Pekerja Asing Merangsek ke Indonesia, Bukti Pemerintah Gagal Lindungi Buruh Lokal

Pekerja asing ramai masuk ke Indonesia, pemerintah gagal lindungi pekerja lokal.

Tenaga kerja Indonesia (TKI) tidak seimbang dengan jumlah tenaga kerja asing yang berada di Indonesia. Masuknya para Tenaga kerja asing dianggap semakin menambah angka pengangguran di negara ini.

 

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal berpendapat, Pemerintah Indonesia seharusnya bisa menyeimbangkan Tenaga Kerja Asing (TKA) dengan tenaga kerja lokal. “Buruh berpendapat bahwa Pemerintah harus menyetop kedatangan para tenaga kerja asing ke Indonesia. Di dalam undang undang nomor 13 tahun 2003 tentang TKA, itu wajib didampingi oleh dua tenaga lokal,” kata Said Iqbal saat ditemui Sinar Keadilan, di Kampung Dukuh, Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, (Rabu 27/7/2016).

 

Menurutnya, kewajiban bahwa setiap satu orang pekerja asing harus didampingi oleh dua tenaga local, harus dilaksanakan. Hal itu dikatakan dia, agar terjadi Transfer Of Job kepada tenaga kerja lokal.

 

“Sehingga, jika tenaga asing kembali ke negaranya bisa digantikan oleh tenaga lokal,”tambahnya.

 

Jumlah TKA yang ada di Indonesia saat ini sekitar 15 Ribu orang. Akibatnya, angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat seiring denga masuknya para TKA.

 

Said Iqbal menganggap, pemerintah melakukan hal ini karena ingin mengejar petumbuhan ekonomi Indonesia dengan mengundang para investor asing. Namun, di sisi lain Pemerintah tidak memikirkan  dampaknya kepada rakyat.

 

Kebijakan-kebijakan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla juga dianggap gagal. Pemerintah dianggap gagal mengurangi angka kemiskinan dan tidak bisa memberikan pekerjaan kepara para pengangguran.

 

“Seharusnya, pemerintah mampu mengurangi angka kemiskinan dan penganggauran. Lah yang terjadi sekarang, adalah gagalnya pemerintahan Jokowi-JK dalam mengimplementasikan kebijakanya,” ujar Said Iqbal.

 

Tidak hanya itu, masalah pengupahan juga sangat jauh berbeda antara TKA dengan Tenaga Kerja Lokal. Gaji yang di terima para tenaga kerja lokal jauh lebih rendah dibandingan dengan para TKA.

 

“Dalam upah untuk pekerjaan yang sama, antara orang Tiongkok dengan orang lokal itu upahnya beda. Ada 6 pabrik baja, hampir 30 persen upahnya di bawah UMR,” jelasnya.

 

Selain itu, masuknya para Warga Negara Asing itu juga dianggap dapat membahayakan keamanan Negara. Menurut Iqbal, kedatangan mereka ke Indonesia bisa saja dengan tujuan lain atau menjadi mata-mata di Indonesia.

 

Seperti kejadian pada bulan Mei tahun 2016 lalu, para pekerja Cina sedang melakukan pekerjaan tanpa diketahui di Pangkalan TNI Angkatan Udara di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

 

“Bisa jadi mata-mata seperti yang di Halim. Alat-alat mereka kan canggih. Dia bisa deteksi. Bisa berbahaya bagi kedaulatan Negara,” ucap Said Iqbal,(Tornando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan