Oknum Jaksa Kejari Dairi Ngeyel Paksakan Sidang Urusan Warisan Kakak Beradik Secara Pidana, Majelis Hakim Dimohon Bebaskan Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan Keluarganya

Oknum Jaksa Kejari Dairi Ngeyel Paksakan Sidang Urusan Warisan Kakak Beradik Secara Pidana, Majelis Hakim Dimohon Bebaskan Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan Keluarganya

- in DAERAH, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, PROFIL
695
0
Foto: Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi) di Jalan Sisingamangaraja No 162 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut). (Net)Foto: Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi) di Jalan Sisingamangaraja No 162 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut). (Net)

Telah terjadi upaya kriminalisasi yang diduga dilakukan oleh oknum penyidik Polres Dairi berinisial ISH (Ilham Saputra Harahap-Red), bersama oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi) berinisial JS (Junjungan Simbolon-Red), terhadap Ibu Rumah Tangga bernama Lestari Lusinda Sianturi dan Suaminyanya Boston Benni Butar-Butar serta seorang sahabat mereka bernama Matheus Fernando Barus.

Hingga Rabu (26/6/2024), perkara dugaan pengrusakan plang yang dipasang di depan pintu rumah Lusinda Lestari Sianturi yang dilaporkan oleh saudara lelakinya bernama Jerrys Henri Sianturi, di Jalan Sisingamangaraja No 238, Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, telah memasuki persidangan dengan agenda Pembacaan Tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) oleh Jaksa Junjungan Simbolon dan kawan-kawannya.

Persidangan digelar di Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi) yang terletak di Jalan Sisingamangaraja No 162 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Persidangan dilakukan secara daring

Para Terdakwa yang terdiri dari Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar-Butar dan Matheus Fernando Barus bersama Kuasa Hukumnya dihadirkan di ruangan di Kantor Kejari Dairi. Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga hadir di ruangan, sedangkan Majelis Hakim terpampang di layar.

Persidangan terbuka untuk umum. Namun para pengunjung sidang tidak diperbolehkan mengambil dokumentasi, foto atau pun video.

Dalam persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi), yakni Jaksa Junjungan Simbolon, membacakan tuntutan 8 bulan penjara kepada Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar-Butar dan Matheus Fernando Barus. Dengan tetap para Terdakwa dalam status tahanan.

“Statusnya Ibu Lestari Lusinda Sianturi sudah dilepas dari tahanan badan dari sel penjara, dan kini masih tetap berstatus sebagai Tahanan Kota. Sedangkan dua terdakwa lagi tetap dalam tahanan di sel tahanan,” tutur Leo Fernando Zai, anggota Kuasa Hukum Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar-Butar dan Matheus Fernando Barus dari Law Firm D.R.S & Partners, yang mendampingi para Terdakwa dalam kasus ini, kepada wartawan dalam keterangannya, Sabtu (29/6/2024).

Dalam kasus yang menimpa Ibu Lestari Lusinda Sianturi ini, dijelaskan Leo Fernando Zai, seorang oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Sidikalang Dairi (Kejari Dairi) berinisial JS (Junjungan Simbolon-Red) memaksa menyidangkan kasus pencopotan plang yang dipasang oleh salah seorang ahli waris yang berisi ‘Tanah dan Rumah Ini Milik Jerrys Henri Sianturi’.

Pelapor atas nama Jerrys Henri Sianturi mengklaim secara sepihak warisannya itu, apalagi plang tersebut berisikan klaim sepihak yang membuat ahli waris lainnya gondok dan marah, karena dipasang tepat di depan pintu rumah, yang di mana salah seorang ahli waris bernama Lestari Lusinda Sianturi yang ditetapkan sebagai Terdakwa, tinggal di rumah warisan itu.

“Padahal, Lestari Lusinda Sianturi juga masih memiliki hak atas rumah tersebut karena dia adalah juga sebagai anak kandung, yang dikategorikan sebagai Golongan 1 Penerima Warisan,” jelas Leo Fernando Zai.

Leo Zai menyebut, kesalahan oknum Jaksa JS, yaitu surat penyerahan warisan, atau yang dihibahkan kepada Jerrys Henri Sianturi sebagai Pelapor, tidak mempunyai kekuatan hukum, atau dapat dibatalkan.

“Karena awalnya, mereka ada kata sepakat, tetapi tiba-tiba kesepakatan itu diduga dikhianati oleh Jerrys Henri Sianturi sebagai Pelapor,” katanya.

Leo menegaskan, negara hanya mengakui kepemilikan tanah yaitu adanya Surat Hak Milik (SHM) dan lain-lain (Sertifikat). “Tetapi tanah ini diklaim satu pihak ahli waris. Dan ini adalah bentuk ketidakadilan,” imbuhnya.

Karena, lanjut Leo, sudah dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah (PP)Nomor 24 Tahun 1997 pada Pasal 37 ayat 1, Sahnya tanah warisan yang dihibahkan (diserahkan) kepada salah satu ahli waris, wajib dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Paling parahnya lagi, yang mengklaim itu adalah Jerrys Henri Sianturi, yang diduga telah memasang plang dan memasang Closed Circuit Television (CCTV) secara ilegal di seberang rumah, untuk menjebak Lestari Lusinda Sianturi dan suaminya Boston Benni Butar-Butar, dan seorang teman mereka Matheus Fernando Barus.

“Hal itu dengan adanya penyerahan bukti CCTV oleh pihak Jerrys Henri Sianturi kepada Jaksa di depan persidangan. Dan ternyata, dari rekaman CCTV itu, tergambar bahwa tidak ada pengrusakan plang. Yang ada hanya mencopot plang tersebut karena terpasang di depan pintu rumah, dan menghalangi orang masuk ke dalam rumah. Itu yang terekam di CCTV tersebut,” ungkap Leo Fernando Zai.

Leo Zai melanjutkan, penerapan Pasal 170 ayat 1 KUHP yang didakwakan oknum Penyidik/oknum Jaksa kepada Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarga adalah sebagai upaya sengaja agar dapat melakukan penahanan kepada Lestari Lusinda Sianturi dan keluarga, karena pasal itu memiliki ancaman penjara 5 tahun.

Padahal, jika merujuk pada Pasal 170 ayat 1 KUHP yang didakwakan itu, yakni dengan terang-terangan, maka wajib ada satu orang yang melihat peristiwa itu.

“Tetapi yang terjadi adalah, saksi yang dihadirkan oleh oknum Jaksa ternyata tidak ada satu orang pun yang melihat peristiwa itu. Mereka hanya mendasarkan pada rekaman CCTV yang buram dan tidak jelas itu,” ungkapnya.

Ditambah lagi, lanjut Leo, bahwa delik Pasal 170 ayat 1 KUHP, pengrusakan itu adalah delik kejahatan ketertiban umum.

“Dan itu tidak terbukti, karena plang itu dipasang di depan pintu rumah, pas di Jalan Raya. Semoga Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini di Pengadilan Sidikalang memiliki kebijaksanaan, karena ujung tombak keadilan adalah berada di tangan Yang Mulia Majelis Hakim,” ujarnya.

Oknum Jaksa Kejari Dairi Diadukan Kepada Jaksa Agung Burhanuddin

Seorang oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Dairi (Kejari Dairi) di Sumatera Utara, berinisial JS bakal dilaporkan kepada Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin.

Oknum Jaksa JS yang diduga berkolaborasi dengan oknum penyidik dari Polres Dairi bersama oknum Pelapor dan seorang yang diduga provokator yang mengaku-ngaku sebagai seorang advokat berinisial FS, itu pun akan dilaporkan juga kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas), Dr Ali Mukartono di Kejaksaan Agung Jakarta, atas dugaan kriminalisasi dan pemaksaan persidangan yang harus dijalani seorang Ibu Rumah Tangga dan keluarganya, di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Pengacara dari Law Firm D.R.S & Partners, yang mendampingi korban Ibu Rumah Tangga bernama Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya, yakni Leo Fernando Zai, membenarkan bahwa pihaknya sudah mengirimkan Surat Permohonan Perlindungan Hukum kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin, yang juga berisi pelaporan tentang kasus dan dugaan kriminalisasi oknum Jaksa JS bersama komplotannya terhadap kasus ini.

“Iya benar, surat sudah kami kirimkan kepada Bapak Jaksa Agung Republik Indonesia ST Burhanuddin di Jakarta, yang juga kami sampaikan kepada Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Umum atau Jampidum, dan juga kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan,” tutur Leo Fernando Zai.

Dari beberapa kali persidangan yang dipaksakan, menurut Leo Fernando Zai, sangat jelas adanya upaya yang didesain dengan sengaja oleh oknum pelapor atas nama Jerrys dan seseorang anggota keluarga yang mengaku-ngaku sebagai advokat berinisial FS, dengan oknum penyidik di Polres Dairi dan kemudian bersama oknum Jaksa JS dari Kejari Dairi, untuk memaksakan persidangan dan menjebloskan Ibu Lestari Lusinda Sianturi, bersama suaminya Boston Benni Butar-Butar, serta sahabatnya Matius Fernando Barus.

“Juga dari pengakuan klien kami kepada kami, bahwa sejak awal kasus ini, oknum penyidik dan oknum Jaksa sudah kerap melakukan penekanan, menakut-nakuti dan melarang keras memberitahu persoalannya ini kepada siapapun, termasuk kepada wartawan,” ungkap Leo Fernando Zai.

Dikarenakan terus menerus mendapat ancaman dan intimidasi dari Pelapor atas nama Jerrys dan seseorang anggota keluarga yang mengaku-ngaku sebagai advokat berinisial FS, dengan oknum penyidik di Polres Dairi dan oknum Jaksa JS dari Kejari Dairi, maka Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya tertekan dan mengadukan persoalannya ini kepada semua pihak, termasuk kepada Kejaksaan Agung.

“Mulai dari pengancaman akan diperberat hukumannya, kemudian adanya bukti CCTV yang buram yang dipaksakan sebagai bukti di persidangan, selanjutnya adanya upaya penahanan paksa terhadap Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya. Juga adanya persidangan maraton yang digelar di kantor Kejaksaan Negeri Dairi, secara online, semua ini sangat janggal dan sangat kasat mata adanya dugaan kriminalisasi terhadap klien kami,” tutur Leo Fernando Zai.

Karena itu, Leo berharap Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin, beserta jajarannya dari Kejaksaan Agung di Jakarta, segera bertindak dan menindak tegas oknum Jaksa JS dan komplotannya.

“Kiranya Pak Jaksa Agung terketuk hati nuraninya, dan menghentikan kriminalisasi yang dilakukan oknum Jaksa terhadap klien kami,” harapnya.

Pelapor Yang Masih Saudara Kandung Terlapor Dikompori Seorang Oknum Mengaku-ngaku Pengacara Berinisial FS

Sebelumnya diberitakan, seorang Ibu Rumah Tangga bernama Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya di Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, telah mengalami dugaan ‘penganiayaan hukum dan keadilan’ melalui aksi ‘pengeroyokan hukum’ yang diduga dilakukan oleh oknum Penyidik Polres Dairi yang berkolaborasi dengan oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi).

Leo Zai, salah seorang anggota Kuasa Hukum dari Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya, mengungkapkan, telah terjadi rangkaian penganiayaan keadilan hukum yang diduga dilakukan komplotan Pelapor bersama oknum pengacara dan oknum penyidik Polres Dairi dengan oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Dairi, terhadap satu keluarga di Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

“Kami menjadi sedih, trenyuh, dan menangis, setelah melihat dan memverifikasi proses-proses pelaporan hingga ke penyidikan dan bahkan hingga ke proses penuntutan terhadap Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya. Kami menemukan, adanya upaya yang sistematis dan skenario yang sangat gamblang, yang dilakukan Pelapor dan seorang pengacaranya kepada klien kami L Boru Sianturi dan keluarga,” tutur Leo Zai.

Leo Zai memaparkan, pada sidang lanjutan kasus lapor melapor atas pencopotan plang di depan rumah Ibu Lestari Lusinda Sianturi itu, yang dilakukan di kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi) secara online pada Senin (27/5/2024), Majelis Hakim menolak penangguhan penahanan yang diajukan Leo Zai dan kawan-kawan.

“Sungguh kami melihat sudah hilang rasa kemanusiaan mereka. Klien kami, Ibu Lestari Lusinda Sianturi harus segera ditahan di dalam sel tahanan, menyusul suaminya yang sudah lebih dahulu dilakukan penahanan badan. Padahal, kami menyampaikan, penangguhan penahanan. Mengingat Ibu Lestari Lusinda Sianturi harus mengurusi anak-anaknya yang masih kecil-kecil di rumah,” ungkap Leo Zai.

Selain diseret dan langsung dimasukkan ke dalam sel tahanan, lanjut Leo Zai, Ibu Lestari Lusinda Sianturi juga dipaksa harus mengakui adanya upaya pencopotan plang di depan rumahnya.

Alasannya, karena Si Pelapor dan pengacaranya telah memasang CCTV pada sebuah rumah tetangga di seberang rumah yang ditempati Ibu Lestari Lusinda Sianturi. Sehingga, tertangkap kamera CCTV itu ada pengrusakan plang, yang gambar dan videonya buram atau tidak terang, sebab direkam pada malam hari.

“Kami menilai, semua peristiwa ini sudah dirancang sejak awal, diskenariokan, dan dilakukan untuk bersengaja menjebak klien kami Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya,” ujarnya.

Leo Zai menjelaskan, sebenarnya awal mula perkara ini adalah adanya urusan rumah warisan milik orang tua Lestari Lusinda Sianturi dengan saudara kandungnya bernama Jerrys Henri Sianturi, yang menjadi pelapor dalam kasus ini.

Jerrys mengklaim, rumah peninggalan orang tua mereka itu, sudah menjadi hak miliknya sepenuhnya. Sehingga, adik perempuannya yakni Lestari Lusinda Sianturi dan keluarga kecilnya, harus segera angkat kaki dari rumah itu.

“Padahal, rumah warisan peninggalan orang tua mereka itu sudah disepakati oleh 12 orang anak-anak kandung orang tua mereka, termasuk Si Pelapor, bahwa nantinya rumah itu harus diserahkan oleh Jerrys kepada adik perempuannya yang paling bungsu, yakni kepada Ibu Lestari Lusinda Sianturi ,” ungkapnya.

“Sebab, selama orang tua mereka sakit-sakitan hingga meninggal dunia, Ibu Lestari Lusinda Sianturi-lah yang mengurus orang tua mereka. Klien kami satu-satunya anak bungsung yang tinggal di kampung itu, dan merawat serta mengurusi orang tua mereka selama ini. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain sudah menikah dan tinggal di perantauan,” tuturnya lagi.

Selama proses kasus ini, dikatakan Leo Zai, kliennya Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya mengakui bahwa ada ancaman, intimidasi dan upaya-upaya pengeroyokan proses hukum yang dilakukan Pelapor bersama pengacaranya yang masih merupakan kerabat langsung Pelapor, bersama oknum penyidik Polres Dairi bersama oknum Jaksa dari Kejaksaan Negeri Dairi.

“Menurut pengakuan klien kami, mereka kerap ditekan dan diancam-ancam oleh oknum penyidik Polres Dairi, dan oknum Jaksa dari Kejari Dairi, seperti membentak-bentak klien kami dengan ancaman akan dipenjarakan dan diperberat hukumannya, jika mengadukan persoalan ini ke Jakarta. Juga melarang klien kami untuk memberitakan persoalannya lewat pers,” beber Leo Zai.

Karena itu, Leo Zai memohon kepada Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin di Jakarta, dan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit di Jakarta, agar kiranya segera bertindak dan menghentikan proses-proses pengeroyokan hukum yang menyebabkan teraniayanya Ibu Lestari Lusinda Sianturi  dan keluarganya secara hukum.

“Kiranya Bapak Jaksa Agung dan Pak Kapolri, sebagai pimpinan tertinggi di Jakarta, segera bertindak kepada anak-anak buahnya di daerah ini. Sebab, pengalaman kami di daerah, sering kali memang oknum-oknum aparat penegak hukum itu sendiri yang melakukan dugaan kriminalisasi dan atau membuat tekanan-tekanan dan merusak proses hukum itu sendiri,” pinta Leo Zai.

Keluarga Besar Sianturi Sepakat Rumah Peninggalan Orang Tua Mereka Diserahkan Kepada Lestari Lusinda Sianturi

Sejumlah keanehan terjadi pada kasus dugaan kriminalisasi yang dilakukan Saudara Kandung terhadap adik perempuan kandungnya di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Misalnya, pada hari Selasa (21/05/2024), adalah sidang keempat yakni sidang eksepsi dan pembacaan putusan sela terhadap kasus yang menimpa seorang Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya, di Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi.

Sejak pertama, kasus ini disidangkan di Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi), yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja No 162 Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, sudah diprotes.

Menurut salah seorang kakak kandung korban Lestari Lusinda Sianturi, yakni Cathrin Sianturi yang datang dari Jakarta bersama adiknya Riris Sianturi, dan Rugun Sianturi, untuk menghadiri persidangan, yang digelar di Gedung Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi), menemukan sejumlah keanehan dalam kasus yang dialami adik kandung mereka, Lestari Lusinda Sianturi.

“Bukan di Pengadilan Negeri Sidikalang, tapi sidang dilaksanakan di Kejaksaan Negeri Dairi. Alasannya, persidangan ini dilakukan secara online. Padahal, letak kantor Kejaksaan Negeri Dairi ke gedung Pengadilan Negeri Sidikalang Dairi hanya berjarak sekitar 2 kilo meter saja,” tutur Cathrin Sianturi kepada wartawan.

Selain itu, sejumlah keanehan lainnya, diduga adanya ‘permainan’ antara pihak Pelapor atas nama Jerrys Henri Sianturi bersama pengacaranya inisial FS, dengan oknum penyidik di Polres Dairi, dan oknum Jaksa JS di Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi).

Sehingga menyebabkan, persoalan terkait warisan berupa rumah peninggalan orang tua di antara sesama anak-anak orang tua Pelapor dan Terlapor kian sarat dengan berbagai keanehan.

Kasus ini bermula dari adanya pemindahan sepihak dan melanggar kesepakatan yang dilakukan  anak ke-10 berinisial Jer dari keluarga PO Sianturi/Istri Boru Bakara terkait rumah di Sumbul Pegagan, Sidikalang Dairi. Yakni klaim sepihak yang dilakukan anak ke-10 dari 12 bersaudara atas rumah peninggalan orang tua mereka.

Mendiang PO Sianturi/Istri Boru Bakara memiliki 12 anak yang terdiri dari putra dan putri. Selain itu, mediang PO Sianturi/Istri Boru Bakara, juga meninggalkan sebuah rumah ukuran 360 meter, di Jalan Sisingamangaraja No 238, Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Selama ini, anak-anak dari PO Sianturi/Istri Boru Bakara sudah menikah, dan tinggal di tempat berbeda, terutama di perantauan.

Hingga kasus ini muncul, yang menempati rumah peninggalan orang tua mereka adalah anak ke-12 yang merupakan putri bungsu dari pasangan PO Sianturi/Istri Boru Bakara, yakni Lestari Lusinda Sianturi.

Lestari Lusinda Sianturi  telah menikah dengan suaminya Boston Benni Butar-butar, serta memiliki tiga orang anak kelas 5 SD, kelas 3 SD, dan kelas 1 SD.

Sejak kedua orang tua mereka masih hidup dan sakit karena usia lansia, Lestari Lusinda Sianturi sebagai putri bungsu, sudah tinggal dan menetap di rumah itu. Lestari Lusinda Sianturi juga yang merawat dan mengurusi orang tuanya sebelum meninggal dunia.

Kini pun, Lestari Lusinda Sianturi bersama suaminya Boston Benni Butar-butar dan ketiga anaknya telah disepakati oleh seluruh anak-anak PO Sianturi/Istri Boru Bakara yang 12 orang itu, untuk ditinggal dan memiliki rumah peninggalan orang tua mereka yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja No 238, Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi itu. Sehari-hari, Lestari Lusinda Sianturi berjualan kue-kue dan kebutuhan pokok di Pasar Sidikalang.

Cathrin Sianturi, yang turun dari Jakarta untuk mengawal proses persidangan yang menimpa adiknya Lestari Lusinda Sianturi, menuturkan, mereka pulang ke Jalan Sisingamangaraja No 238, Sumbul Pegagan, untuk membantu adiknya Lestari Lusinda Sianturi dalam menghadapi persoalan yang ditimbulkan oleh saudara laki-laki kandung mereka sendiri yakni Jerrys Henri Sianturi terkait rumah peninggalan orang tua mereka itu.

“Jadi, sebenarnya, rumah itu sudah kami sepakati semua, ya  kami semua anak-anaknya Bapak PO Sianturi/Istri Boru Bakara, untuk diserahkan kepada adik kami Lestari Lusinda Sianturi. Itu sudah kami sepakati pada hari Minggu, 11 Juni 2023 silam. Bahkan pada hari itu juga, sudah dibuat surat penyerahannya,” ungkap Cathrin Sianturi.

Pada proses penyerahan surat pada Minggu, 11 Juni 2023 itu, dilakukan oleh 11 orang anak-anak PO Sianturi/Boru Bakara kepada Jerrys Henri Sianturi.

Dan pada hari yang sama, Jerrys Henri Sianturi menyerahkan Surat itu kepada Lestari Lusinda Sianturi, dengan ditandatangani 3 orang saksi yaitu Saksi pertama Rugun Sianturi yakni anak pertama, saksi Ringgas Pandapotan Sianturi yakni anak kedua, dan saksi Rita Sianturi yakni anak ketiga.

Sebagai keluarga yang memegang teguh Adat Batak, lanjut Cathrin Sianturi, pada Minggu 11 Juni 2023 itu, sebanyak 11 orang anak-anak PO Sianturi/istri Boru Bakara, terlebih dahulu menyerahkan rumah itu kepada anak laki-laki bungsu yakni anak ke-10 yang bernama Jerrys Henri Sianturi untuk selanjutnya segera diserahkan lagi kepada adik bungsu mereka yakni Lestari Lusinda Sianturi.

“Jadi, seharusnya rumah itu memang sudah menjadi haknya adik kami Lestari Lusinda Sianturi. Lagi pula, itu tidak gratisan kok. Adik kami Lestari Lusinda Sianturi sudah menyerahkan semacam uang pengganti, dengan DP-nya, Rp 30 juta kepada Jerrys Henri Sianturi. Ada bukti transfernya kok,” beber Cathrin Sianturi.

Namun, anehnya, lanjut Cathrin Sianturi, ternyata Jerrys Henri Sianturi membuat Surat Penyerahan rumah itu bukan kepada Lestari Lusinda Sianturi, melainkan kepada anak ke-4 yakni Evelinda Sianturi. Nah, oknum pengacara berinisial FS itu adalah menantu dari Evelinda Sianturi.

“Jerrys membagikan surat itu di Grup WA keluarga. Dia bilang, rumah itu sudah diserahkan kepada yang lain. Bukan kepada Lestari Lusinda Sianturi, tapi kepada Evelinda. Dan kami semua kaget. Kami protes dong. Sangat disesalkan mengapa dia ubah dan malah jadi ke Evelinda? Saya lihat, surat penyerahan rumah yang dikirimkan Jerrys itu juga ditandatangani Saksi yakni anak laki-laki tertua yaitu anak kedua, Ito Ringgas Pandapotan Sianturi. Kok bisa di surat yang berbeda dia tandatangani oleh Ito Ringgas,” beber Cathrin Sianturi.

Atas klaim sepihak yang dilakukan oleh Jerrys Henri Sianturi terhadap rumah peninggalan orang tua mereka itu, lanjut Cathrin Sianturi, sebanyak 5 orang anak-anak PO Sianturi/Istri Boru Bakara, menyatakan tidak setuju.

“Maka pada hari Jumat, tanggal 29 September 2023 lalu, kami membuat Surat Bantahan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN). Kami membantah bahwa rumah itu akan diserahkan ke Evelinda,” ujar Cathrin Sianturi.

Jerrys Henri Sianturi ternyata terus berulah. Pada hari Selasa, tanggal 03 Oktober 2023, sore hari pada saat tidak ada orang di rumah, Jerrys Henri Sianturi memasang plang berisi klaim sepihak darinya bahwa rumah  Jalan Sisingamangaraja No 238, Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi itu adalah miliknya dan harus segera dikosongkan oleh penghuni.

Plang itu dipasang di depan pintu rumah, sehingga menghalangi akses masuk ke dalam rumah. Plang itu juga terpasang miring, seperti hendak jatuh. Pada malam harinya, dengan melihat ada plang yang tidak semestinya di depan rumahnya, Boston Benni Butar-butar berinisiatif mencopotnya.

“Karena takut jatuh dan malah menimpa anak-anak kecil, maka adik ipar kami Benni Butar-butar yakni suaminya adek kami Lestari Lusinda Sianturi, berinisiatif mencopot plang itu. Selain itu, plang itu karena menutup akses masuk ke rumah,” ungkap Cathrin Sianturi.

“Kebetulan pada waktu malam itu, seorang temannya Boston Benni Butar-butar sedang lewat dan melihat kondisi plang yang miring itu, dengan inisiatif tetangga ini pun membantu adik kami Boston Benni Butar-butar untuk mencopot plang tersebut,” lanjutnya.

Entah kapan dilaporkan, tiba-tiba suaminya Lestari Lusinda Sianturi yakni Boston Benni Butar-butar dipanggil ke Polsek Sumbul. Untuk mengklarifikasi dan menjelaskan peristiwa yang terjadi pada pencopotan plang itu.

Pihak Polsek Sumbul sempat meminta agar persoalan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan saja. Dan tak perlu lapor melapor ke Polisi.

Namun, Jerrys Henri Sianturi malah membuat laporan baru ke Polres Dairi di Sidikalang. “Kami dilaporkan oleh Jerrys ke Polres Dairi sekitar bulan Oktober 2023,” ujar Lestari Lusinda Sianturi.

Lestari Lusinda Sianturi menyampaikan, pada saat di kantor Polres Dairi itu, Jerrys Henri Sianturi mengancam tidak akan mencabut laporannya, apabila Surat Bantahan yang ke BPN tidak ditarik oleh Lestari Lusinda Sianturi dan kakak-kakaknya. Dan juga, Jerrys Henri Sianturi mendesak Lestari Lusinda Sianturi segera mengosongkan rumah itu.

“Kami diminta mencabut surat atau laporan bantahan di BPN, dan kami diminta dalam waktu secepatnya mengosongkan rumah itu. Jika itu tidak dilakukan, maka laporan Jerrys di Polisi tidak akan dicabut,” tutur Lestari Lusinda Sianturi.

Laporan Jerrys Henri Sianturi ini ditangani oleh penyidik Polres Dairi inisial marga P dan inisial ISH. Sejak ditangani Polres Dairi, Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya merasa terancam dan sering mendapat tekanan psikis.

Jerrys Henri Sianturi tampak sering didampingi oleh seorang ngaku-ngaku pengacara berinisial FS, yang merupakan menantu dari Evelinda Sianturi. Artinya, pengacara FS ini masih kerabat langsung dari Jerrys Henri Sianturi, karena masih menantu dari saudarinya yakni Evelinda Sianturi.

“Kami diancam akan dipenjarakan. Saya dan suami saya akan ditahan di sel Polres. Ya tentu saya merasa tertekan dan terancam,” ujar Lestari Lusinda Sianturi.

Ternyata benar, Lestari Lusinda Sianturi dan suaminya Boston Benni Butar-butar dilakukan penahanan. Boston Benni Butar-butar ditahan di Polres Dairi, sejak Senin, 22 April 2024. Sedangkan Lestari Lusinda Sianturi dikenakan status Tahanan Kota.

“Waktu itu, saya tidak ditahan di dalam sel atas jaminan dari mertua saya. Mertua saya menjamin bahwa saya tidak akan aneh-aneh dan tidak akan melarikan diri. Lagi pula, saya harus mengurus anak-anak saya yang masih kecil-kecil di rumah,” tutur Lestari Lusinda Sianturi.

Bagai proses kilat, kasus ini pun segera dilimpahkan ke pihak Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi). Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Dairi yang menangani perkara ini adalah JS (Junjungan Simbolon-Red). Sidang perdana langsung dikebut dijadwalkan pada Senin, 06 Mei 2024.

Nah, pada Sabtu, 03 Mei 2024, anak-anak Lestari Lusinda Sianturi  terserang stres dan trauma, karena ayah mereka ditahan di sel Polres Dairi.

Kakak-kakaknya Lestari Lusinda Sianturi yakni Cathrin Sianturi dan Riris Sianturi, yang masih berada di Sumbul untuk memberikan support kepada Lestari Lusinda Sianturi, tidak tega melihat anak-anak mereka yang masih kecil-kecil itu, terutama anak paling bontot yakni putri kecil yang masih kelas 1 SD, saban hari teriak-teriak dan menangis histeris mencari-cari ayahnya yang sedang ditahan di sel tahanan Polres Dairi.

“Akhirnya, untuk sekedar melepaskan stres, kami membawa mereka ke Pangururan, ke lokasi wisata Bukit Sibea-bea,” ucap Cathrin Sianturi.

“Sebab, pada hari Senin 06 April 2024 kami harus kembali dulu ke Jakarta,” katanya.

Ternyata, niat baik sekedar mengabadikan momen di Sibea-bea itu pun dipakai Jerrys Henri Sianturi bersama oknum Jaksa, untuk mengintimidasi Lestari Lusinda Sianturi.

“Memang foto-foto dan momen di Si Bea-Bea itu di-upload pada Minggu malam, tanggal 04 Mei 2024 di Facebook dan Grup WA keluarga. Eh, nggak tahunya, itu pun akan dijadikan bahan untuk menekan kami. Mau dilaporkan lagi kami dan akan diperberat katanya hukuman adik kami,” beber Cathrin Sianturi.

Lestari Lusinda Sianturi ditekan Jerrys Henri Sianturi melalui oknum Jaksa dengan menyerahkan surat yang berisi agar status tahanan kota diganti dengan tahanan badan di sel penjara karena liburan ke Pangururan, Samosir, di Bukit Si Bea-Bea itu. 

“Katanya, akan diperberat sebab status saya adalah Tahanan Kota,” ujar Lestari Lusinda Sianturi menambahkan.

Lestari Lusinda Sianturi dan Suaminya Boston Benni Butar-butar dituntut dengan Pasal 170 KUHP dan Pasal 406 KUHP.

Pasal 170 KUHP : Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.

Pasal 406 berisi: Pasal 406 Ayat (1)Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 406 Ayat (2) : Dijatuhkan pidana yang sama terhadap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum membunuh, merusakkan, membikin tak dapat digunakan atau menghilangkan hewan, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

“Padahal, tidak ada pengrusakan barang terjadi. Suami saya hanya mencopot plang dari depan rumah yang kami tinggali, yaitu rumah peninggalan orang tua kami,” ujar Lestari Lusinda Sianturi.

“Juga tidak ada barang bukti yang hilang. Kenapa Jaksa malah menuntut dengan pasal-pasal itu? Plang yang dicopot itu pun masih utuh dan bagus. Ada di Kejaksaan sekarang. Masih bisa dipakai lagi plang itu,” tandas Lestari Lusinda Sianturi.

Anggota Kuasa Hukum, Leo Fernando Zai, menambahkan, atas kasus ini, sudah semestinya Majelis Hakim memutus bebas kepada Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar-Butar dan Matheus Fernando Barus.

“Karena tidak terbukti kasus ini pidana. Dan semua rekayasa perkara ini sangat jelas terlihat bahwa pelapor dan kawannya FS bersama oknum Penyidik dan Oknum Jaksa mendesainnya sedemikian rupa sebagai kasus pidana. Padahal tidak ada,” ujar Leo Zai.

Ketika dihubungi wartawan lewat telepon selulernya, penyidik Polres Dairi, Ilham Saputra Harahap, dan Jaksa dari Kejari Dairi, Junjungan Simbolon, tidak merespon adanya permintaan klarifikasi dan atau penjelasan terkait kasus ini.(RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sambutan Ketua Umum PGI pada Resepsi Interfaith PBNU Bersama Imam Besar Masjid Al-Azhar Mesir; Pdt Gomar Gultom: Mari Bersama-Sama Selamatkan Peradaban, Selamatkan Kemanusiaan, Selamatkan Keberagaman

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta