Pemerintah Pusat Diminta Sokong Putra Daerah Kembangkan Budidaya Pohon Bagot

Demi Masa Depan Rakyat di Tanah Kelahiran

Demi Masa Depan Rakyat di Tanah Kelahiran, Pemerintah Pusat Diminta Sokong Putra Daerah Kembangkan Budidaya Pohon Bagot. Foto: President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan bersama Guru-guru dan siswa-siswi SMA Bintang Timur Balige (BTB) Soposurung, Tobasa, dalam Sosialisasi Penanaman Pohon Bagot di Kawasan Danau Toba (KDT), Sabtu (15/02/2020). (Istimewa).
Demi Masa Depan Rakyat di Tanah Kelahiran, Pemerintah Pusat Diminta Sokong Putra Daerah Kembangkan Budidaya Pohon Bagot. Foto: President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) Jainal Pangaribuan bersama Guru-guru dan siswa-siswi SMA Bintang Timur Balige (BTB) Soposurung, Tobasa, dalam Sosialisasi Penanaman Pohon Bagot di Kawasan Danau Toba (KDT), Sabtu (15/02/2020). (Istimewa).

Masa depan masyarakat di daerah menjadi salah satu prioritas pemerintahan Jokowidodo-Ma’aruf Amin.

Melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul di daerah-daerah yang menjadi salah satu prioritas Jokowi untuk mengentaskan kemiskinan dan membangkitkan perekonomian rakyat, maka sudah seharusnya pemerintah dan berbagai stake holders menyokong pengembangan berbagai potensi yang dimiliki putra-putri daerah untuk kemajuan Indonesia.




Demikian juga dengan potensi yang dikembangkan oleh salah seorang Putra Daerah Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) Jainal Pangaribuan.

Pria kelahiran Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa ini sudah mencapai 20 tahunan menggeluti pembibitan dan pengembangan bagot atau pohon aren.

Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini getol mengembangkan bibit dan penanaman pohon bagot di berbagai wilayah di Indonesia.




Kini, Jainal Pangaribuan yang merupakan President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) tengah mengembangkan pembibitan dan penanaman satu juta pohon bagot di Tanah Kelahirannya, Tobasa.

“Untuk tahun 2020 ini, sebetulnya ada target maksimal yakni penanaman 10 juta pohon bagot di seluruh Kawasan Danau Toba. Untuk Tobasa, kita masih mengejar penanaman 1 juta pohon bagot,” tutur Jainal Pangaribuan, Sabtu (15/02/2020).

Untuk mencapai target itu, sejak 2019 lalu, Jainal Pangaribuan bersama rekan-rekannya terus menggelorakan pembibitan dan penanaman pohon bagot di berbagai lembah-lembah, tanah-tanah tandus dan wilayah-wilayah yang potensial di Kawasan Danau Toba (KDT).




Dengan mengajak semua stake holder masyarakat, Jainal Pangaribuan berharap, di masa depan, dengan hasil yang sangat fantastis dari produksi bagot bisa meningkatkan perekonomian rakyat daerah.

Tahun lalu, pada Oktober 2019, Jainal Pangaribuan telah mensosialisasikan dan melakukan penanaman sebanyak 6000 bibit pohon bagot, dengan menggandeng anak-anak sekolah di Tanah Kelahirannya.

SMP Negeri 2 Sidulang, Sitolu Ama, Kecamatan Laguboti, Tobasa, dengan sejumlah unsur pemerintah kabupaten dan kepala sekolah bersama murid-murid, melakukan penaman pohon bagot.




Sabtu, 15 Februari 2020, Jainal Pangaribuan kembali menggandeng pihak sekolahnya di SMA, yakni SMA Bintang Timur Balige (BTP), di Soposurung, Balige, Tobasa, untuk melakukan penanaman pohon bagot.

“Hari ini, sosialisasi penanaman pohon bagot di SMA BTB Balige. Ini sekolah saya dulu sewaktu SMA,” ujar Jainal Pangaribuan.

Tampak anak-anak murid dan guru-guru di sekolah ini antusias mendengarkan penjelasan dan manfaat ekonomis dari penanaman bagot.




Dua tahun setelah ditanam, pohon bagot sudah bisa berproduksi. Terutama menghasilkan oksigen yang sangat banyak, dan menjadi tanamanan yang sangat akrab dengan lingkungan. Sehingga tanamanan ini menjadi salah satu pohon penjaga lingkungan nomor satu.

Untuk kebutuhan sehari-hari, lanjut Jainal Pangaribuan, pohon aren atau bagot sangat berguna untuk berbagai alat kebutuhan rumah tangga. Mulai dari akar, batang, daun, buah, ijuk, dan bahkan tepung dari aren sangat berprotein tinggi.

Air nira yang dihasilkan oleh pohon aren itu juga bisa untuk minuman, seperti tuak dan bahan obat maupun kosmetik.




“Di Tanah Batak, dan di hampir semua wilayah Indonesia, aren atau bagot sangat akrab dengan masyarakat. Dengan nama yang sesuai dengan daerah masing-masing, kalau di Tanah Batak disebut pohon bagot. Kegunaannya sangat banyak. Nilai ekonomisnya sangat tinggi. Ini yang perlu kita sosialisasikan dan kembangkan,” tutur pria yang bertahun-tahun meneliti pohon bagot sebagai salah satu bahan energy terbarukan.

Di wilayah Sulawesi Utara, lanjutnya, Jainal Pangaribuan dan rekan-rekannya malah sudah memproduksi gula aren yang sangat bagus, sebagai ekspor ke Eropa. Sudah berjalan beberapa tahun ini.

“Orang-orang Eropa sangat teliti dengan produk tanaman. Arena tau bagot menjadi salah satu prioritas orang Eropa untuk gula arennya,” ujar Jainal.




Bahkan, baru-baru ini, dijelaskan Jainal Pangaribuan, nira atau tuak dari pohon bagot efektif mengobati kecanduan narkotika, efektif mengobati sakit ginjal, efektif mengobati penyakit gula.

“Dengan dosis yang tepat. Misalnya, dua gelas hingga empat gelas tuak setiap sore, mampu mengobati penyakit gula, kecanduan narkotika dan ginjal,” bebernya.

Ke depan, produksi nira untuk energi terbarukan sudah sangat efektif. Sedang dipersiapkan. Karena itu, penanaman pohon bagot di masyarakat harus dilakukan secara massif.




Tidak ada haramnya dan tidak rewel. Sangat akrab dengan lingkungan, dan hampir tak menimbulkan kerugian apapun jika menanam dan mengembangkan pohon bagot.

Menanamnya pun tidak susah. Jainal Pangaribuan memperagakan, hanya butuh tanah yang digali ukuran 40 cm kali empat puluh centi meter. Lalu dimasukkan kompos atau pupuk alam, dibiarkan satu hari dan lalu ditanami bibit pohon bagot.

“Itu untuk yang menanam secara normal. Kalau menanam di sembarang tempat juga bisa. Misalnya, di lahan-lahan terjal, atau lembah-lembah yang terjal, kita pakai alat ketapel, bibit bagot berupa biji diketapel ke wilayah itu. Sebab, pohon bagot tidak sulit beradabtasi. Bisa tumbuh dimana pun. Di samping rumah, di belakang rumah, di depan rumah, di mana aja bisa ditanam kok,” tuturnya lagi.




Kemudian, masyarakat juga tidak sulit merawatnya. Bahkan, begitu ditanam, asal tidak dicabut aja, pohon bagot akan tumbuh sendiri.

Paling tidak, dari research yang dilakukannya, ada tiga keuntungan utama menanam dan mengembangkan pohon bagot.

Pertama, keuntungan lingkungan. Pohon bagot memproduksi oksigen yang banyak. Akar pohon ini sangat efektif menjaga kesuburan dan mengatasio bencana alam dan lingkungan.




Kedua, keuntungan sosial. Pohon bagot adalah pohon yang ada sejak zaman nenek moyang.

Sering dipergunakan dalam berbagai kebutuhan rumah tangga, kebutuhan adat, kebutuhan sosial dan bahkan sebagai salah satu alat yang terdapat unsur dalam budaya masyarakat setempat.

“Untuk membangun rumah, membangun jembatan, untuk kebutuhan penetasan telur ikan emas, untuk kebutuhan minum dan makanan. Banyak sekali kegunaannya,” ujarnya.




Ketiga, keuntungan ekonomis masa depan. Jika sudah ditanam dengan jumlah yang sangat banyak, tumbuh dan dikembangkan, maka bisa menghasilkan gula aren yang berkualitas. Juga akan dikembangkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan, biodiesel, tanpa merusak lingkungan.

Jika suatu saat sudah memadai ketersediaan pohon bagot, maka industri masyarakat akan tumbuh dan berkembang pesat. Industri dengan berbahan baku pohon aren.

Soal bibit, Jainal Pangaribuan mengatakan, dirinya setiap hari mengembangkan bibit pohon aren. Memang butuh ketelatenan dan juga pengukuran kualitas bibit. Dan itu sudah dilakukan Jainal Pangaribuan.




Yang perlu mendapat sokongan, lanjutnya, adalah pelaksanaan sosialisasi penanaman pohon bagot, lokasi lahan penanaman yang bisa dibantu oleh lembaga adat, pemerintah dan juga stake holder.

Selain itu, untuk menjangkau lahan yang sulit, dibutuhkan alat yang sederhana, ketapel. Ketapel bisa dipergunakan efektif melempar bibit ke tanah yang jauh dan terjal.

“Semua ini, demi masa depan masyarakat di daerah. Demi menjaga alam dan keberlangsungsan kehidupan manusia yang beradab. Demi peningkatan kesejahteraan melalui bibit bagot yang sudah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa bagi manusia, terutama di hampir seluruh Indonesia, khususnya di Kawasan Danau Toba, Tanah Kelahiran saya, Tanah Batak. Hal yang sama bisa dilakukan di belahan daerah Nusantara lainnya, di hampir seluruh wilayah Indonesia,” tutur Jainal Pangaribuan.




Dia berharap, ada sense of belonging dan kepedulian serta sokongan nyata dari berbagai stake holders, terutama pemerintah daerah dan pemerintah pusat, untuk mengembangkan pohon bagot di daerah-daerah.

“Silakan, kalau pemerintah daerah dan pemerintah pusat hendak menyokong, dan sangat puji syukur. Sebab, ini demi masa depan anak-anak bangsa Indonesia, khususnya di daerah-daerah,” tandas Jainal Pangaribuan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan