Pak Presiden, Tidak Anda Perhatikankah Kalimantan? Putra-Putri Dayak Layak Masuk Kabinet

Pak Presiden, Tidak Anda Perhatikankah Kalimantan? Putra-Putri Dayak Layak Masuk Kabinet.
Pak Presiden, Tidak Anda Perhatikankah Kalimantan? Putra-Putri Dayak Layak Masuk Kabinet.

Orang-orang Dayak kembali menyuarakan, agar putra-putri Dayak yang mumpuni, direkrut menjadi Menteri di Kabinet Kerja Jilid II Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma’aruf Amin.

Selama 74 tahun Republik Indonesia menjadi sebuah Negara Bangsa atau Nation State, Kalimantan sering hanya dijadikan sapi perah oleh para elit di Negara ini.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (DPD GAMKI Kaltara) Otto Simon Tanduk mengatakan, Pulau Kalimantan adalah Pulau Ketiga Terluas di Indonesia. Dengan segudang sumber daya alam, hutan dan tambangnya.

Otto Simon Tanduk mengatakan, beberapa hari ini, dari sekian banyak nama-nama yang disebut akan dijadikan sebagai menteri oleh Joko Widodo, tak seorang pun yang berdarah Dayak. Tidak juga mewakili wilayah Kalimantan yang luas itu.

“Selama 74 tahun Indonesia merdeka, belum pernah ada orang Dayak yang jadi Menteri. Kalimantan, negeri yang dilimpahi kekayaan alam dan tambang yang sangat besar, sering hanya jadi mainan elit di Pulau Jawa. Nyatanya, suku-suku Dayak, sangat banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, yang juga kehidupannya tertinggal,” tutur Otto Simon, Selasa (22/10/2019).

Otto menegaskan, secara sosial ekonomi, Kalimantan saat ini dirambah, dijarah dan dikuasai oleh para pendatang. Terutama oleh kaki tangan elit dari Pulau Jawa. Hampir semua elit di Negeri ini, lanjutnya, memiliki harta kekayaan yang dikeruk dari Pulau Kalimantan.

“Padahal, orang-orang Dayak juga memiliki putra-putri yang mumpuni. Yang pendidikannya tinggi, yang loyalitasnya tidak perlu diragukan lagi kepada NKRI. Kenapa Presiden dan elit-elit tidak melirik putra-putri Dayak untuk menjadi Menteri? Tidak adakah yang bisa dijadikan Menteri dari Dayak?” tutur Otto Simon Tanduk.

Dia mengingatkan, Pulau Kalimantan juga saat ini menjadi hutan yang dilindungi dunia. Sebagai paru-paru dunia. Selain itu, Presiden Joko Widodo juga telah mengumumkan bahwa Ibukota Negara Republik Indonesia akan dipindah ke Pulau Kalimantan.

“Apakah tidak ada bagian bagi Orang Dayak? Jangan sampai Orang Dayak terusir di Tanah Kelahirannya sendiri,” ujarnya.

Putra asli Dayak  lainnya, Stefanus Wiwin, juga minta Presiden Joko Widodo memilih anak Suku Dayak Asli untuk masuk menjadi salah seorang menteri di Kabinet.

Menurut Stefanus Wiwin, sejak Indonesia Merdeka, memang belum pernah ada dari suku Dayak yang menjadi menteri.

Stefanus Wiwin yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Provinsi Kalimantan Barat (DPD GAMKI Kalbar) itu meminta Presiden Joko Widodo untuk peka terhadap permintaan Orang Dayak.

Stefanus Wiwin menegaskan, alasannya Dayak merupakan salah satu suku besar di Indonesia dan penduduk asli pulau Kalimantan. Sampai saat ini suku Dayak masih banyak berada di daerah-daerah pedalaman dan dalam keadaan tertinggal.

“Karena itu, posisi Menteri yang berasal dari Suku Dayak akan mampu mendorong serta meningkatkan potensi-potensi suku Dayak untuk kemajuan bangsa. Sosok atau figur Dayak yang menjadi Menteri juga akan menjadi inspirasi bagi suku Dayak dalam meningkatkan kompetensi suku Dayak,” tutur Stefanus Wiwin.

Lebih lanjut, Sekretaris Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Kalimantan Barat (PS GMKI Kalbar) ini mengatakan, sebagai wujud keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  dalam bingkai NKRI, maka suku Dayak selaku bagian anak bangsa harus mendapat posisi yang sama dengan saudara-saudaranya dari suku lain, yang berada di dalam diri Bangsa Indonesia sebagai sebuah Nation State.

“Jadi,  merendahkan suku Dayak berarti merendahkan bangsa Indonesia. Dan mengenyampingkan suku Dayak berarti mengeyampingkan bangsa Indonesia,” ujar Stefanus Wiwin.

Perlu disampaikan, lanjutnya, dalam pembangunan bangsa, fungsi dan kontribusi  suku Dayak harus sama dengan orang Indonesia yang lain. Sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

“Suku Dayak juga memiliki harga diri dan memiliki kemampuan yang tidak perlu diragukan,” cetusnya.

Sebagai wujud konkrit keadilan dan pemerataan pembangunan di Indonesia, maka suku Dayak sudah sewajarnya menjadi Menteri.

“Dengan adanya keadilan yang demikian,  maka suku Dayak akan dapat setara dan sejajar dengan masyarakat lain,” imbuhnya.

Rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur, kata dia, juga sebagai bagian penting untuk menjadikan suku Dayak menjadi Menteri dalam kabinet.

“Sebab tidak etis rasanya kami suku Dayak selaku penduduk asli pulau Kalimantan menjadi penonton di daerah sendiri,” pungkas Stefanus Wiwin.

Stefanus Wiwin mengatakan, seringkali Orang Dayak hanya dijadikan penonton di Republik Indonesia.

“Jangan pula untuk kabinetnya Pak Jokowi-Amin, Orang Dayak menjadi penonton setia di negeri ini,” tuturnya.

Wiwin menyebut, ada banyak tokoh Dayak dan juga figur-figur Orang Dayak yang layak dan sangat mumpuni sebagai Menteri.

Sebut saja, antara lain Teras Narang. Teras Narang adalah mantan Ketua Komisi 3 DPR RI. Juga mantan Gubernur Kalimantan Tengah 2 periode.

“Pak Teras Narang juga Ketua PGI dari GKE, yakni Gereja Kristen tertua dan terbesar di Kalimantan. Teras Narang juga mantan Presiden Majelis Adat Dayak Nasional. Dan kini jadi anggota DPD RI terpilih 2019-2014,” terang Stefanus Wiwin.

Juga ada Cornelis. Cornelis adalah mantan gubernur Kalbar 2 periode. Cornelis juga mantan Ketua PDIP Kalbar. Dan kini anggota DPR RI 2019-2024. “Pak Cornelis sekarang juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional,” ujarnya.

Juga ada Willy M  Yoseph. Anggota DPR RI. “Pak Willy sekarang Ketua Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional. Dan, Ketua Majelis Sinode GKE. Mereka itu Orang-Orang Dayak,” ujar Stefanus Wiwin.

Selama ini, lanjut Stefanus Wiwin, untuk wilayah Kalimantan, pembangunan dan pertolongan kepada masyarakat Dayak dilakukan oleh Gereja. Masih sangat minim peran dan fungsi pemerintah dan Negara untuk kemajuan orang Dayak.

Stefanus Wiwin berharap, dengan adanya Orang Dayak menjadi menteri di Kabinetnya Jokowi-Ma’aruf Amin, perhatian serius untuk melindungi dan menyelamatkan Orang Dayak dan Kalimantan dari berbagai persoalan, bisa dengan mudah dilakukan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan