Breaking News

Menuju Pemilu 2019, Kelompok Netral Semakin Marak

Tak Suka dengan Dua Pasangan Capres Yang Ada

Tak Suka dengan Dua Pasangan Capres Yang Ada, Menuju Pemilu 2019, Kelompok Netral Semakin Marak.

Ternyata ada satu lagi arus kekuatan politik yang muncul menuju Pemilu 2019, yaitu Kelompok Netral.

Kelompok ini, dapat disebut sebagai kelompok yang tidak suka dan tidak menentukan pilihan pada dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Cawapres) 2019.

Fenomena itu kian menguat. Dari pengamatan yang dilakukan Alumni Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Surabaya Mh Fadil, kekuatan kelompok netral ini kian membesar.

Model baru itu terus menjalar dalam obrolan-obrolan lepas di warung-warung kopi serta berbagai tempat dan suasana lainnya.

“Fenomena ini saya namakan sebagai arus ketiga. Karena telah diketahui, kelompok yang pertama memilih pada Jokowi-Ma’ruf, kelompok kedua memilih pada Prabowo-Sandi, sedangkan kelompok yang ketiga, arus baru ini, telah menyatakan netral. Tentu saja ujung dari rasa netral ini dapat berakibat buruk pada sikap golongan putih (golput),” tutur Fadil, Kamis (20/12/2018).

Kelompok yang pertama dan kedua, sudah bisa dipetakan pilihan dan sikap politiknya. Masing-masing telah memiliki argumentasi yang panjang dan berbelit. Namun pada kelompok ketiga, rata-rata alasan yang dibangun dalam menentukan sikap netral, disebabkan tidak lain karena telah menemukan dan menilai bahwa pada kedua-duanya, yakni di kelompok pertama dan kedua sama-sama tidak jelas, tidak dapat dipercaya, tidak sempurna.

“Sehingga pada keduanya dirasa tidak sreg, merasa kecewa, marah, atau pada pokoknya pada keduanya dianggap tidak mumpuni dalam memimpin masa depan Indonesia. Kurang lebihnya seperti itu argumentasi singkatnya,” tuturnya.

Bila makna sikap netral yang bertolak dari penilaian seperti itu, maka makna kata netral disimpulkan dari dasar-dasar atau alasan yang diambil dari sebab-sebab yang bersifat buruk, tidak sempurna, tidak baik, dan sebagainya yang bersifat negatif.

Padahal, lanjut Fadil, seharusnya makna dari kata netral lahir dari hal-hal yang positif, yang baik, yang nilainya terdapat pada masing-masing kelompok.

“Maka keliru bila kita mencari yang baik, tapi dengan menemukan, lalu menilai sebanyak-banyaknya hal-hal yang negatif pada masing-masing kelompok,” katanya.

Sehingga, kata dia, tiap keputusan dalam bersikap netral, harus disebabkan pada keduanya telah ditemukan sama-sama memiliki hal-hal yang baik, positif, yang berakibat menimbulkan kesulitan yang amat besar untuk memilih satu diantara keduanya. Karena sama-sama hebatnya, sama-sama baiknya.

“Sekiranya rasa seperti itu, andai saja terjadi, kita merasakan kesulitan atas banyaknya nilai kebaikan diantara keduanya,” ucap Fadil.

Fadil berpendapat, dari kondisi itu, muncul pemikiran, pertama, pada tiap kata, melekat kewajiban dasar untuk selalu memberi makna yang baik, yang positif.

Demikian juga pada kata netral. Jangan sampai kata netral, ternyata menjadi korban atas rasa seseorang yang sedang tidak baik, kesal, marah dan sebagainya itu.

Karena, katanya, tentu saja pada rasa-rasa tersebut, tidak lain bermakna subjektif dari ukuran diri sendiri, yang bisa jadi tidak sempurna atau salah.

“Bahkan tanpa disadari, ternyata kita tidak cukup bekal dalam mempelajari dan memeriksa pada hal-hal yang telah diasumsikan buruk, negatif, dan lain-lain itu,” ujar Fadil.

Kedua, tugas manusia harus selalu mencari hal-hal baik pada semua fenomena yang pernah jumpai. Dengan makna sebaliknya,  bukan mencari-cari dan mengumpulkan sisi-sisi buruk, atau negatif sebanyak-banyaknya pada kedua kelompok peserta Pilpres tersebut.

Ketiga,  tidak ada yang tidak baik pada tiap penciptaan Allah Swt. Sejauh mau mencari hal-hal yang baik, pasti selalu saja akan ditemukan hal-hal baik. Bahkan, pada hal-hal yang mula-mulanya secara terang benderang dianggap sebagai keburukan, namun setelah direnungkan dan diteliti sedalam-dalamnya, ternyata akan ditemukan kebaikan yang tersembunyi.

“Oleh karena itu, ketika kita menemukan keburukan, sebaiknya susun terlebih dahulu beragam pertanyaan yang tentu harus dicari juga jawabannya. Misal, benarkah terjadi keburukan? Apa dasar-dasar yang valid menentukan keburukan? Apa saja faktor penyebabnya? Hingga pada, adakah solusinya?, dan sebagainya,” tutur Fadil.

Setelah mencari, menemukan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya nilai baik dari keduanya, maka timbangan rasional pada akal, pasti akan menemukan mana yang terbaik diantara yang baik.

“Akhir kata, mari sukseskan Pilpres 2019, dan jangan bersikap dengan rasa netral,” tutupnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*