Menuju Partikularitas Indonesia Dalam Religiositas

Pdt Saut Hamonangan Sirait: Orang Batak, Dayak, Sumba, Jawa, Ambon, Toraja, Papua Dan Seluruh Suku Tak Perlu Jadi ‘Orang Barat’: Menuju Partikularitas Indonesia Dalam Religiositas.
Pdt Saut Hamonangan Sirait: Orang Batak, Dayak, Sumba, Jawa, Ambon, Toraja, Papua Dan Seluruh Suku Tak Perlu Jadi ‘Orang Barat’: Menuju Partikularitas Indonesia Dalam Religiositas.

Religiositas yang terjadi di Tanah Air menuju partikularitas Indonesia. Paling tidak hal itu yang tergambar dalam penyelenggaraan Acara Natal Nasional yang diselenggarakan pada 27 Desember 2019 lalu, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Pengalaman yang dialami oleh Rohaniawan Pendeta Saut Hamonangan Sirait ketika mengikuti acara Natal Nasional itu, mesti dijadikan memaknai Tahun Baru 2020 ini. Perayaan Natal Nasional itu dilakukan di Sentul City International Convention Center (SICC), Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Berikut ini, catatan Pdt Saut Hamonangan Sirait ketika mengikuti Perayaan Natal Nasional di SICC, Sentul, yang dihadiri Presiden Joko Widodo itu.

Pada 27 Desember 2019, untuk pertama kali saya mengikuti perayaan natal nasional di SICC, Sentul dan sekaligus menjadi panitia bagian seksi acara.

Walaupun saya telah berdomisili dan menjadi guru di Sekolah Tinggi Teologia Huria Kristen Batak Protestan (STT HKBP) Pematangsiantar, nama saya dicantumkan menjadi Panitia.

Sudah jelas saya menjadi panitia yang tidak bisa berperan, bahkan seminimal apapun. Beruntung kawan sekelas di kampus, Pdt Dr Albertus Patty, cukup toleran dengan kondisi jarak antara Siantar dengan Jakarta.

Apalagi biaya seluruh rangkaian Natal tersebut, termasuk bakti sosial di Ambon, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Simalungun, Sumut, tidak serupiahpun memakai uang rakyat alias tidak mempergunakan APBN maupun APBD.

Seluruhnya, sepenuhnya dan seutuhnya adalah swadaya panitia dan kerjasama dengan pelbagai pihak lain. Bersyukur kepada Tuhan, bangga, haru dan berterima kasih kepada Ketua Umum Panitia Natal Nasional, Bapak Juliari Batubara beserta jajaran Panitia.

Acara demi acara yang digelar mampu mempesona seluruh umat yang hadir, mendekati 10 ribu umat. Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi, selain memujikan dedikasi panitia, menyampaikan sambutan yang sangat religious, kontektual dalam obyektifitas keberadaan Indonesia.

Penampilan beliau yang senantiasa tenang tetapi melahirkan bom ketawa, sungguh memberikan sukacita dan kesan yang sangat mendalam, menukik sanubari hadirin. Penekanan mengenai kebebasan beragama dan beribadah tegas dinyatakan dan berulang dalam sambutannya.

Ketika masih mahasiswa tahun 1980-an, saya termasuk kelompok yang dengan keras mengkritik pengadaan hajatan natal nasional. Istana Sentris, penghamburan uang rakyat dan pengingkaran atas keprihatinan luhur kelahiran Yesus di kandang domba dan segerobak argumentasi lain menjadi alasan untuk menentang.

Saya harus mengaku, tiada yang absolute. Kondisi merupakan perubahan berkelanjutan dan pemenjaraan diri atas sikap lama, bukanlah jalan terbaik.

Natal nasional kali ini, sungguh sangat merakyat. Para Pejabat Negara maupun tokoh masyarakat yang hadir hanya berkisar 30 orang, termasuk Menteri Agama (Menag), Sekneg, PUPR, Perhubungan, Menko Polhukam, Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah, Teten Masduki, di samping menteri yang beragama Kristen. Rakyat biasa, publicans yang memenuhi ruangan SICC yang berkapasitas sepuluh ribu itu.

Partikularitas Indonesia Kita

Prof Dr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, yang diangkat menjadi Kardinal Indonesia pada 5 Oktober 2019 dan Pdt Gomar Gultom MTH yang terpilih menjadi Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Ketum PGI) pada 12 November 2019, tampil sebagai pengkotbah dan pendoa syafaat.

Keduanya menyampaikan inti makna menyangkut keprihatinan yang maha luhur (ultimate concern) makna natal dan keberadaan Indonesia yang memerlukan kesungguhan menyangkut komunitas bangsa.

Kardinal, Prof Suharyo, yang juga Uskup Ordinariat Militer Indonesia, mendasarkan kotbah dari Yohanes 15: 14-15: “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang dipkirkan oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”.

Hal pertama yang sangat menyentuh dan menggugah adalah ajakan untuk menyanyikan lagu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita, dengan imbauan berdiri dalam sikap sempurna, di tengah kotbah yang disampaikannya.

Kotbah yang dianggap sebagai mahkota ritus dalam tiap ibadah, menjadi medium yang sangat efektif menghadirkan Indonesia, mengisi jiwa, mengasup pikiran, menoreh hati, menggelora semangat dan membentuk sikap Indonesia pada diri umat yang hadir.

Teks Alkitab yang dijadikan tema natal seluruh gereja-gereja di Indonesia Sahabat Bagi Semua, dengan indah diurai Prof Suharyo ke dalam konteks Indonesia, baik substansi maupun bingkainya.

Suasana Indonesia semakin menukik, manakala kisah kelahiran Yesus ditampilkan dalam ekspresi alam dan budaya Indonesia, termasuk kostum para pemeran. Panitia dan jajaran pejabat Negara, terutama Pak Presiden Jokowi, dengan niat sadar dan sengaja memakai batik dari Kain Tenun Sumba yang didesain apik.

Pesan terpenting dari keseluruhan rakaian acara natal nasional tersebut adalah tentang Indonesia kita dalam pemaknaan agama-agama, khususnya Kristen di Indonesia.

Pada setiap suku dan bangsa Allah mengaruniakan alam yang berbeda-beda yang berjumpa dengan keberadaan dan kesadaran manusia. Perjumpaan alam dengan manusia yang diberi roh dan akal budi itu yang kemudian membentuk adat-istiadat yang melahirkan ciri dan karakteristik tiap suku dan bangsa.

Bahkan, perjumpaan dengan alam dengan segala fenomena di dalamnya, merupakan awal pemahanan spiritual yang kemudian mengejawantah secara sistematis dalam bentuk agama.

Kontekstualisasi theologia, termasuk ritus agama-agama dalam realitas Indonesia memang masih dalam bentuk pencarian diri.

Segala sesuatu masih menggunakan bentuk, pola da isi pemahaman dari luar, baik dari Yahudi, Arab maupun Eropa.

Sayangnya, tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk melakukan suatu proses sistematis menemukan bentuk dan muatan orisinil dari khasanah budaya suku-suku dan bangsa Indonesia. Dalam lingkup Kristen, mulai dari pakaian (toga), liturgi dan pemaknaan theologis selalu mengacu dari Barat yang diwariskan para tenaga Zending.

Sesungguhnya proses kontekstualisasi bertheologi bukanlah hal baru dalam khasanah kekristenan di Indonesia.

Prof Th. Muller-Kruger, Rektor kedua Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STT Jakarta), pada tahun 1930-an telah memulai upaya yang serius bagi para mahasiswa STT yang pertama di Asia itu, untuk melakukan proses theologia in loco.

Penekanan utamanya saat itu adalah pada sumber daya manusia dalam arti memperbanyak tenaga-tenaga pribumi untuk menjadi pelayan dan pemimpin gereja-gereja lokal.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (pgi), dalam pelbagai Sidang Raya dan seminar-seminar telah merumuskan kemandirian daya, dana dan theologia. Namun upaya dalam theology in loco masih merupakan wacana dan berhenti di tingkat elit.

Pada Sidang Raya yang terbaru 8-13 NoVember 2019 di Waingapu, NTT,  upaya untuk semakin meng-Indonesia diusulkan melalui nomenklaturnya. Kata di diusulkan dihapus sehingga menjadi Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia.

Di kalangan ahli ilmu tafsir dan homilitika Kristen, tampak kegamangan tersendiri menyangkut partikularitas atau kekhususan bagi Yahudi dalam Alkitab.

Sangat tidak mungkin teks yang ditujukan ke dalam konteks ke-Yahudi-an menjadi universalitas, terutama dalam dimensi agama.

Sesuatu yang absolut untuk kebutuhan hidup di satu tempat sangat tidak mungkin diberlakukan pada tempat lain, karena keadaannya jauh berbeda.

Tradisi sunat misalnya, telah begitu lama dipraktekkan di Timur Tengah, jauh sebelum Alkitab datang.

Kondisi alam di sana jelas jauh beda dengan alam Indonesia yang dipenuhi air, sehingga untuk membersihkan alat vital tidak diperlukan sunat.

Air di danau Toba misalnya, jelas lebih dari cukup untuk membersihkan alat vital manusia dan karena itu tidak membutuhkan tindakan sunat.

Hal yang paling tragis dalam perspektif kepentingan kontekstual sering juga disebut inkulturasi dan theology in loco, adalah besutan berdaptasi dalam pengenalan dan perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Suku-suku di Indonesia (penganut Kristen) harus menjadi orang Barat atau Yahudi untuk mengenal Allah. Peminjaman tatatan ritus dan perangkat lain, membuat orang Kristen di Indonesia harus keluar dari dirinya untuk mencapai pengenalan keilahian dari Sang Penciptanya.

Alam yang diciptakan Allah dari Sabang sampai Merauke, merupakan perangkat yang paling sah dan sahih untuk mengenal Yesus Kristus dalam konteks Indonesia.

Mencoba keluar dari tradisi Barat, menjadi keanehan dalam tradisi gereja-gereja di Indonesia hingga saat ini. Toga pendeta yang bisa dirancang dengan kain Batak, Sumba, Dayak, Karo dan yang lain, menjadi sesuatu yang asing.

Kemampuan magis yang positif pada tiap suku-suku di Indonesia harus dilenyapkan tanpa suatu penelitian dan pengkajian secara theologis. Padahal, tongkat Musa yang dapat menjadi ular, Yesus yang mengusir setan dan menghidupkan orang mati merupakan bentuk magis yang dalam bahasa gereja disebut spiritualitas.

Tidak bisa tidak, agama-agama di Indonesia harus menyadari dan melakukan upaya total untuk mengembalikan diri kepada orisinalitas penciptaan Allah dalam dirinya dengan karunia-karunia alam dan kearifan-kearifan universal yang ada pada tiap-tiap suku dan menjadi Indonesia sejak tahun 1945.

Ulil Absar Abdalla dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tandas telah melakukan historical, textual dan contextual criticism, terutama menyangkut sanksi hukum rajam dan lain sebagainya, sebagai yang bersifat partikularitas Timur Tengah yang tidak dapat dijadikan absolut bagi sebua suku dan bangsa di dunia.

Partikularitas dalam kitab-kita suci harus dimaknai dalam 2 perspektif yang laten. Pertama, menyangkut konteks ruang yang secara faktual, sebagai realitas yang tidak tertolak dan merupakan karya Allah, adalah berbeda-beda.

Peran alam dalam membentuk religiositas manusia untuk berjumpa dengan Allah merupakan status konfesionis, sesuatu yang tidak tertolak, keharusan absolut. Kitab-kitab suci secara implisit sangat membuka ruang berupa alam dengan budaya manusia yang terbentuk di dalamnya.

Suku Sumba harus menjadi orang Sumba dengan segala perangkat alam dan budayanya untuk mengenal dan berjumpa dengan Yesus Kristus. Tidak mungkin, bahkan tidak boleh jadi orang Barat, Yahudi atau Arab untuk bersekutu dengan Allah.

Demikian juga suku Papua, Dayak, Bugis, Batak dan suku-suku lain, harus dengan kesejatian eksistensi orinil untuk berjumpa dengan Tuhannya.

Kedua, partikularitas itu juga dimaknai dari dimensi waktu yang bermakna perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik.

Tradisi-tradisi yang menjadi beban manusia harus dengan tegas dan tandas dipotong, tanpa menghilangkan prinsip dan nilai makna di dalamnya. Kitab-kitab suci agama dihubungkan dengan realitas perkembangan dunia menampakkan dan membuktikan hal itu. Waktu yang memberi kesempatan bagi para perempuan untuk tampil menjadi imam dan pemimpin-pemimpin dalam gereja-gereja di Indonesia. Partikularitas laki-laki tidak dinafikan atau direndahkan, tetapi menjadi kesetaraan yang berdimensi keadilan.

Tahun 2020, angka kembar itu menampakkan kesetaraan yang utuh, penuh dan menyeluruh yang tidak mungkin ditafsirkan sebagai keseragaman.

Menanggalkan angka 20 dari satu akan menghilangkan makna ribu di dalamnya. Saatnya agama-agama di Indonesia untuk menunjukan pengenalan dan perjumpaan dengan Allah dengan partikularitas yang beragam dalam alam dan suku-suku yang menyatu dalam Indonesia.

Saya membayangkan, manakala ritual gereja memakai perangkat-perangkat musik, ungkapan-ungkapan yang dipenuhi kebijakan dan kebajikan hidup, serta muatan spirit suku-suku di gedung-gedung gereja, suasana dan isi spiritualitas kita akan berimpilikasi pada kemajuan, persaudaraan dan persahabatan akan segera mewujud.

Kesemarakan ritus terutama pada hari akan dipenuhi musik, gerak dan cuatan2 suku-suku Indonesia. Kelahiran, perkawinan dan kematian yang mesti diacarakan dalam dua kutub: adat dan gereja, sudah waktunya dimulai perjumpaan yang genuine. Tidak lagi perjumpaan dalam bentuk legailtas formal berbayang wajah spiritual.

Natal Nasional 2019 yang dihadiri umat Allah dari seluruh denominasi gereja-gereja di Indonesia, dengan muatan dan bentuk kita, partikularitas Indonesia. Sungguh berterima kasih kepada Presiden, Bapak Jokowi, Ketum PGI dengan jajarannya, Kardinal, Ketua KWI dengan jajaran, Ketum Panitia Natal Nasional 2019, Bapak Juliari Batubara dengan seluruh panitia dan terutama umat Allah di Indonesia.

Partikularitas orisinil yang diberikan Allah kepada Indonesia adalah alat kelengkapan yang terbaik, terpenting dan terindah bagi Indonesia untuk menikmati keilahian Allah dalam hidup kita. Selamat Tahun Baru Indonesia yang terberkati.***

 

Bandung, 012020

Pdt Saut Sirait

Sie Acara, Panitia Natal Nasional 2019

Dosen STT HKBP Pematangsiantar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*