Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat?

Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat? – Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)
Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat? – Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)

Rencana penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak (Pilkada) yang dijadwalkan akan digelar pada 9 Desember 2020, terkesan sangat dipaksakan.

Selain situasi keterpurukan dan masa pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan akan berakhior, Pemerintah dan penyelenggaran Pilkada dianggap hanya memikirkan diri sendiri. Tidak pernah memikirkan kondisi rakyat yang sedang berantakan.

Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen menyikapi rencana Pilkada Serentak 2020.


Silaen menyampaikan, Pemerintah ingin memastikan Pilkada tidak akan bergeser dari 2020. Pilkada tetap akan diselenggarakan 9 Desember 2020.

“Lalu para calon itu akan bertarung dan berperang untuk apa dan untuk siapa? Sebab tidak ada jaminan virus corona atau Covid-19 ini akan selesai pada 2021. Karena, tidak ada negara di dunia bisa memastikan kapan berakhirnya virus tersebut. Jangan egois dan jangan hanya pikirkan diri sendiri dong,” tutur Samuel F Silaen, di Jakarta, Jumat (05/06/2020).

Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat? – Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)
Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat?Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)

Dia pesimis aka nada pertarungan politik yang sehat pada Pilkada Serentak kali ini. “Semoga saja yang terpilih itu pemimpin yang merakyat, amanah dan kerja buat rakyat. Bukan hanya kelompok tertentu seperti banyak kejadian di belahan negeri ini, diduga pemimpin diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Sebab pemimpin itu utusan Tuhan yang diberikan tanggung jawab membawa Rakyat-nya pada kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya,” tuturnya.


Perlu disadari, lanjutnya, janji politik hanyalah isapan jempol belaka. Tak ada yang sungguh-sungguh bisa menepati janjinya. Apalagi hanya sekedar Calon Kepala Daerah.

“Sesungguhnya janji Tuhan-lah yang pasti dan tidak meleset kepada ciptaanNya. Karena Dia-lah pemilik Alam Semesta ini. Beda dengan manusia jika berjanji dalam konteks kampanye, maybe yes maybe no. Bisa iya bisa juga tidak. Tanya kenapa? Itulah janji politik dapat dikatakan peolitik. Itu istilah Batak yang artinya melenceng,” ujar Silaen yang juga aktivis organisasi kepemudaan ini.

Jika berkaca pada kontestasi politik sebelum-sebelumnya, lanjutnya, belum ada pemimpin yang bisa menepati janji-janjinya. Apalagi, jika sekarang dipaksakan dalam situasi Covid-19, tidak akan ada Calon Kepala Daerah yang bisa memenuhi janji politiknya.

 

“Apakah pemimpin dahulu-kala bisa menepati dan melaksanakan janji-janjinya kepada rakyat? Tidak juga. Dalam bacaan litetaratur tak ada pemimpin yang 100% bisa menepati janji-janji politiknya. Ada saja yang tak bisa dikerjakan dengan baik sesuai janjinya,” katanya.

Apa penyebab pemimpin tidak dapat menyelesaikan semua janji politiknya yang disampaikan saat kampanye itu? Menurut Silaen, karena beberapa faktor di luar kendali dan dugaannya. Misal, pandemi covid-19 ini.

“Jika pemimpin bisa saja mengerjakan 75- 80% dari janjinya, itu sudah sangat luar biasa, meski demikian bukan berarti ada excuse atau maaf, tetap saja itu namanya pemimpin gagal,” tandasnya.


Pemimpin itu digambarkan sebagai utusan Tuhan dimuka bumi. “Karena pemimpin itu diberikan kesempatan dan terpilih dari sekian ratus bahkan jutaan rakyat. Selain takdir, garis tangan, nasib baik dalam istilah di Kitab Suci yang dipercayai manusia,” imbuhnya.

Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat? – Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)
Paksakan Pilkada Serentak Digelar 9 Desember 2020, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen: Kapan Pemerintah Sungguh-Sungguh Akan Pikirkan Penderitaan Rakyat? Foto: Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen. (Net)

Namun yang tak kalah penting adalah karakter pribadi yang dimiliki oleh pemimpin yang terpilih tersebut. Memang tidak bisa tutup mata bahwa ada saja kecurangan kecil atau besar yang coba dimainkan oleh pendukung atau istilah kerennya relawan dalam memenangkan pertandingan dalam konteks Pilkada, namun ada jalur hukum untuk menyelesaikan masalah itu.

Jika pemimpin terpilih itu tidak membawa manfaat dan perubahan yang baik kepada masyarakat ketika dia menjadi pemimpin, maka itulah pemimpin gagal.


“Atau mungkin menang karena dominasi kecurangan yang sistematis dan masif yang terjadi, tapi sulit dibuktikan oleh peradilan dunia, maka yang berlaku Hukum Alam, yakni kegagalan,” tambahnya.

Tugas Pemimpin berat itu karena  harus bisa mendatangkan kemaslahatan, memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dimana dia memimpin. “Gemah ripah loh jinawi, jadi pemimpin jangan hanya mikir enaknya saja,” tandasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan