Breaking News

Oknum Jaksa dan Polisi Diduga Ikut Bermain, Negara Malu, Pencurian Kapal Senilai Rp 40 Miliar Tolong Diusut Tuntas

Kapal Ukuran Besar Sitaan Jaksa Raib Dimalangin

Kapal Ukuran Besar Sitaan Jaksa Raib Dimalangin, Oknum Jaksa dan Polisi Diduga Ikut Bermain, Negara Malu, Pencurian Kapal Senilai Rp 40 Miliar Tolong Diusut Tuntas. Kapal Ukuran Besar Sitaan Jaksa Raib Dimalangin, Oknum Jaksa dan Polisi Diduga Ikut Bermain, Negara Malu, Pencurian Kapal Senilai Rp 40 Miliar Tolong Diusut Tuntas.

Jajaran pimpinan Kejaksaan dan Kepolisian didesak mengambil langkah cepat dan tegas terhadap oknum jaksa dan oknum polisi yang diduga ikut bermain dalam pencurian  Kapal Motor (KM) Kayu Eboni senilai Rp 40 miliar di Perairan Puloampel, Kabupaten Serang, Kamis (23/5/2019).

Koordinator Benteng Advokat Muda Salemba (BAMS) Haris Budiman menduga, kejadian itu bukanlah kejadian biasa. Apalagi, kapal berukuran besar itu dititipkan di wilayah PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PT PANN), dan dijagai oleh sejumlah anggota Polairud.





 

“Malu banget, kapal segede itu bisa raib karena dicuri. Ini pastinya ada permainan orang dalam, seperti oknum jaksa dan oknum polisi. Ini harus diusut tuntas. Negara rugi sekitar Rp 40 miliar karena dimalingi orang-orang dalamnya sendiri. Malu dong,” tutur Haris Budiman di Salemba Raya, Jakarta Pusat, Jumat (14/06/2019).

Haris melanjutkan, peristiwa itu semakin memperjelas perilaku petugas memang tidak professional dan tidak bertanggungjawab. Cerminan itu juga menunjukkan pimpinan institusi aparatur penegak hukum seperti Jaksa Agung dan Kapolri tidak profesional.

“Karena itu, Jaksa Agung dan Kapolri harus segera turun tangan dan mengusut tuntas persoalan ini. Malu dong Pak Jaksa Agung dan Pak Kapolri. Orang tukang tangkap maling malah dimalingin,” tuturnya.





 

Sementara itu, Koordinator Advokasi Benteng Advokat Muda Salemba (BAMS) Donny Manurung mendesak, persekongkolan busuk yang dilakukan oknum aparat penegak hukum seperti itu tidak boleh dibiarkan. Jangan sampai, warga masyarakat biasa yang maling makanan aja bisa segera ditangkap dan dipenjarakan, kok maling dari antara internal aparat hukum itu sendiri dibiarkan.

“Segera tangkap, ungkap dan usut tuntas. Kami tidak percaya kalau aparat hukum Indonesia bisa dibodoh-bodohi oleh oknumnya sendiri. Sikat tuntas dong,” ujar Donny.

Sebelumnya, Kapal Motor (KM) Kayu Eboni senilai Rp 40 miliar raib dicuri di Perairan Puloampel, Kabupaten Serang, Kamis (23/5/2019).





 

Kapal barang bukti titipan Kejari Jakarta Pusat tersebut dicuri oleh tujuh orang yang belum diketahui identitasnya. Pencuri memotong rantai kapal dan menariknya menggunakan tugboat.

Informasi yang dihimpun, kasus pencurian tersebut terjadi sekira pukul 21.30 WIB. Sebelum dicuri, ada tujuh orang yang mengaku disuruh pemilik kapal untuk memindahkan kapal tersebut. Ketujuh pelaku tersebut kemudian memotong rantai kapal agar dapat menariknya menggunakan tugboat.

Penarikan menggunakan dua tugboat tersebut dilakukan karena kapal dalam keadaan mati mesin atau black-out. Dua tugboat yang menarik kapal tersebut diketahui bernama Lampung Neolitus 01 dan Dragon Net II. Kedua tugboat tersebut membawa kapal ke arah Perairan Salira.





 

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Mukri menjelaskan, kapal itu sebenarnya masih dalam proses perawatan untuk selanjutnya dilakukan proses lelang.

“Kapal Eboni sudah dirampas oleh negara, dititipkan ke PT PANN untuk perawatan dan kita masih proses lelang. Ternyata ada yang mengaku-ngaku pemilik yang sah dengan menunjukkan dokumen-dokumen,” kata Mukri.

Saat dilakukan penarikan paksa tersebut, diduga ada dua kapal patroli yang ikut melakukan pengawalan. Pihak Kejari Jakarta Pusat yang mengetahui kasus pencurian tersebut telah membuat laporan di Polda Banten.





 

Laporan dibuat oleh Kasi Pidsus Kejari Jakarta Pusat Ista Catur Widisusilo pada 24 Mei 2019 dengan Nomor: TBL/192/V/RES.1.8/SPKT II/Banten. “Sudah kita laporkan ke Polda Banten,” kata Mukri.

KM Kayu Eboni adalah sitaan negara dalam kasus pemberian kredit oleh PT PANN ke PT Meranti. Pada 2011 PT PANN mengucurkan kredit kepada perusahaan Group PT Meranti Maritime untuk pengadaan kapal KM Kayu Putih.

Namun, KM Kayu Putih ternyata tidak layak jalan dan tidak bisa beroperasi. Alhasil, cicilan kredit jadi macet. Kemudian, KM Kayu Putih dikembalikan dalam kondisi tidak baik.





 

PT Meranti Maritime masih memiliki utang kepada PT PANN sebesar 18 juta dolar amerika dan Rp21 juta dengan jatuh tempo pembayaran pada 2015 lalu. Hampir bersamaan, PT Meranti Bahari, anak perusahaan dari PT Meranti Maritime, juga mendapat kucuran kredit dari PT PANN untuk membeli KM Kayu Eboni sebesar 27 juta Dolar Amerika. Kapal tersebut sebagai jaminan.

Hasil pemeriksaan, penyidik menemukan dugaan tindak pidana berupa mark-up dalam pemberian fasilitas keuangan negara untuk pembelian kapal yang dilakukan oleh PT Meranti Maritime dan PT Meranti Bahari. Pemberian dana talangan oleh PT PANN Pembiayaan Maritim diduga telah melanggar Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor: 29/POJK.05/2014 tentang Penyelengaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan mengenai larangan pemberian dana talangan.





 

Terpisah, Kabid Humas Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Edy Sumardi mengaku telah menerima laporan tersebut.

“Laporan kasus tersebut sudah diterima. Saat ini sedang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum,” ujar Edy.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*