Pak Presiden, Jangan Lupakan Akarnya Pancasila

Diskusi, deklarasi dan pelantikan Ketua DPD Gerakan Pembumian Pancasila (GPP DKI Jakarta) Ralian Jawalsen, Wakil Sekretaris Apriliayani Peppy Rutch Sinaga, Bendahara I Made Rama beserta jajaran DPD GPP DKI Jakarta, di Gedung Dharma Sevanam, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (24/11/2019). Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) DR Anton Dieben Robinson Manurung.
Diskusi, deklarasi dan pelantikan Ketua DPD Gerakan Pembumian Pancasila (GPP DKI Jakarta) Ralian Jawalsen, Wakil Sekretaris Apriliayani Peppy Rutch Sinaga, Bendahara I Made Rama beserta jajaran DPD GPP DKI Jakarta, di Gedung Dharma Sevanam, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (24/11/2019). Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) DR Anton Dieben Robinson Manurung.

Presiden Joko Widodo diingatkan agar tidak melupakan nilai-nilai dan juga dasar fundamental berkehiudpan berbangsa dan bernegara Indonesia berdasarkan Pancasila. Pancasila harus konkrit dinyatakan dalam pemerintahan, dan juga kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) DR Anton Dieben Robinson Manurung, dalam Deklarasi dan Pelantikan DPD GPP DKI Jakarta, di Gedung Dharma Sevanam, Rawamangun, Jakarta Timur, pada Minggu (24/11/2019).

Bahkan, Anton Dieben Robinson Manurung menegaskan, tumbuh suburnya gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia, dikarenakan Pemerintah tidak memahami akar dari ideologi Pancasila. Jika mengabaikan akar, maka akan tumbang dan mejadi ancaman dalam negeri ini.

“Tumbuh suburnya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, terorisme atau radikalisme karena selama ini lupa merawat akar, lama-lama pohon akan mati dengan sendirinya. Akar ideologi Pancasila adalah Marhaenisme,” tutur Anton Dieben Robinson Manurung.

Marhaenisme, lanjut Anton, ajaran Soekarno terkait petani bernama Marhaen. Memiliki tanah dan cangkul tetapi miskin karena sistem yang menindas.

“Soekarno merenung akan penindasan yang dilakukan kaum kapitals, yang menguasai 95 persen lahan yang dikuasai 5 persen para pemilik modal,” ujarnya.

Selanjutnya, Anton mengingatkan, jika negara ini mau beres, maka pemerintahan Joko Widodo- Ma’aruf Amin harus membereskan akar di negeri ini.

“Akar bangsa ini adalah Marhenisme Soekarno yang tidak dipahami dengan baik. Pemerintah Jokowi selayaknya menegakan Marhaenisme. Itu bukan milik candra dimuka dan Partai Nasionaliame Indonesia,” jelas pria yang adalah caleg PDI Perjuangan Dapil Sumatera II Pemilu 2014 itu.

Menurutnya, jika bangsa Indonesia mau beres maka harus dibenahi akarnya sehingga persoalan kesenjangan dapat diantasipasi dengan baik.

“GPP visinya membangun masyarakat Indonesia, yakni sosialisme Indonesia tanpa menghisap manusia atas manusia, bangsa atas bangsa,” ujar pengajar di Universita Mercubuana itu.

Sementara itu, Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Bondan Kanumoyoso mengatakan, Indonesia sampai saat ini kurang memahami idieologinya dengan baik. Padahal, lanjutnya, ideologi Pancasila lahir dari sejarah berdirinya bangsa ini.

“Bahkan pemberontakan tahun 1950-an, PRRI/Permesta dan DI TII untuk menggantikan Pancasi, tetapi sampai saat ini tidak tergantikan,” tuturnya.

Usai menggelar diskusi, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) DR Anton Dieben Robinson Manurung melantik Ketua DPD GPP DKI Jakarta Ralian Jawalsen, dampingi Wakil Sekretaris Apriliayani Peppy Rutch Sinaga, dan Bendahara I Made Rama beserta jajaran DPD GPP DKI Jakarta.

Rangkaian acara deklarasi dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan yang dipimpin Tim Medis DPP GPP Dr Yosephin Sumarni. Pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap peserta deklarasi. Sekaligus lomba pesan dalam bentuk visual pendek antar mahasiswa se-Jakarta.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan