Breaking News

Nasib Napi Yang Dianiaya Hingga Buta, Masih Harus Hadapi Persekongkolan Busuk Para Penegak Hukum

Ernita Simanjuntak, Ibu Yang Anaknya Dianiaya Sipir Hingga Buta di Lapas Bukit Semut, Ibu Berjuang Mencari Keadilan

Nasib Napi Yang Dianiaya Hingga Buta, Masih Harus Hadapi Persekongkolan Busuk Para Penegak Hukum.

Ernita Simanjuntak menuturkan, awal mulanya anaknya Renhad tidaklah buta. Meskipun, memakai kaca mata min, Renhad Hutahaean bisa melihat dengan jelas. Bisa membaca dan belajar dengan jelas.

Renhad bahkan bisa meluluskan kuliahnya dari Yogyakarta, sebelum akhirnya pulang ke Bangka Belitung untuk membantu dan mencari pekerjaan baginya. Renhad malah masih melanjutkan mengambil perkuliahan lagi di Pangkal Pinang, karena ingin menjadi Guru, seperti ibunya.

Singkat cerita, karena kriminalisasi, dan awam hukum, Renhad Hutahaean dipenjarakan. Di dalam penjara, di Lapas Bukit Semut, Sungailiat, Bangka Belitung, Renhad sudah menjalani hukuman selama dua tahun delapan bulan lebih, dari masa hukuman 12 tahun yang divoniskan kepada dirinya.

“Sudah hampir tiga tahun dipenjara. Selama di penjara, anak saya berkelakuan baik, tidak buta, bisa mengajar, disuruh jadi ketua di kamar selnya. Dipercayakan sipir memberikan bimbingan rohani, menjaga perpustakaan, menjadi instruktur senam, menulis keperluan-keperluan dan banyak lainnya. Artinya anak saya tidak buta. Saya tahu dan mengenal persis anak saya seperti apa,” tuturnya.

Pada sebuah kesempatan, sekitar bulan Maret ke April 2018, Sipir di Lapas Bukit Semut itu menginstruksikan, akan ada perbaikan WC (Water Closed) Lapas dan gantungan baju, dan renovasi kecil-kecilan kebutuhan lapas.

Setiap warga binaan atau Napi, diwajibkan mengumpulkan uang. Per kamar sel memiliki kewajiban sebesar Rp 300 ribu, untuk biaya renovasi itu. Renhad Hutahaean, yang di dalam kamar selnya dipercaya sebagai ketua kamar sel, diminta sipir mengutip uang dari setiap Napi di selnya.

Di dalam selnya, ada seorang napi bernama Kholik. Napi yang satu ini dikenal reseh dan tidak disenangi para napi lainnya. Dikarenakan perilakuknya yang sering meminta uang, merampas makanan, mengambil rokok dan puntung rokok milik napi lainnya di dalam sel itu, meminjam uang seenaknya dan tidak mengembalikan. Perilaku Kholik sangat menjengkelkan.

Sudah gerah dengan keberadaan Kholik di kamar sel itu, teman-teman Renhad yang lain yang satu sel, memanfaatkan situasi pengumpulan uang itu. Penghuni sel yang sebanyak 25 orang hingga 28 orang itu bersepakat meminta Kholik dipindahkan ke kamar sel lain saja.

Renhad diminta menaruh uang yang sudah mulai dikutipnya atas suruhan Sipir itu ke dalam tas-tas atau baju milik Kholik. Atas permintaan teman-teman satu selnya, Renhad melakukannya. Nah, ketika Sipir datang menagih uang yang dikutip, uang tidak ditemukan di Renhad.

Teman-teman satu selnya yang lain mengatakan, biasanya yang reseh di kamar itu adalah Kholik. Maka perlengkapan Kholik diperiksa, dan ternyata ada uang di sana. Uangnya yang terkumpul masih sebesar Rp 80 ribu.

Sipir pun menarik Kholik dan menyetrapnya. Diberikan hukuman karena menyembunyikan uang itu. Kholik protes, sebab bukan dirinya yang melakukan itu. Renhad dikasih tahu oleh Kholik bahwa dirinya dipukul Sipir karena dianggap menyembunyikan uang.

Renhad iba mendengar Kholik dipukul oleh Sipir. Renhad pun berupaya bicara ke Sipir dan mengaku bersalah karena telah memperlakukan Kholik seperti itu. Renhad mengaku menaruh uang itu di tempat Kholik, atas permintaan teman-teman satu selnya yang lain, dengan harapan, nantinya Kholik dipindah saja dari kamar sel mereka itu.

Rupanya, Sipir jadi berang. Sipir yang bernama Daman itu, malah memukuli Renhad tanpa ampun. Dengan marahnya dia mengatakan bahwa gara-gara Renhad, dia malah memukul Kholik. Pukulan keras bertubi-tubi dihantamkan ke wajah, bibir dan kedua bola mata Renhad.

“Padahal Renhad sudah meminta maaf atas situasi itu, Renhad minta ampun, namun tetap saja dipukuli, hingga semua badannya dan bajunya penuh darahnya,” ujar Ernita.

Puas melakukan pemukulan demi pemukulan, Sipir membawa Renhad ke Kepala Keamanan Lapas, untuk melapor dan dimintai keterangan atas kejadian itu. Sipir mengancam Renhad, agar tidak memberitahu kepada kepala keamanan bahwa dirinya memukuli Renhad.

“Bilang saja terjatuh. Sekali kamu beritahu bahwa kamu ku pukuli, akan habis kau di dalam penjara ini. Begitu pengakuan Renhad,” tutur Ernita.

Kepala Keamanan Lapas menanyakan kondisi Renhad, dan dijawab berdarah-darah karena terjatuh. Renhad tetap diberikan sanksi, dengan dimasukkan ke dalam Selti (Sel Tikus) selama lebih dari dua minggu. “Saya tidak bisa membesuk dia, tidak dikasih tahu kondisi sebenarnya, dan tidak diobati dia. Hati kecil saya mengatakan, anak saya pasti sudah ada apa-apa di dalam sana,” ujar Ernita.

Ernita pun berupaya membesuk dan mencari tahu kondisi sebenarnya. Namun para sipir dan penjaga menutup-nutupi bahwa Renhad baik-baik saja. Nah, pas kebetulan hari puasa pertama, para napi dikeluarkan dan boleh dibesuk.

“Saya histeris melihat kondisi Renhad. Bibirnya dan di bawa bola matanya masih lebam-lebam membiru. Saya teriak ke sipir penjaga, mengapa membohongi saya selama ini. Sudah beberapa minggu di dalam sel tikus, tidak diberi pengobatan, dibiarkan,” ujar Ernita.

Saat itu juga, Renhad menjabat tangan orang, dikiranya ibunya, rupanya tidak, sebab dia sudah tidak bisa melihat. Sejak hari itu, Ernita meminta Lapas bertanggung jawab atas kondisi anaknya yang sudah tak bisa melihat.

Namun selalu dihalang-halangi, dan dibuat berbagai intimidasi maupun persekongkolan busuk oleh para Sipir dan Kepala Lapas, agar kejadian itu tidak dilaporkan ke atasannya.

“Mereka bilang, jangan melaporkan. Saya juga diancam tidak melaporkan kejadian itu. Karena tidak ada kepastian perobatan Renhad dan tidak ada kepastian matanya bisa normal kembali, saya laporkan saja penganiayaan itu ke Polda Bangka Belitung,” ujar Ernita.

Ernita melaporkan kejadian itu setelah melewati pemeriksaan terhadap kondisi mata renhad di Rumah Sakit dan dibawa ke Jakarta, dan dokter ahli menyatakan sudah tidak bisa melihat lagi.

Di Bangka Belitung, dijelaskan Ernita, pihak Lapas menggelar konperensi pers, dengan menghadirkan Renhad di hadapan wartawan, tanpa didampingi Ibunya dan sanak familinya. Kalapas Bukit Semut Faozul Anshori dan jajarannya mengarang cerita fiktif tentang kejadian yang menimpa Renhad.

Renhad disebut hanya ditampar pelan di wajahnya, dan sejak lama Renhad sudah memiliki riwayat gangguan penglihatan, karena minus. Renhad juga disebut sudah diobati dengan segala daya upaya, dan sudah tidak ada yang bisa dilakukan oleh Lapas. Semua kewajiban sudah dilaksanakan.

“Saya tidak dihadirkan di situ. Renhad yang sudah diancam dan hanya disuruh diam saja pada saat konperensi per situ. Seolah-olah apa yang disampaikan Kalapas itu benar. Saya semakin tidak terima, dan saya melaporkan penganiayaan itu. Mereka bersaksi bohong dan membuat cerita bohong untuk menutupi penganiayaan yang menyebabkan mata anak saya buta,” jelas Ernita.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*