Pakai Kaos Merah Datangi Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Ratusan Aktivis Lawan Kriminalisasi Petani dan Peternak

Kasus Kriminalisasi Aktivis Tani & Peternak, Gugatan Dicabut, Penyelesaikan Bisa Lewat Pengadilan atau di Luar Pengadilan.

Ratusan aktivis serta pegiat pertanian dan peternakan beramai-ramai mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Rabu (08/01/2019).

Mengenakan kaos warna merah, sejak pukul sembilan pagi, mereka telah berkumpul di sana. Tujuannya, memberikan dukungan terhadap Yeka Hendra Fatika, yakni seorang aktivis dan pegiat tani-ternak, yang diduga mengalami kriminalisasi.

Yeka yang adalah Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA), digugat oleh oleh Kepala Pusat dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian (Pusdatin Kementan) Eddy Purnomo dkk, lantaran melancarkan kritik atas data pertanian yang tidak sinkron di Kementerian yang dipimpin oleh Amran Sulaiman.

Sugeng Wahyudi, salah seorang pengurus Gabungan Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengatakan, dirinya turut prihatin dengan apa yang dialami Yeka. Sebab, sewaktu mengeluarkan kritikan yang disebut dengan Petisi Ragunan, dirinya pun ikut. Dan tidak ada persoalan yang harus dijadikan sebagai dasar mengkriminalisasi dari Pihak Kementan di petisi tersebut.

“Kriminalisasi terhadap petani dan peternak harus dilawan,” tutur Sugeng Wahyudi, di pelataran Gedung PN Jakarta Timur, Rabu (08/01/2019).

Sesuai jadwal sidang yang diterima, Yeka akan menghadapi sidang pertama pada Rabu (08/01/2019). Hal itu sesuai surat dari PN Jaktim yang dikirimkan ke Yeka dkk. Pukul 10 pagi, sidang dimulai. Persidangan digelar di Ruang Nomor 13, Ruang Sidang Mudjono.

Pantauan di lapangan, sidang terbuka untuk umum. Ratusan aktivis yang kemudian menyebut diri mereka dengan AgriWatch itu memenuhi ruangan. Persidangan berlangsung tak lebih dari 5 menit. Ketua Majelis Hakim menjelaskan, gugatannya telah dicabut oleh pihak Kementerian Pertanian, per tanggal 2 Januari 2019. Perkara sudah tidak ada.

Seorang petugas pengadilan menyampaikan lembaran surat pencabutan gugatan itu kepada para peserta sidang.

Para aktivis merasa dibohongi oleh pihak Pengadilan dan juga Kementerian Pertanian. Yeka Hendra Fatika menyampaikan, pihaknya akan memikirkan langkah selanjutnya atas pencabutan gugatan perdata itu.

Dia mengatakan, beberapa kali pihak Kementerian Pertanian mencoba menghubungi dirinya dan meminta bertemu, agar tidak mengikuti persidangan. Namun, Yeka merasa aneh, sebab dirinya dipanggil resmi oleh pengadilan untuk mengikuti persidangan terhadap dirinya.

“Beberapa kali diminta ketemu, dan tidak usah sidang. Saya kan merasa aneh, yang menggugat siapa? Yang digugat siapa? Yang dikriminalisasi siapa?” tutur Yeka.

Meski begitu, dia berjanji akan berembug dengan teman-temannya para aktivis, dan para pendukungnya, serta tim kuasa hukum, terkait langkah dan sikap apa yang akan dilakukan atas tindakan pihak Kementerian Pertanian itu.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*