Mentok di 5 Persen, Prof Rohkmin Dahuri: Dongkrak Perekonomian Indonesia Dengan Akuakultur

Mentok di 5 Persen, Prof Rohkmin Dahuri: Dongkrak Perekonomian Indonesia Dengan Akuakultur.
Mentok di 5 Persen, Prof Rohkmin Dahuri: Dongkrak Perekonomian Indonesia Dengan Akuakultur.

Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang mentok di angka 5 % masih bisa ditingkatkan dengan pengembangan sektor perikanan dan kelautan.

Pemberdayaan dan pengembangan sektor perikanan budidaya atau akuakultur, juga sebagai salah satu idola baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal itu diungkapkan, Ketua Umum  Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri saat menjadi pembicara kunci atau keynote speaker pada pertemuan International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2019, yang digelar  di Hotel Mercure, Surabaya, Jumat-Sabtu (4-5 Oktober 2019).

“Jika rekomendasi atau jurus-jurus pengembangan akuakultur itu dapat diterapkan oleh pemerintah, kita optimistis sektor tersebut mampu menyumbangkan minimal dua  persen pertumbuhan ekonomi. Jadi kalau saat ini pemerintah sulit keluar dari pertumbuhan ekonomi yang hanya mentok di lima  persen, maka dengan optimalisasi pembangunan sektor akuakultur,  angka pertumbuhan tujuh  persen insya Allah akan mudah tercapai,” jelas Prof Rohkmin Dahuri dalam pemaparannya.

Rohkmin yang menjadi pembicara kunci pada pembukaan pertemuan hari pertama itu menekankan, Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya atau akuakultur terbesar di dunia. Dengan potensi sekitar 100 juta ton per tahun di atas China.

“Namun dari sisi produksi kita saat ini berada di posisi kedua,” ujar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan di era Kabinet Gotong Royong itu.

Pertemuan itu dihadiri sebanyak 300 peserta dari 16 negara. ICAI merupakan forum internasional akukultur tahunan membahas pembangunan dan pengembangan sektor perikanan budidaya.

Para pembicara dan peserta ICAI 2019  berasal dari kalangan peneliti, dosen, pengusaha, pemerintah, mahasiswa, dan LSM.

Pembicara utama atau keynote speaker adalah Ketua Umum  Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri. Pembicara lain adalah  Dr  Coco Kokahrin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia, Dr Charles Saliba (Malta), Dr  Jean Yves Mevel (Perancis), Dr  Nyan Taw (Vietnam), Dr  Rohana Subasinghe (FAO), Dr Wei Che Wen (Myanmar), dan Dr  Romi Novriadi (KKP).

Prof Rokhmin Dahuri memberikan keynote speech berjudul “A Productive, Clean, Green, Blue and Inclusive Industriization Toward Sustainable Aquaculture Development”, pada hari pertama, Jumat (4/10/2019).

Ia menegaskan pentingnya keseriusan pemerintah untuk memaksimalkan potensi kelautan dan perikanan, khususnya dari sektor perikanan budidaya atau akukultur yang memiliki potensi produksi paling besar di dunia.

Data tahun 2016 menunjukkan, produksi perikanan budidaya China mencapai 63,631 juta ton, atau menguasai 57,80 persen dari total produksi perikanan budidaya dunia.

Sedangkan Indonesia, produksinya pada tahun yang sama baru mencapai 16,581 juta ton atau menguasai pangsa pasar 15,06 persen.

Guru besar kelautan dan perikanan IPB itu mengemukakan, ICAI 2019 menjadi penting dan strategis bagi Indonesia.  Salah satunya terkait pembangunan dan pengembangan akuakultur bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui forum bisnis.

“Di ICAI 2019  juga ada forum bisnis sektor budidaya seperti kerapu dari budidaya ikan tangkap, udang khususnya vaname, lele, ikan patin dan nila yang nanti akan dibahas dari hulu dan hilir,” papar Rokhmin.

Forum ICAI 2019  akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah dalam upaya membangun sektor akukultur agar berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jika rekomendasi atau jurus-jurus pengembangan akuakultur itu dapat diterapkan oleh pemerintah, kita optimistis sektor tersebut mampu menyumbangkan minimal dua  persen pertumbuhan ekonomi,” ujar ketua DPP PDIP Bidang Kelautan dan Perikanan itu.

Rokhmin menyebutkan, salah satu isu penting yang juga menjadi pembahasan dalam ICAI 2019 adalah sustainability atau kelestarian lingkungan dalam pembangunan dan pengembangan sektor akuakultur.

Pertemuan tahunan  itu menggarisbawahi, implementasi pengembangan sektor akuakultur  tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan.

Dia menegaskan, pembangunan akuakultur yakni sektor laut atau offshore, payau atau tambak, air tawar seperti waduk maupun kolam, prinsipnya tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan. “Setiap kawasan kita sudah punya perhitungan daya dukungnya,” tegasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan