Nikolaus Kondomo, Putra Asli Papua Pertama Yang Jadi Kepala Kejaksaan Tinggi

Nikolaus Kondomo, Putra Asli Papua Pertama Yang Jadi Kepala Kejaksaan Tinggi.
Nikolaus Kondomo, Putra Asli Papua Pertama Yang Jadi Kepala Kejaksaan Tinggi.

Selamat untuk orang Asli Papua. Nikolaus Kondomo, adalah Putra Asli Papua yang pertama kali menduduki jabatan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati).

Hal itu terjadi setelah, Jaksa Agung Republik Indonesia Sanitiar Burhanuddin melantiknya sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Papua.

Pelantikan digelar di Gedung Baharuddin Lopa, Komplek Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (18/11/2019).

Selain Nikolaus Kondomo, di momen pelantikan yang sama, juga dilantik Kepala Kejaksaan Tinggi Banten (Kajati Banten) yakni Rudi Prabowo Aji.

Selain bagi Putra Asli Papua mencapai posisi Kajati untuk pertama kalinya, bagi Jaksa Agung ST Burhanuddin pelantikan itu pun adalah pertama kalinya melantik pejabat Eselon I dan Eselon II di Kejaksaan, sejak dirinya ditunjuk sebagai Jaksa Agung oleh Presiden Joko Widodo.

Pelantikan kali ini, untuk mengisi 3 Jabatan Jaksa Agung Muda (JAM) yang lumayan lama mengalami kekosongan.

Burhanuddin melantik Bambang Rukmono sebagai Jaksa Agung Muda Pembinaan (Jambin) Kejaksaan Agung.

Kemudian, Feri Wibisono sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jam Datun), Ali Mukartono sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jam Pidum).

Selain 3 orang di posisi JAM, Burhanuddin juga  melantik Sugeng Purnomo, Tony Tri Bagus Spontana dan Hidayatullah sebagai Staf Ahli Jaksa Agung.

Untuk Pejabat Eselon II ada Heffinur yang dilantik sebagai Direktur Tindak Pidana Narkotika Dan Zat Aditif Lainnya.

Burhanuddin juga melantik dua orang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yaitu Rudi Prabowo Aji sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Banten dan Nikolaus Kondomo sebagai Kejaksaan Tinggi Papua.

Kepada Nikolaus Kondomo dan Rudi Prabowo Aji yang dilantik bersamaa sebagai Kajati, Jaksa Agung ST Burhanuddin menekankan agar segera melakukan adaptasi dengan mempelajari dan menguasai situasi kondisi daerah penugasan masing-masing.

“Penanganan berbagai persoalan hukum tentunya harus dilakukan dengan memperhatikan pula nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat, namun tetap berpijak pada aturan hukum yang berlaku,” ujar Burhanuddin.

Dia meminta mereka menjadikan Kejaksaan sebagai institusi yang mengedepankan pelayanan prima dalam penegakan hukum bagi masyarakat, terutama para pencari keadilan.

“Optimalkan pula peran kejaksaaan dalam mendukung kebijakan Pemerintah sebagai bentuk komitmen bahwa Kejaksaan senantiasa mendukung program pembangunan pemerintah daerah setempat,” ujar Burhanuddin.

Sebelum menduduki Kajati Papua, Nikolaus adalah Wakil Jaksa Tinggi Papua. Dia mengganti posisi Hefinur yang semula Kajati Papua. Sedang Hefinur menggantikan posisi Rudi Prabowo.

Pelantikan ketiganya yang merupakan pejabat eselon II didahului pelantikan enam pejabat eselon I yaitu tiga Jaksa Agung Muda dan tiga staf ahli.

Usai prosesi peloantikan, Nikolausdalam bincang-bincang dengan awak media, dia menyatakan dirinya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah dipercaya Negara menjadi Kajati Papua, Putra Asli Papua.

Penunjukan dirinya sebagai Kajati juga menunjukan salah satu bentuk kepercayaan yang diberikan negara melalui Jaksa Agung kepada orang Papua, bahwa orang Papua juga bisa menjabat di posisi-posisi puncak dan strategis di Negara ini.

Selain itu, kata Nikolaus, kiranya posisi dirinya saat ini bisa memberikan motivasi kepada orang-orang Papua lainnya untuk terus berprestasi. Dan pasti akan mencapai posisi yang baik, jika memang ada kemauan, pasti ada jalannya.

“Untuk itu haruslah tetap belajar dengan sungguh-sungguh,” kata jebolan Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), Semarang, Jawa Tengah ini.

Nikolaus sendiri mengakui, dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi jaksa. Namun ketika ada pembukaan lamaran untuk menjadi pegawai kejaksaan, dia pun ikut melamar.

“Saya melamar tes masuk kejaksaan di Jakarta,” kata pria kelahiran Merauke yang setelah lolos menjadi pegawai kejaksaan memulai karirnya di Papua.

Nikolaus mulai menjabat dalam jabatan struktural sebagai Kasi Intel Kejari Sorong. Kemudian Kajari Fakfak dan Asisten Pidana Khusus pada Kejati Papua.

Setelah itu, dia mulai karirnya di luar Papua sebagai Kajari Sleman, kemudian Asisten Pengawasan Kejati Jawa Timur dan promosi jadi Koordinator pada JAM Datun.

Karirnya terus melejit dan dia dipercaya jadi Wakil Jaksa Tinggi Kalimantan Tengah. Tidak lama dia balik ke Papua sebagai Wakil Jaksa Tinggi Papua dan kini menjadi Kajati Papua.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan