Paling Banyak Terdampak Bencana dan Wabah Virus Corona, Kaum Perempuan dan Anak Butuh Perlindungan Negara

Setelah Bencana Banjir, Kini Wabah Virus Corona Melanda Indonesia

Setelah Bencana Banjir, Kini Wabah Virus Corona Melanda Indonesia. Paling Banyak Terdampak Bencana dan Wabah, Kaum Perempuan dan Anak Butuh Perlindungan Negara. Foto: Aktivis Politik Perempuan dan Anak Esther Riyan Megah Mandalawati. (Istimewa).
Setelah Bencana Banjir, Kini Wabah Virus Corona Melanda Indonesia. Paling Banyak Terdampak Bencana dan Wabah, Kaum Perempuan dan Anak Butuh Perlindungan Negara. Foto: Aktivis Politik Perempuan dan Anak Esther Riyan Megah Mandalawati. (Istimewa).

Dalam setiap bencana, khususnya yang terjadi di Indonesia, kaum perempuan dan anak yang paling banyak mengalami dampaknya. Tak terkecuali pada bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Jakarta.

Kini, wabah virus corona juga melanda Indonesia. Kaum perempuan dan anak kembali menjadi pihak terdampak terbesar.

Karena itu, Aktivis Politik Perempuan dan Anak, Esther Riyan Megah Mandalawati meminta Negara melalui pemerintah melakukan upaya serius melindungi perempuan dan anak Indonesia dari bencana banjir dan wabah virus corona.

“Kaum perempuan dan anak adalah anggota masyarakat yang paling banyak mengalami dampak bencana. Banjir maupun virus corona,” ujar Esther Riyan Megah Mandalawati, saat berbincang dengan wartawan, di Jakarta, Jumat (06/03/2020).

Dia mengingat, misalnya, saat banjir melanda Jakarta, sosok perempuan sederhana yang merupakan Ibu dari satu anak ini, sampai menyediakan waktunya secara khusus untuk berpuasa dan berdoa, agar bencana yang terjadi tidak menistakan kaumnya perempuan dan para anak.

“Sebab, ketika bencana banjir terjadi, maka dua segmen ini, yakni kami kaum perempuan dan anak-anak yang sangat merasakan dampak nurani,” ujar Esther Riyan Megah Mandalawati.

Jika bencana melanda, para perempuan akan sibuk dengan sejuta kekhawatirannya. Apalagi, ketika Rumah yang menjadi Istana Keluarganya dibobol air setinggi paha orang dewasa, misalnya, kekhawatiran kaum perempuan meningkat tajam.

Esther mengaku, dirinya sangat faham dan mengalami situasi kebathinan kaum perempuan seperti itu.

“Belum lagi buku dan meja belajar bahkan sepatu sekolah dan buku raib digenang air, maka niat menuntut ilmu pun basah karena menangis enggak bisa sekolah. Karena kebanjiran,” ujarnya.

Bahkan, dilanjutkan Esther, kepedihan yang dialami kaum Ibu, kaum perempuan dan anak-anak mereka terkadang sulit dinalar oleh kaum pria.

“Tentu kepedihan bagi kaum Ibu. Ibu dan perempuan adalah tetap Ibu,” tuturnya.

Sebab, naluri Ibu selalu tepat dan sangat berasa dalam setiap kejadian atau peristiwa. Tak tekecuali ketika terjadinya bencana.

Ibu yang menyempatkan waktunya di sela-sela kesibukannya menyambangi para sahabat pemulung untuk memberikan semangat agar tetap bertahan dan melanjalani kehidupan dalam anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa ini, menuturkan, kebangkitan sebuah bangsa dimulai dengan bangkitnya kaum perempuan untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan berbagai tugas dan fungsi strategis di masyarakat.

Karena itu, perlindungan dan penguatan kaum perempuan dan anak adalah prioritas yang seharusnya segera juga dilakukan pemerintah.

“Termasuk mengedepankan dan menyampaikan kepada dunia, bahwa begitu banyak kaum perempuan Indonesia yang berjuang dan berprestasi gemilang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat amat penting di bangsa ini. Ini harus dilakukan untuk menghargai dan mendukung kaum perempuan menjadi maju membangun masyarakat,” tutur Esther Riyan Megah Mandalawati.

Dia berharap, lembaga-lembaga Negara, partai politik, maupun komunitas-komunitas, tidak sekedar membuat lembaga yang mengatasnamakan perempuan. Akan tetapi tidak serius melindungi dan memperjuangkan kaum perempuan dan anak Indonesia.

“Jangan jadikan kaum perempuan hanya jadi pelengkap. Jangan hanya untuk tujuan memenuhi kuota perempuan. Sebab, setelah duduk di kursi empuk, malah tak bisa ngapa-ngapain untuk melindungi dan memajukan kaum perempuan,” tuturnya.

Bagaimana pun, dikatakan Esther, kaum perempuan sendiri yang lebih tahu persoalan dan kondisi kebathinan kaum perempuan dan anak. Karena itu, dalam setiap persoalan, maka kaum perempuan perlu didengar dan dikedepankan untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi.

“Kaum perempuan jangan ditenggelamkan. Banyak kaum perempuan yang berprestasi. Harus diangkat dan dipromosikan. Rule atau aturannya sudah ada, namun belum efektif untuk melindungi dan meningkatkan kehidupan yang lebih baik bagi kaum perempuan,” jelasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan