Pemberantasan Narkoba Gagal, Pejabat Jadi Pemain Sekaligus Bandar, Harus Dihukum Lebih Mati Lagi

Gerebek Apotek, BNN Sita Obat Daftar G dan Psikotropika.

Hampir setiap hari ada operasi pemberantasan peredaran narkotika. Pemberitaan pun tidak surut dari aksi-aksi berkenaan dengan Narkoba itu.

Yang lebih miris lagi, hampir tiap hari juga ada operasi atau informasi yang menunjukkan peredaran narkotika di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan atau Rumah Tahanan (Rutan).

Jika penjahat narkotika seperti Freddy Budiman dinyatakan terbukti dan bersalah lalu dihukum mati, maka para pejabat entah di lapas, rutan atau polisi atau aparat penegak hokum lainnya yang ketahuan dan benar melakukan bisnis haram itu, bukankah harusnya dihukum lebih berat lagi?

Wakil Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) Jakarta Timur, Charles Hutahaean menuturkan, para aparatur Negara atau aparat hukum yang terbukti sah dan meyakinkan menjalankan roda bisnis haram narkoba harus dihukum lebih berat dari masyarakat biasa. Harus lebih berat dari hukuman mati yang dijatuhi kepada gembong narkoba Freddy Budiman.

“Harusnya dihukum lebih mati lagi, melebihi kematian yang dihukumkan kepada Freddy Budiman, kalau bisa,” ujar Charles Hutahaean.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Ditjen Pas) Rika Aprianti menampik jika tempatnya bekerja itu membiarkan adanya peredaran dan bisnis haram narkoba di lapas dan rutan.

“Tolong jangan konsen  pada Polisi atau BNN yang menggeruduk Narkoba saja dong. Jajaran kami pun berintegritas memberantas narkoba, banyak narkoba yang masuk ke dalam lapas digagalkan petugas kami,” ujarnya.

Namun, begitu ditanyakan mengenai adanya oknum sipir dan Kalapas yang terindikasi kuat mengendalikan narkoba di Lapas, Rika melemparkannya ke atasannya saja untuk meresponnya. “Itu sudah di luar kewenangan saya. Ke atasan saja kalau yang begitu,” ujar Rika.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan