Breaking News

Pasien Diterlantarkan, Rumah Sakit Dan BPJS Kesehatan Kok Saling Pingpong

Pasien Diterlantarkan, Rumah Sakit Dan BPJS Kesehatan Kok Saling Pingpong.

Pasien diterlantarkan, sedangkan pihak Rumah Sakit (RS) dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) sibuk saling pingpong.

Hal itu dialami oleh pasien peserta BPJS Kesehatan bernama Rauna Simarmata di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.

Boy Kemboy Silaban, anak dari pasien Rauna Simarmata mengungkapkan, ibunya dan dirinya tidak diberikan pelayanan dan penjelasan yang masuk akal oleh pihak RSCM.

“Kondisi Ibu sedang kritis. Malah diterlantarkan. Disuruh berdoa saja,” tutur Boy Kemboy, di Jakarta, Jumat (05/10/2018).

Dia pun menelusuri dan bertanya kepada setiap pejabat di RSCM, supaya Ibunya yang mengidap sakit tumor itu segera ditangani. “Malah saya diomelin. Di-pingpong. Pihak Rumah Sakit menyalah-nyalahkan BPJS Kesehatan yang belum bayar klaim,” ungkapnya.

Rauna Simarmata adalah pasien peserta BPJS Kesehatan. Sudah menjalani 6 kali kemoterapi. Kemboy menuturkan, pada awal konsultasi, pihak keluarga sudah mendatangi poli bedah dengan penjelasan benjolan tumor tidak terlalu besar. Masih stadium 1.

Seiring berjalannya kemo, kondisi Rauna mengalami kemajuan. Hingga kemo ke 4, dan ketika konsultasi hendak kemo ke 5, benjolan kok kian membesar.

“Kami tanya dokter di poli bedah, kenapa benjolannya malah membesar? Tapi tak ada respon mengenai kondisi itu. Malah kami disarankan tetap lakukan kemo ke 5 tanpa evaluasi kondisi,” tutur Kemboy.

Kemo ke 5 dijalankan sesuai anjuran dokter. Memasuki kemo ke 6, jelas dia, benjolan malah semakin membesar. “Sampai akhirnya kita konsul lagi sama dokternya. Dokter tersebut malah memarahi kami. Bahkan keluhan mama saya tidak merespon,” ujarnya.

Akhirnya, pihak keluarga mencoba hendak pindah ke Rumah Sakit lain, dikarenakan pelayanan di RSCM dirasa tidak memadai.  Namun, menurut Kemboy, pihak RSCM, dari bagian hematologi berusaha mempertahankan agar tetap berobat di RSCM. Pihak keluarga pun memutuskan tetap di RSCM dengan pindag poli yakni ke poli hematologi.

Di poli hematologi, menurut Kemboy, pelayanan masih agak membaik. Suster dan dokter lebih ramah dan memberikan perhatian kepada pelayanan kesehatan pasien.

Persoalan lanjutan muncul ketika hendak melakukan kemo. “Yaitu, kendala tak ada kamar rawat, dan kekosongan obat,” ujarnya.

Terkait pengurusan kamar rawat inap saja, lanjutnya, selalu dipersulit. Selain itu, persoalan obat selalu bermasalah, kosong.

“Mama saya kan mau kemoterapi di RSCM. Tapi karena penyediaan obat di kosong, kami disuruh nunggu itu pun dengan waktu yang lama,” ujarnya.

Kemboy menambahkan, Ibunya tidak segera mendapat penanganan. Bahkan sudah diinformasikan kemungkinan sembuh sangat kecil. “Kok gitu mereka ngomongnya,” ujarnya.

Kepala Humas RSCM, lanjutnya, menyalahkan BPJS Kesehatan akibat kekurangan dana untuk pembelian stok obat-obatan.

“Dari pihak rumah sakit bilang itu karena dari pihak BPJS dana ke rumah sakit-nya kurang. Alasan yang diberikan oleh pihak RSCM juga tidak jelas dan berbelit-belit,” katanya.

Humas BPJS Kesehatan Pusat, Iqbal Anas Ma’aruf, membantah alasan penolakan yang dilakukan oleh pihak RSCM. Menurutnya, pihak rumah sakit tidak boleh menolak pasien dengan alasan kekosongan obat.

“Kepastian mendapatkan layanan di RS tentu mendasarkan pada kebutuhan media pasien. Sehingga Rumah Sakit tidak bisa menjadikan alasan karena obat kosong untuk tidak melayani pasien,” tutur Iqbal Anas Ma’aruf.

Tidak hanya itu, pihak BPJS kesehatan juga membantah kekurangan dana yang dicairkan terhadap RSCM. “Pemerintah sudah mencairkan suntikan dana, tentu untuk mengatasi masalah keuangan Rumah Sakit,” pungkasnya.(Nando Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*