Breaking News

Minim Dukungan Pemerintah, Komunitas Perempuan Serukan Deteksi Dini Kanker Dari Lapas

Minim Dukungan Pemerintah, Komunitas Perempuan Serukan Deteksi Dini Kanker Dari Lapas.

Kesadaran dan penyadaran terhadap penyakit mematikan bagi kaum perempuan, kanker payudara, masih sangat minim.

Selain itu, dukungan pemerintah dan stakeholders, termasuk dari kaum perempuan itu sendiri, belum maksimal.

Karena itu, langkah deteksi dini sebagai langkah awal melakukan perang melawan kanker payudara harus dilakukan. Selain belum ada formula yang efektif dan efisien untuk mengatasi penyakit yang dikenal sebagai pembunuh kaum perempuan nomor satu ini, langkah antisipasi berupa deteksi dini harus dilakukan.

Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Bedah Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Dr Alfiah Amiruddin dalam keterangan pers bersama Komunitas Perempuan Serukan Deteksi Dini Kanker Dari Lapas Wanita, di Ruang Auditorium Lantai 6, Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Jalan HBR Motik Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Perempuan yang juga bekerja sebagai Konsultan Ahli Bedah Payudara ini menyampaikan, kanker payudara adalah penyakit yang licik. Sebab, menurut Alfiah, saat ini ada sebanyak 20 jenis kanker payudara yang memiliki karakteristik dan juga perilakunya sendiri-sendiri.

Selain sulit dideteksi, kanker payudara juga tidak bisa diprediksi secara pasti. Menurut dokter Alfiah, belum ada formula yang efektif untuk menangkal kanker payudara. Hanya kesadaran dan upaya serius melakukan deteksi dini yang bisa dilakukan saat ini.

“Jadi tidak semua harus ada benjolan di payudara. Itu sendiri-sendiri. Bisa tak teraba dan tak terlihat, tidak kasat mata dan lain sebagainya. Memang kanker payudara adalah penyakit yang paling licik saat ini,” bebernya.

Angka kematian akibat kanker payudara antara 40-60 persen bagi kaum perempuan. Sehingga kanker payudara disebut sebagai pembunuh nomor satu saat ini. “Makanya disebut juga sebagai silent killer,” ungkapnya.

Dia mengingatkan, kanker payudara menempati posisi salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia dan menempati posisi ke 10 untuk penyebab kematian terbanyak pada wanita di Indonesia. Dengan jumlah yang sangat tinggi ini, pencegahan menjadi salah satu hal yang perlu disebarluaskan.

“Kanker payudara menjadi sorotan setiap tahun, karena tidak hanya menyebabkan kerugian materi para pasiennya, juga moril dan kepercayaan diri. Oleh karena itu, perlu dukungan dari pemerintah dan pengertian dari masyarakat, seputar deteksi dini kanker payudara,” tuturnya.

Menurut Dr Alfiah Amiruddin, dengan adanya deteksi dini kanker payudara, tingkat kesakitan dapat ditekan dan kematian pun dapat dicegah. Penanganan yang dilakukan lebih sederhana dan biaya pun lebih murah.

“Oleh karena itu, sosialisasi  untuk deteksi dini menjadi hal yang perlu digaungkan ke masyarakat luas,” ujarnya.

Oleh karena itu pula, Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran bekerjasama dengan Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI), Kementerian Hukum dan HAM, Yayasan Maharani Kirana Pertiwi dan Allianz Indonesia akan menggelar Cancer Day, sosialisasi deteksi dini kanker payudara dengan tema ‘Untukmu Perempuan Indonesia, Sayangi Payudaramu’ bersama Wanita Kuat di Lapas Wanita Tangerang, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Melalui kegiatan ini, lanjut dia, diharapkan menjadi awal untuk menggerakkan kesadaran masyarakat akan deteksi dini kanker payudara. Gerakan serupa untuk mendukung sosialisasi deteksi dini kanker payudara perlu didukung berbagai pihak dalam rangka menyehatkan wanita Indonesia.

Dijelaskan Alfiah, Lapas Wanita Tangerang dipilih menjadi tempat penyelenggaran karena lapas wanita membina para perempuan Indonesia yang bernasib kurang beruntung.

Sebagai salah satu rumah sakit yang peduli akan deteksi dini kanker payudara, maka rumah sakit Mitra Keluarga Kemayoran bersaa Allianz Indonesia ingin berbagi pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan screening kanker payudara.

“RS Mitra Keluarga Kemayoran sangat peduli akan kaum perempuan di negeri ini yang seharusnya memiliki hak untuk tetap sehat mesti berada dibalik jeruji besi,”paparnya.

Target RS Mitra Keluarga Kemayoran melalui kegiatan ini, dapat memberikan edukasi kepada warga binaan, dan anggota komunitas perempuan yang hadir tentang pentingnya deteksi dini untuk menurunkan angka stadium lanjut kankaer payudara berkisar 40-70%.

Acara tersebut juga akan dijadikan momen untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dan menjadi rangkaian kegiatan Dharma Wanita Kementerian Hukum dan HAM dalam rangka hari ulang tahun Kemenkumham pada 30 Oktober.

Acara ini dimeriahkan dengan talkshow kesehatan, fashion show perwakilan penghuni lapas berkolaborasi dengan komunitas perempuan yang mendukung kegiatan ini. Serta Baksos berupa pemeriksaan Mammografi dan USG gratis pada warga binaan dan staf lapas yang terindikasi tinggi terhadap kanker payudara. Tak ketinggalan hiburan untuk para penghuni lapas.

Ketua Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI), Indah Surya Dharma Ali menuturkan, lembaga yang dipimpinnya memang konsern terhadap persoalan perempuan, termasuk kesehatan perempuan.

“Kita mengurusi aspek perempuan dari berbagai profesi. Aspek kesehatan menjadi salah satu prioritas bagi kaum perempuan. Kanker payudara, selain kanker serviks sangat rentan bagi perempuan,” ujarnya.

Isteri dari Mantan Menteri Koperasi Surya Dharma Ali ini melanjutkan, kesehatan perempuan akan mempengaruhi seluruh aspek lainnya, seperti aspek kesehatan rumah tangga, pekerjaan, lingkungan, bahkan bangsa dan negara.

Kegiatan prioritas lainnya, lanjut Indah, adalah pemberdayaan perekonomian perempuan. Lewat program signature, yakni memberikan permodalan untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bagi kaum perempuan.

“Bahkan kita sudah masuk Museum Record (MURI), sebagai pemberi permodalan terbesar bagi usaha kaum perempuan,” ujarnya.

Pihaknya juga aktif melakukan pelatihan-pelatihan perekonomian, juga pendidikan kesehatan bagi kaum perempuan.

Menurut dia, permasalahan-permasalahan yang dihadapi kaum perempuan masih sering ditinggalkan. Tidak diurusi serius.

Karena itu, PPLIPI juga mendorong setiap kaum perempuan Indonesia untuk masuk dan mencalonkan diri sebagai Calon Legislator (Caleg). Supaya nanti bisa membuat dan mengawasi pelaksanaan kebijakan bagi kaum perempuan.

“Tidak terbatas hanya caleg dari satu partai politik. Semua parpol ada caleg perempuan. Kami saling mendukung. Apapun partainya,” ujarnya.

Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Hukum dan HAM, Wiwi Bambang Rantam menjelaskan, bakti sosial di Lapas Wanita tidak hanya untuk kesehatan. Ada juga untuk keterampilan, seperti menjahit, bordir, juga kegiatan-kegiatan khusus perempuan.

“Makanya perlu juga dibantu untuk sediakan mesin jahit dan juga pendidikan keterampilan,” ujar Wiwi.

Dia mengakui, kondisi para perempuan di dalam Lapas mengalami keterbatasan dalam berbagai hal. Untuk urusan kesehatan misalnya, ketersediaan obat-obatan dan petugas kesehatan seperti dokter sangat terbatas.

Saat ini, dari data yang dimilikinya, jumlah perempuan yang menghuni lapas-lapas di seluruh Indonesia mencapai 13.754 orang. Sebanyak 9365 orang sudah menjadi warga binaan, dan sebanyak 4389 orang masih berada di Rumah Tahanan (Rutan) alias belum selesai proses hukumnya.

Ruangan di Lapas masih sangat minim dan sempit. Dalam satu ruangan, bisa diisi puluhan orang. Rata-rata, lanjut Wiwi, jumlah warga binaan perempuan yang menghuni satu sel mencapai 47 orang, 27 orang da 17 orang. “Kalau ditemukan memiliki penyakit, biasanya ditempatkan di tempat khusus, tersendiri atau diisolasi,” tuturnya.

Sementara jenis penyakit yang diidap para perempuan yang menjadi warga binaan lebih banyak penyakit pernafasan. Karena ruangan sempit. Kemudian, penyakit pencernaan, penyakit gigi, diabetes dan ada juga HIV.

Di tempat yang sama, Founder LKG-Allianz Ivan Maleakhi menyampaikan, kesehatan sering berbenturan dengan kondisi keuangan. Dalam perawatan atau perobatan, tidak semua pasien memiliki uang kes.

Bayangkan saja, lanjut Ivan, dari 10 orang pasien meninggal dunia, sebanyak 7 orang dikarenakan mengalami sakit. “Dan hanya sebanyak 3 persen dari 7 orang itu yang siap secara tunai biaya perobatan,” ujarnya.

Dia mengatakan, Allianz yang sudah berusia 128 tahun selalu memberikan pelayanan asuransi kesehatan bagi pasien. Perusahaan yang berasal dari Jerman itu, lanjut dia, juga aktif melakukan distribusi dan kegiatan-kegiatan yang membantu masyarakat, terutama kaum perempuan untuk mengobati penyakitnya.

“Terutama untuk penyakit-penyakit berat, termasuk kanker serviks dan kanker payudara. Ini perlu segera ditangani,” tuturnya.

Dia pun berharap, masyarakat bisa mengambil langkah kreatif untuk pembiayaan perobatan jika nanti mengalami masa sakit. “Kami membantu penyediaan dana untuk kesehatan,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*