Oknum Guru SD di Batanghari Pukuli Muridnya, Kok Polisi Tolak Laporan Tindak Kekerasan Terhadap Anak?

Oknum Guru SD di Batanghari Pukuli Muridnya, Kok Polisi Tolak Laporan Tindak Kekerasan Terhadap Anak?
Oknum Guru SD di Batanghari Pukuli Muridnya, Kok Polisi Tolak Laporan Tindak Kekerasan Terhadap Anak?

Aparat penegak hukum diminta menindaklanjuti tindak kekerasan yang dilakukan Guru kepada muridnya.

Sebagai pendidik, seharusnya Guru memberikan teladan dan juga mengikuti proses hukum atas perbuatannya yang melakukan kekerasan kepada murid.




Demikian pula, polisi dan aparat penegak hukum, hendaknya memroses laporan dan tindak pidana kekerasan yang dilakukan Guru kepada muridnya.

Ketidakjelasan penindakan aparat hukum kepada oknum guru yang memukuli muridnya terhadi di Desa Ture, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Harjanto, ayah dari murid bernama Tiara, protes. Putrinya yang masih duduk di Kelas VI SD di Desa itu menjadi korban pemukulan gurunya sendiri.




Kejadian itu pun sudah dilaporkan ke Polres Batanghari, Jambi. Namun didiamkan, dan tak diproses oleh Polisi.

Harjanto menuturkan, Tiara mengalami pemukulan atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh gurunya sendiri, Tarmizi. Selain dipukuli, anak murid itu juga diintimidasi sendiri oleh Guru Tarmizi.

“Awal mulanya, oknum Guru yang berinisial TM diduga telah melakukan tindakan kekerasan terhadap anak saya yang masih duduk di kelas VI SD. Bermula anak saya saat itu sedang melakukan aktivitas di luar sekolah yakni aktivitas belajar Madrasah yang tidak jauh dari rumah,” ungkap Harjanto, Jumat (07/02/2020).




Saat belajar di Madrasah itu, Tiara cekcok dengan seorang anak lainnya, yang ternyata adalah anak dari Guru Tarmizi. Anak itu menangis, lalu pulang ke rumahnya dan melapor kepada orang tuanya.

Selang beberapa hari kemudian, Tiara kembali melakukan aktivitas pagi masuk Sekolah Dasar,  dimana Sang Oknum Guru bernama Tarmizi itu mengajar.

“Tepat pada hari Sabtunya, anak saya masuk Sekolah Dasar seperti biasa. Setibanya di sekolah, anak saya langsung mendapat intimidasi dari Guru TM. Lalu, anak saya ditampar pada bagian pipi kanan dan kirinya. Anak saya terjatuh dan terduduk karena ditampari oleh TM,” ungkap Harjanto.




Kemudian, Jum’at tanggal 13 Desember 2019 lalu, pihak Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPKBPPPA) Kabupaten Batanghari melalui Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Perempuan, Najmi Ulyati dengan didampingi pihak kepolisian dari Polres Batanghari mendatangi sekolah dimana Guru Tarmizi mengajar.

“Tapi anehnya, Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan bilang, meskipun pelaku telah mengakui kesalahanya, namun untuk masalah ini pihak Dinas tidak bisa melaporkan kasus ini ke Penegak Hukum. Dengan alasan, pihaknya hanya bisa melakukan pembinaan dan perlindungan anak terhadap korban,” jelas Harjanto.

Hal yang sama juga dikatakan pihak Kepolisian Batanghari. Pihak kepolisian tak bisa menangani kasus itu.




“Kebetulan ada pihak kepolisian yang mendampingi kami. Menurut Pak Polisi masalah ini tidak bisa dibawa ke ranah hukum karena tidak ada alat bukti yang kuat,” imbuh Harjanto.

Padahal, lanjutnya, sebelumnya pihaknya sudah melaporkan masalah pemukulan itu ke Polres Batanghari. “Tetapi laporan kami dinyatakan ditolak,” sebutnya.

Alasan penolakan, lanjutnya, dikarenakan keluarga tidak membawa bukti berupa hasil visum atas pemukulan yang dilakukan Guru Tarmizi kepada Tiara.




“Saya bersama anak saya melapork ke Polres Batanghari. Tapi ditolak karena tidak ada visum dari dokter sebagai bukti,” ujarnya.

Harjanto dan keluarganya berharap, persoalan ini ditindaklanjuti oleh Kepolisian, Komisi Nasional Anak(Komnas Anak), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan), Kementerian Perempuan dan Anak, maupun DPR RI. “Kami berharap ada keadilan,” ujar Harjanto.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*