya, paragat, istilah untuk orang yang membuat tuak, berpuluh-puluh tahun mereka melakukannya. Ada anak-anaknya bisa disekolahkan hingga jadi dokter, peneliti, polisi, pengusaha, jenderal dan pejabat-pejabat. Jika dikembangkan lagi, maka akan besar manfaat ekonomis dari pohon bagot,” beber Jainal Pangaribuan.

Menurut Jainal, tidak rumit menanam, mengelola, dan memproduksi hasil-hasil dari pohon bagot. Termasuk memproduksi gula aren dan energy terbarukan bioethanol.

Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata per tahun hanya di angka 5 %, Jainal optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa didongkrak hingga ke angka 10 % dengan usaha Pohon bagot.

Menanam pohon bagot,  bisan menyerap tenaga kerja yang disebut mencapai angkat 10 %. Untuk luas lahan 5 hektar saja, bisa ditanami sebanyak 2000 pohon bagot. Setelah ditanam, potensi ekonominya sangat fantastis. Dan berproduksi terus, sejak lima tahun terus menerus menghasilkan.

Dia menghitung, dengan menanam pohon bagot untuk lahan seluas 10 juta hektar saja, Indonesia sudah bisa membayar hutangnya untuk 10 tahun.

Lahan seluas 10 juta hektar saja, jika ditanami pohon bagot, sudah terdapat sebanyak 4 miliar pohon bagot. Per tahun, sebanyak 60 % dari pohon itu atau sekitar 2,4 miliar pohon akan berproduksi. Dan menghasilkan uang triliunan rupiah.

Dijelaskan Jainal Pangaribuan, untuk produksi 12 sampai 15 liter nira dari satu pohon aren, bisa menghasilkan 1 liter bioethanol. Belum lagi untuk gula aren dan kebutuhan lainnya.

“Anda bisa bayangkan, jika 10 juta hektar saja lahan, dengan 4 miliar pohon bagotnya, berapa banyak bioethanol yang bisa diproduksi.  Saat ini Indonesia masih mengimpor bioethanol. Dengan produksi bagot, nantinya bukan impor lagi. Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya dan bisa mengekspor bioethanol ke luar negeri,” ungkapnya.

Dengan menanam 1 juta pohon bagot saja, lanjutnya, Indonesia sudah memiliki asset sebesar Rp 4 triliun. Itu masih baru menanam. Belum sampai ke produksi. Pohon bagot di tahun pertama ditanami dan dijaga. Di tahun ke dua, sudah pasti memproduksi oksigen.

“Jika dihitung dalam angka materi, bisa berapa banyak nilai oksigen yang diproduksi. Sangat banyak,” ujarnya.

Berbeda dengan kelapa sawit, Jainal Pangaribuan mengatakan, perusahaan kelapa sawit ditaksir hanya mampu menyumbangkan 100 triliun rupiah per tahun. Itu pun dengan 15 juta hektar lahan sawit. Lagipula, lahan sawit seperti itu adalah milik korporasi, milik perusahaan. Bukan milik masyarakat.

“Pohon bagot itu ditanami oleh masyarakat, milik masyarakat. Tinggal dihitung saja, per orang menanam berapa pohon bagot. Entah di ladangnya, entah di samping rumahnya, entah dimana pun.

Syukur-syukur dia menanaminya di lahannya yang luas. Itu keuntungan mengelola pohon bagot juga. Milik masyarakat. Bukan milik korporasi,” tutur Jainal.

Belum lagi untuk gula aren. Dari pengalamannya yang sudah memproduksi dan mengekspor gula aren dari Sulawesi, Jainal Pangaribuan menjelaskan, untuk produksi gula aren, pangsa pasar terbesar adalah Eropa.

Orang Eropa memiliki standar yang ketat. Pohon arennya harus diproduksi tanpa merusak lingkungan. Gula arennya benar-benar sesuai standar mereka.

“Dan, biasanya mereka menelusuri dan mengontrol proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan pohon aren itu, hingga berproduksi. Sesuai standar kesehatan lingkungan, dan tak merusak lingkungan, mereka akan jor-joran impor dari Indonesia,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan usaha lainnya atau produksi pohon-pohon lainnya, pastinya pohon bagot lebih memberikan konstribusi yang sangat besar.

Kini, kata dia, pihaknya sedang membangun kerja sama dengan pemerintah daerah di Kawasan Danau Toba (KDT) dan masyarakat adatnya, untuk mau dan memassifikasi penanaham pohon aren yang sangat berguna itu.

“Tergetnya, di tahun 2020 nanti, sudah ada 1 juta pohon bagot yang ditanam. Dan nilai ekonomisnya kami hitung mencapai Rp 10 triliun. Untuk Tobasa saja itu,” ujarnya.

Sedangkan pembibitan pohon aren, lanjutnya, kini Jainal Pangaribuan membibit sebanyak 2 juta pohon aren. “Murah. Harganya per satu pohon bibit, hanya Rp 10 ribu. Per batang. Dan itu sudah sampai di tangan masyarakat. Di antar ke ujung mana pun. Bibit itu sudah disemai dengan standar yang sudah ditentukan Eropa, misalnya,” ungkap Jainal.

Untuk mengembangkan Kawasan Danau Toba dan pendapatan masyarakat lokal, Jainal Pangaribuan mengajak masyarakat dan pemerintah, untuk memassifikasi penanaman dan produksi pohon bagot itu.

Bahkan, perusahaan-perusahaan perusak lingkungan, harus diganti. Agar tatanan ekonomi, tatanan masyarakat, termasuk hubungan sosial dan adat istiadat masyarakat setempat lestari dengan baik.

Jainal Pangaribuan juga meminta, kiranya Presiden Joko Widodo, dan jajaran kabinetnya, mendorong dan memassifikasi penanaman pohon aren itu untuk tujuan sosial, ekonomis, dan lingkungan yang lebih baik.

Political will pemerintah, dari Pak Presiden Jokowi dan para jajaran menterinya, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kementerian Koperasi UMKM, penanaman modal, dan stake holder lainnya, termasuk Pemerintah Daerah, agar mengembangkan potensi ini dengan baik. Untuk kesejahteraan masyarakat. Lahan bisa berkoodinasi dengan KLHK, bibit kita bisa siapkan,” tuturnya.

Dia menekankan, keuntungan besar akan diraih masyarakat dan pemerintah Indonesia, jika mengembangkan serius penanaman dan pengembangan produksi pohon bagot di seluruh Tanah Air.

“Nilai sosial tinggi, peran serta masyarakat bagus, lahan banyak tersedia, lingkungan terjaga dan sehat, dan nilai ekonomisnya sangat fantastis,” ujar Jainal Pangaribuan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan