Pemerintah Gandeng Petani Kelapa Sawit Kembangkan Biodiesel

Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dengan Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM Andriah Feby Misnah, Sabtu, 14 Desember 2019.
Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dengan Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM Andriah Feby Misnah, Sabtu, 14 Desember 2019.

Pengembangan program biodiesel yang dicanangkan pemerintah mendapat respon positif dari kalangan petani kelapa sawit.

Program itu didukung dan mesti dikembangkan dengan melibatkan petani kelapa sawit. Hal itu juga ditegaskan Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM Andriah Feby Misnah, dalam pertemuan dengan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), di kantornya, pada Sabtu, 14 Desember 2019.

Pertemuan itu membahas keterlibatan petani secara langsung dalam produksi biodiesel (B20-B30). Jadi, bahan baku biodiesel berupa Tandan Buah Segar (TBS) diminta disuplai langsung dari kebun petani ke pabrik biodiesel.

“Saat ini pemerintah memikirkan bagaimana program Biodiesel dengan bahan bakunya berasal dari petani sawit sekitar pabrik biodiesel. Sampai pada seberapa besar sawit rakyat mendukung program biodiesel pemerintah mulai dari pemanfatan CPO untuk konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD),” tutur Andriah Feby Misnah.

Untuk kebutuhan itu pula, lanjutnya, data potensi sebaran petani harus ada. Andriah mengatakan, pihaknya sudah menyurati Dinas Perkebunan di daerah. “Beberapa Dinas sudah merespon. Selain Dinas, kami juga ingin bekerjsama dengan asosiasi petani sawit seperti SPKS untuk menyediakan data petani yang siap mendukung program ini,” ujarnya.

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto menyambut baik upaya pemerintah melibatkan petani kelapa sawit dalam pengembangan biodiesel. “Kami menyambut baik, jika petani kelapa sawit dilibatkan sebagai pemasok bahan baku pada program biodiesel (B20-B30),” ujar Darto.

Memang, lanjutnya, selama ini ada kegelisahan petani kelapa sawit yang tidak bisa langsung memasok bahan baku ke pemerintah dan pabrik-pabrik.

“Ini sudah menjadi keinginan kami sejak lama. Harus ada trasformasi rantai pasok yang selama ini merugikan petani sawit.  Seharusnya koperasi petani langsung menjual kepada pabrik biodiesel,” ujar Mansuetus Darto.

Untuk itu, dia mengatakan, petani kelapa sawit akan mempersiapkan diri untuk mengembangkan program biodiesel pemerintah. Proses bisa dimulai dengan pemetaan, legalitas petani sampai pada mendukung Program Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).

Sebagai langkah awal, dikatakan Darto, pihaknya akan mempersiapkan data petani sawit anggotanya yang berada di sekitar perusahaan yang memproduksi biodiesel. Selain itu, petani juga akan didampingi secara terus menerus untuk memperkuat kelembagan koperasinya sebagai wadah kerjasama perusahaan dan petani.

“Kami harapkan juga ini menjadi mandatori kepada industri biodiesel, petani langsung menjual langsung kepada pabrik biodiesel  yang diatur dalam peraturan pemerintah” ujar Darto.

Diakhir pertemuan, SPKS menyerahkan data petani sawit anggota SPKS kepada Direktur Bioenergi. Selain itu juga disepakati akan dilakukan koordinasi secara terus menerus untuk mewujudkan  keinginan dari pemerintah, agar petani sebagai pemasok bahan baku pada program biodiesel (B20-B30).(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan