Pak Presiden, Tolong Hentikan Korban Bertambah, Sebaiknya Segera Tandatangani Revisi PP 44 Tahun 2015

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar: Pak Presiden, Tolong Hentikan Korban Bertambah Sebaiknya Segera Tandatangani Revisi PP 44 Tahun 2015.
Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar: Pak Presiden, Tolong Hentikan Korban Bertambah Sebaiknya Segera Tandatangani Revisi PP 44 Tahun 2015.

Sebelum kian banyak korban, Presiden Joko Widodo diketuk lagi hatinya agar segera menandatangani Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015.

Peraturan tentang jaminan dan santunan bagi para pekerja itu sangat dinantikan pekerja dan keluarganya.

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar menyampaikan, peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya seorang Satpam Penjaga Apotek Senopati, pada Minggu (27/10/2019) lalu, tidak tertahankan lagi. Asep Kamil, Sang Satpam, sudah meninggal dunia, anak istrinya pun kini makin berat beban hidupnya.

“Seandainya revisi PP Nomor 44 Tahun 2015 sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo, mungkin beban hidup isteri dan anak-anak Pak Asep Kamil bisa kian ringan lagi,” ujar Timboel Siregar, di Jakarta, Jumat (01/11/2019).

Dengan adanya PP 44 tahun 2015 yang sudah direvisi, menurut Timboel, seharusnya ahli waris pak Asep bisa mendapatkan manfaat lebih besar lagi.

Satpam Asep Kamil yang pada saat bertugas menjaga Apotek Senopati tertabrak sebuah minibus pada Minggu (27/10/2019) dini hari, sekitar Pukul 03.00 WIB. Tabrakan itu menyebabkan Asep Kamil meninggal dunia. Duka terdalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Menurut Timboel Siregar, duka memang tidak dapat ditolak, tetapi paling tidak bisa diminimalisir. Seperti untuk keluarga Pak Asep Kamil.

“Bagi keluarga almarhum Pak Asep menjadi tanggungjawab BP Jamsostek.  Sebagai peserta aktif di empat program BP Jamsostek yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKm), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP), kematian Pak Asep saat bekerja menjadi tanggungjawab BP Jamsostek untuk membantu keluarga Pak Asep. Sehingga resiko hidup bagi keluarga yang ditinggalkan dapat diminimalisir,” tutur Timboel Siregar.

Dia menerangkan, BP Jamsostek memberikan santunan kepada ahli waris Pak Asep sesuai ketentuan yang ada di PP No. 44 Tahun 2015 yaitu Santunan Meninggal Dunia. Besarannya sebanyak 48 kali upah. Jika dihitung, 48 x Rp. 4.000.000) = Rp. 192.000.000. Ditambah Santunan berkala Rp 4.800.000,- Biaya Pemakaman Rp 3.000.000,- dan Beasiswa sebesar 12.000.000,- ditambah lagi hak atas JHT sebesar Rp. 4.289.537,-.

“Serta Jaminan Pensiun yang akan diberikan secara berkala setiap bulan,” ujarnya.

Almarhum Asep Kamil meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Anak pertama sudah bekerja sementara anak kedua masih duduk di bangku SMA.

“Kepergian Pak Asep tentunya akan mempengaruhi perekonomian keluarga, mengingat Pak Asep adalah tulang punggung keluarga. Khususnya bagi studi anak kedua yang masih harus menempuh studi lanjutan di perguruan tinggi,” ujar Timboel.

Beasiswa yang diterima anak kedua Almarhum sebesar Rp 12 juta tentunya bisa membantu dalam proses menyelesaikan studi di SMA. Namun keluarga harus berpikir lagi untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi. “Ini menjadi pergumulan lanjutan bagi keluarga paska meninggalnya Pak Asep,” ujarnya.

Timboel Siregar mengatakan, dengan membaca draft revisi PP No. 44 Tahun 2015, yang sebenarnya hanya tinggal menunggu ditandatangani oleh Presiden, banyak hal yang bisa menimalisir penderitaan keluarga seperti keluarga sepeninggalnya Satpam Asep. “Namun sampai saat ini belum juga ditandatangani,” ujar Timboel.

Dia mengatakan, ada beberapa manfaat yang dinaikkan dalam revisi tersebut, seperti Santunan pemakaman naik dari Rp 3 juta menjadi Rp 10 juta, Beasiswa dari 1 anak menjadi 2 anak dengan perincian untuk tingkat TK/SD mendapat Rp 1,5 juta per tahun, tingkat SMP menjadi Rp 2 juta per tahun, SMA Rp 3 juta per tahun dan Perguruan Tinggi sebesar Rp 12 juta per tahun.

Untuk kasus kematian Satpam Asep, lanjut Timboel, bila saja Revisi  PP No 44 Tahun 2015 sudah ditandatangai Presiden, maka BP Jamsostek akan memberi santunan pemakaman kepada ahli waris sebesar Rp 10 juta dan beasiswa SMA sebesar Rp 3 juta. Dan, dan untuk kuliah nantinya sebesar Rp 60 juta ( = 5 tahun kuliah x 12 juta).

“Tentunya santunan dan beasiswa ini akan lebih membantu ahli waris, khususnya untuk mendukung anak Pak Asep yang tahun depan akan masuk kuliah,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan lag, katanya,  bahwa tandatangan Pak Presiden pada revisi PP No. 44 Tahun 2015 sangat ditunggu oleh pekerja atau buruh. Karena hasil revisi PP No. 44 tersebut akan memberikan manfaat lebih bagi peserta, maupun ahli waris peserta program JKK dan JKm.

“Dengan dana kelolaan JKK sebesar Rp 32,47 Triliun dan program JKm sebesar Rp 11,78 Trliun, data per 30 Juni 2019, tentunya Program JKK dan JKm akan mampu lebih memberikan kesejahteraan bagi pekerja beserta keluarganya yang menjadi peserta JKK dan JKm,”  jelas Timboel Siregar.

Dia pun berharap, agar Presiden segera menandatangani revisi PP No. 44 Tahun 2015 tersebut. Karena sangat dinanti oleh pekerja. “Jangan biarkan ada ahli waris pekerja lainnya yang dirugikan Pak,” pungkas Timboel Siregar.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan