Penanganan Perkara Tak Tuntas, Korban Penipuan Investasi GCG Asia Pertanyakan Kenaikan Pangkat Penyidik Polri

Penanganan Perkara Tak Tuntas, Korban Penipuan Investasi GCG Asia Pertanyakan Kenaikan Pangkat Penyidik Polri.

Merasa aneh dengan melajunya sejumlah penyidik di Polda Metrojaya ke tempat empuk dengan kenaikan pangkat, dipertanyakan para korban penipuan investasi bodong ala Pialang Guardian Capital Group (GCG) Asia.

Bede, warga Jakarta yang merupakan salah seorang korban GCG Asia yang melaporkan kasus penipuan itu ke Polda Metrojaya, merasakan keanehan dalam pengusutan kasus yang ditangani Unit II Fismondev di Dirkrimsus Polda Metrojaya itu.

Penanganan kasus itu, menurut Bede, belum menemukan titik terang. “Masih gelap. Sudah berbulan-bulan kami laporkan di Polda Metrojaya. Para pelaku dibiarkan melenggang. Makanya aneh, kok bisa para penyidik di Polda Metrojaya yang menangani laporan ini malah naik pangkat. Ada yang jadi Kapolseklah, pada pindah ke tempat-tempat empuklah. Aneh. Kasus yang ditangani pun tak tuntas,” tutur Bede, Senin (30/12/2019).

Sejak kasus ini dilaporkan ke Poldametrojaya, Bede mengungkapkan, laporannya ditangani oleh Kanit II Fismondev di Dirkrimsus Polda Metrojaya Kompol Ali Yusron dan Timnya. Di Tim itu ada AKBP Harun yang baru dilantik jadi Kapolsek Lamongan, sedangkan Ali Yusron sendiri telah geser ke posisi empuk lainnya di Polda Metrojaya.

“Sejak awal kasus ini kami laporkan masuk lewat Direktur Reserse dan Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Metrojaya Kombes Pol Iwan Kurniawan. Selanjutnya diturunkan ke Unit II Fismondev di Dirkrimsus Polda Metrojaya ke Pak Ali Yusron dan kawan-kawannya. Sampai hari ini, kasus ini masih gelap,” cetus Bede.

Dengan sudah kabur­nya para penyidik Polda yang menangani kasus ini ke tempat dan jabatan empuk lain, Bede menduga, biaya kenaikan pangkat para penyidik itu berasal dari sogokan para pelaku penipuan GCG Asia, yang nilai penipuannya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah.

Bede pun berencana melaporkan para penyidik itu ke bagian Divisi Profesi dan Pengamanan (Div Propam) Polda Metrojaya. “Saya akan laporkan mereka ke Propam. Ke Paminal. Kokkami dipermain-mainkan begitu. Kami ini korban,” ujarnya.

Demikian pula, lanjut Bede lagi, salah seorang tersangka yang merupakan pelaku penipuan itu yakni Gunawan Wijaya, kini sudah diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Namun, di JPU Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kejati DKI), proses persidangan dan rencana penuntutannya pun gelap.

“Saya ke Kejati DKI, mau menanyakan sejauh mana prosesnya. Eh, JPU-nya malah tak tahu rimbanya kemana. Tak tahu bagaimana proses penunutannya kini,” ujarnya.

Bede juga berencana melaporkan JPU dari Kejati DKI yang disebutnya ada main dengan penyidik Polda Metrojaya dalam penanganan kasus ini. “Saya menduga penyidik dan JPU ada main mata dengan para pelaku penipuannya. JPU ini juga akan dilaporkan sajalah ke atasannya,” tuturnya.

Bede merasakan, pelaku lainnya yakni Lenny Husein, yang adalah isteri dari pelaku penipuan Gunawan Wijaya, tidak diusut oleh penyidik. “Saya mempertanyakan, mengapa Lenny Husein tidak diproses, tidak ditahan dan maalah dibiarkan melenggang bebas berkeliaran?” ujar Bede.

Bede dan kawan-kawannya sesame korban penipuan telah melaporkan persoalan ini beberapa bulan lalu ke Polda Metrojaya. Namun, penyidik Polda Metrojaya, yang sebelumnya dikomandoi Kanit II Fismondev di Dirkrimsus Polda Metrojaya Kompol Ali Yusron itu, diduga malah bermain mata dengan para pelaku.

Pua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka, yakni pasangan suami isteri Gunawan Wijaya dan Lenny Husein. Hanya Gunawan Wijaya yang diproses, pelaku lainnya, termasuk Lenny Husein dibiarkan bebas melenggang.

“Kami sebagai korban penipuan akan melaporkan hal ini ke Presiden. Agar Polisi punya nyali menanggap pelaku, Lenny Husein yang sudah berstatus tersangka. Dan juga menangkap para leader lainnya yang sudah di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan), yang sampai saat ini dibiarkan bebas melenggang. Pasti ada apa-apanya onum penyidik polisi dengan mereka ini,” tutur Bede.

Bede menyebut, selain Lenny Husein, sebanyak 6 orang leader dan usaha money changer bodong sebanyak 4 orang sudah sempay dikarangkeng selama 7 hari lebih di tahanan Polda Metrojaya, namun sudah dilepas lagi.

“Bukan hanya beberapa orang itu yang sudah sempat ditahan, namun dilepas. Tidak tahu lagi, apakah sudah dipetieskan kasus investasi bodong ini? Padahal sudah ribuan member yang jadi korbannya,” jelas Bede.

Dia menengarai, konspirasi antara oknum penyidik Polisi dengan para pelaku sudah terjadi. Sehingga pengusutan kasus ini seperti ditutup-tutupi, dan tidak ada tersangka baru.

“Konspirasi busuk mereka ini harus dibongkar tuntas,” jelasnya.

Untuk wilayah Jakarta saja, dilaporkan tidak kurang dari 4000-an orang diduga menjadi korban penipuan GCG Asia. Rata-rata korbannya adalah nasabah asuransi yang diperdaya untuk masuk GCG Asia. Pakai mata uang Dolar Amerika Serikat.

Bede mengungkapkan, otak penipuannya yang di Jakarta adalah pasangan suami isteri Gunawan Wijaya dan Lenny Husein. Gunawan adalah agen asuransi Allianz di Jakarta.

Diduga, Gunawan memanfaatkan nasabah Allianz untuk digeser menjadi nasabah GCG Asia. “Sekitar 4000-an orang di Jakarta. Beda lagi dengan yang di Surabaya,” ujarnya.

Gunawan Wijaya sudah ditetapkan sebagai salah seorang tersangka. Demikian pula dengan isterinya, Lenny Husein. Namun Lenny tidak ditahan oleh penyidik.

Bede juga mempertanyakan, isterinya Gunawan, Lenny Husein  karena tidak ditahan penyidik.

Demikian pula, sejumlah agen asuransi yang diduga terlibat sudah diperiksa, namun dilepas lagi oleh penyidik.

Dalam kasus yang sejak awal ditangani Kanit 2 Dirkrimsus Polda Metrojaya, Kompol Ali Yusron ini, tersangka Gunawan Wijaya sudah hampir habis masa penahanannya. “Untung saja sekarang P21. Sehari lagi tak P21, kelar, bebas dia,” ujar Bede.

Bede mengungkapkan, selain di Jakarta, dirinya dan kawan-kawannya yang menjadi korban penipuan juga melaporkan pelaku yang lebih kakap di Polda Jawa Timur.

“Yang di Jawa Timur juga belum ada perkembangan penanganannya. Padahal, yang disana lebih kakap,” ujar Bede.

Dia berharap, baik penyidik Polda Metrojaya dan Polda Jawa Timur serius mengusut penipuan ala pialang GCG Asia yang mengorbankan ribuan warga Indonesia itu.

“Kami menunggu dan mengukuti kinerja penyidik dalam pengusutan kasus ini. Terkesan lamban sekali. Semoga dengan sudah P21nya pelaku yang di Jakarta, maka pelaku lainnya, termasuk yang di Jawa Timur segera juga ditangkap dan disidangkan,” harap Bede.

Untuk wilayah Jakarta saja, ungkapnya, tidak kurang dari 4000 orang nasabah asuransi, yang jadi korban GCG Asia itu. Para pelapor, termasuk dirinya, memprediksi, dari kerugian yang dialami pelapor saja sudah mencapai Rp 10 miliar.

“Kami mendesak mereka semua itu ditangkap dan segera diproses hukum. Kembalikan uang kerugian para korban segera,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Wir, salah seorang nasabah Asuransi Prudential, yang menjadi korban pialang Capital Group (GCG) Asia, di Jawa Timur.

Wir mengungkapkan, GCG Asia ini memiliki basis terbesar di Surabaya. Untuk wilayah Indonesia, Surabaya leading dengan nasabah terbanyak. Totalnya bisa mencapai 34 ribu nasabah atau member. Bisnis bodong ini dimotori pasangan suami isteri selaku leader yakni David Hendrawan dan Rinawati.

“Saya kenal David Hendrawan dan Rinawati sebagai agent Prudential. Saya memang nasabah Prudential. Namun, Rina dan David memanfaatkan nasabah Prudential di sejumlah wilayah dan diiming-imingi dapat duit dengan ikut GCG Asia,” ungkap Wir.

David Hendrawan diperkirakan juga merupakan leader dari pelaku lainnya, yakni Gunawan Wijaya yang sudah ditahan di Polda Metro Jaya.

Wilayah jaringannya termasuk Jakarta, Pontianak, Tanjung Pinang, Medan, Bali, Bandung dan wilayah lainnya.

Menurut dia, Rinawati sebagai isterinya David Hendrawan, berkolaborasi dengan rekan-rekannya lewat money chager bodong yang berada di Tanjung Pinang. Rinawati juga berasal dari Tanjung Pinang.

“Rinawati adalah isteri pelaku yang juga berasal dari Tanjung Pinang. Bisa jadi, ditengarai, semua ini akal-akalan mereka saja. Akal-akalan leader, yang juga bersengaja membuat money chager bodong, agar nampak bisnis penipuan investasi ini sempurna. Ya kami hanya bisa berharap, aparat tetap setia dengan sumpah jabatannya, mengusut ini semua,” terang Wir.

Hingga kini, lanjut Wir, ribuan korban penipuan GCG Asia di Surabaya dan wilayah lain masih berupaya mencari keadilan.

Dia mengatakan, pasangan suami isteri David Hendrawan dan Rinawati merupakan Top Leader GCG Asia. Keduanya  ternyata juga merupakan Agen Perusahaan asuransi ternama, Prudential.

Sehingga dengan  memanfaatkan jaringan nasabah Prudential yang sudah ada,  dengan mudah merekrut member-member baru dalam permainan ponzi sistem piramida berkedok trading forex tersebut.

Sebagaimana yang dialaminya, Wir mengatakan, dengan membonceng nama besar asuransi Prudential, yang mempunyai jaringan nasabah yang besar di Indonesia, David Hendrawan dan Rinawati sebagai Top Diamond Leader GCG Asia mampu merekrut puluhan ribu nasabah atau member hanya dalam waktu 3 bulan. Dengan total penjualan diperkirakan 126 juta Dolar Amerika atau setara dengan 1,8 triliun rupiah.

Hingga kini masyarakat korban, melalui 5 orang korban telah melaporkan ke Polda Jatim dengan kerugiannya berkisar sebesar Rp 12 miliar.

“Bagaimana kalau  sampai puluhan ribu yang melaporkan? Besar sekali angka yang diraup mereka bukan?” tantangnya.

Para korban berharap, Pemerintah membentuk Tim Satgas yang dapat dengan cepat dan sigap mengambil tindakan untuk menyelamatkan dana masyarakat sebesar belasan triliun rupiah itu. Sebelum dana tersebut disembunyikan atau dikirimkan para Top Leader tersebut keluar negeri melalui black market money changer (MC).

Kasus ini merupakan bola panas yang bergulir secara Nasional, dengan menelan korban puluhan ribu yang bertebaran di beberapa wilayah lain.

“Sampai kini praktik penipuan mereka masih beroperasi, dikarenakan lambatnya pihak aparat menjerat para pelakunya,” ujar Wir.

Pada Kamis 05 Desember 2019 lalu, baru satu tersangka yang berkasnya dinyatakan lengkap. Yakni atas nama tersangka Gunawan Wijaya.

Salah seorang Penyidik  di Unit 2 Reskrimsus Polda Metrojaya, Iptu Jhonry Aritonang mengaku berkas Gunawan Wijaya sudah lengkap atau P21, dan sudah diserahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta (Kejati DKI Jakarta), yang selanjutnya diover ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar), untuk proses penuntutan di pengadilan.

“Iya, sudah P21. Sudah diserahkan ke Jaksa. Ke Kejari Jakarta Barat,” ujar Iptu Jhonry Aritonang, ketika dikonfirmasi wartawan.

Namun, dia enggan menjelaskan detail proses serah terima tersangka. Ketika ditanya kapan Lenny Husein akan ditangkap dan ditahan, serta bagaimana keterlibatan pihak-pihak lain dalam kasus ini, penyidik mengatakan baru satu orang tersangka yaitu Gunawan Wijaya sudah lengkap berkasnya. Pelaku lainnya masih di dalami. “Pelan-pelan, penyidik masih terus mengembangkan kasus ini,” tutupnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan