Nelayan Tradisional Dukung Pemerintah Musnahkan Alat Tangkap Trawl

Nelayan Tradisional dari DPD KNTI Tanjungbalai Asahan Mendukung Pemerintah Musnahkan Alat Tangkap Trawl yang dilakukan Pemerintah Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada 11 November 2019.
Nelayan Tradisional dari DPD KNTI Tanjungbalai Asahan Mendukung Pemerintah Musnahkan Alat Tangkap Trawl yang dilakukan Pemerintah Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada 11 November 2019.

Nelayan Tradisonal yang tergabung dalam Dewan Pimpinan daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Tanjungbalai Asahan mendukung pemerintah melakukan pemusnahan terhadap alat tangkap trawl.

Ketua Dewan Pimpinan daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Tanjungbalai Asahan, Muslim Panjaitan menyampaikan, upaya Pemerintah Kota Tanjungbalai dalam menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan mendukung perikanan nelayan tradisional perlu terus didukung.

Apresiasi diberikan kepada Pemkot Tanjungbalai yang telah melakukan pemusnahan 52 unit alat tangkap pukat yang telah dilarang oleh hukum perikanan Indonesia.

Nelayan, katanya, juga tetap memberikan dukungan berupa penggantian alat tangkap. Kegiatan tersebut telah dilakukan pada 11 November 2019 lalu yang dihadiri langsung oleh para nelayan dan Ketua Dewan Pimpinan daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Tanjungbalai Asahan, Muslim Panjaitan.

“Pemusnahan alat tangkap trawl itu memang sudah seharusnya dilakukan. Terutama, Pemkot Tanjungbalai untuk menunjang kehiupan masyarakat nelayan tradisional Tanjungbalai dan Asahan. Tindakan ini harapannya akan berperan dalam kelangsungan hidup dan pelestarian sumber daya laut tetap terjaga dengan baik seperti terumbu karang, berbagai jenis ikan,” terang Muslim Panjaitan, Selasa (10/12/2019).

Dengan demikian, lanjutnya, langkah yang dilakukan pemerintah itu diharapkan memberikan peningkatan kesejahteraan bagi nelayan tradisional.

“Selain itu juga akan meningkatkan pemahaman hukum dan ilmu pengetahuan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan keanekaragaman hayati,” ujar Muslim Panjaitan.

Masyarakat nelayan di Tanjungbalai dan Asahan telah lama dihadapkan dengan trawl tanpa ada tindakan tegas pemerintah terhadap alat yangkap merusak tersebut.

Perikanan tradisional skala kecil sebagai profesi utama nelayan Tanjungbalai Asahan untuk kelangsungan hidup sehari-hari terdampak langsung oleh alat tangkap merusak tersebut, sehingga timbul konflik berkepanjangan.

DPD KNTI Tanjungbalai Asahan mengapresiasi Program Pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk melakukan Pemusnahan Alat Ikan Terlarang (Trawl Mini) dengan Penggantian Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan sebanyak 52 Unit dalam Bentuk kelompok Usaha Bersama.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan