Pekerja PT Toba Pulp Lestari Aniaya Anak Balita, Komnas Perlindungan Anak: Dihukum Minimal 5 Tahun Penjara

Pekerja PT Toba Pulp Lestari Aniaya Anak Balita, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait: Dihukum Minimal 5 Tahun Penjara.
Pekerja PT Toba Pulp Lestari Aniaya Anak Balita, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait: Dihukum Minimal 5 Tahun Penjara.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait meminta aparat penegak hukum untuk segera mengusut dan menjatuhkan sanksi berat keada  pihak PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang sebelumnya bernama PT Inti Indorayon Utama (PT IIU), karena adanya pemukulan dan dugaan kekerasan yang terjadi kepada anak balita, usia 3 tahun atas nama Morris Ambarita.

Untuk tindak pidana seperti itu, Kepolisian diminta bergerak cepat, tidak tertele-tela, dan tegas pada pihak perusahaan.

“Sudah cukup bukti bahwa anak berinisial MA mengalami kekerasan dan penganiayaan. Pelakunya terancam minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara,” tutur Arist Merdeka Sirait, Selasa (17/09/2019).

Hal itu, ditegaskan Arist, sesuai ketentuan pasal 81 UU No  35 Tahun 2014, mengenai perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Arist menegaskan, Kapolres Simalungun harus menangkap dan menahan pihak Humas PT Toba Pulp Lestari (TPL) Sektor Aek Nauli. Yang diduga menganiaya anak inisial MA.

Kejadian itu dampak dari konflik lahan adat turun menurun  antara PT TPL dengan warga Masyarakat Sihaporas, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Dengan demikian, kata dia, tidak ada alasan bagi Polres Simalungun untuk tidak merespon dan menindaklanjuti laporan orangtua MA atas tindak kekerasan ini.

“Seharusnya pihak TPL berhati-hati dan lebih mengedepankan  pendekatan persuasif   dalam menyelesaikan konflik lahan antara management TPL dan masyarakat. Tidak mengedepankan kekuasaan dan kekerasan,” ujar Arist.

Lebih jauh, Arist berharap, atas tidak kekerasan yang dilakukan TPL terhadap anak MA,  Kapolres Simalungun dan jajaran Kasatrekrimum segera menindaklanjutinya.

“Saya percaya itu, karena segala bentuk tindak kekerasan terhadap anak tidak dapat ditoleransi. Apapun bentuknya karena itu adalah perintah Undang-undang,” tegasnya.

Untuk memastikan tindak pidana yang diduga  dilakukan managemen TPL  terhadap  MA,  Komnas Perlindungan Anak Indonesia segera menurunkan Tim Investigasi Cepat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Simalungun dan Kota Siantar.

“Untuk melakukan investigasi mendalam dan berkoordinasi dengan Polres Simalungun serta  memberikan bantuan psikologis bagi korban,” ujar Arist.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*