Menjamurnya Pekerja Ojeg Hanyalah Peredam Sementara Gejolak Masalah Perburuhan

Menjamurnya Pekerja Ojeg Hanyalah Peredam Sementara Gejolak Masalah Perburuhan.

Menjamurnya warga masyarakat pengangguran dan yang sudah bekerja sebagai pekerja ojeg hanyalah peredam sementara terhadap gejolak masalah perburuhan di Tanah Air.

Pembina Utama Komunitas Buruh Indonesia (KBI) Jacob Ereste menyatakan, pekerjaan ngegojeg dan ngojeg memang bisa menjadi peredam dari suasana tegang ketika muncul masalah di kalangan buruh.

“Sehingga tidak sampai terjadi gejolak seperti pada waktu-waktu sebelumnya,” ujar Jacob Ereste, di Jakarta, Selasa (25/09/2018).

Dia mengatakan, kaum buruh yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempat kerja mereka, terkesan lebih santai menerima putusan, meski tetap terus berjuang untuk memperoleh hak-hak yang dirasa patut mereka terima.

Jacob mengatakan, dari hasil penelitian Komunitas Buruh Indonesia (KBI) kerjasama dengan Atlantika Institut Nusantara (AIN) dan Jurnalis Indonesia Bersatu (JIB) gambaran itu.

“Sementara aspek ketertarikan pemuda desa untuk tetap bekerja di wilayah tempat tinggalnya pun menarik untuk ditelusik lebih jauh, apa saja faktor pendorong serta penghambatnya,” ujarnya.

Dalam konteks ini, lanjutnya, agaknya pekerjaan ojeg dan gojeg menjadi perkecualian, hingga layak menjadi ojeg tersendiri untuk dijadikan bahan kajian yang lebih spesifik dan mendalam secara tersendiri.

Pekerja di sektor jasa penjemput dan pengantar, baik untuk orang maupun barang, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa ojeg dan gojeg telah menggariskan dampak negatif sekaligus positif bagi perburuhan di Indonesia.

“Kaum buruh yang ter-PHK relatif bisa segera mendapat pekerjaan baru yang dapat menghasilkan uang sebagai pengganti pekerjaan lama yang hilang. Dan tidak lagi memberinya penghasilan untuk memenuhi biaya hidup serta kebutuhan keluarganya,” tuturnya.

Akan tetapi, lanjut Jacob, dengan adanya lapangan kerja yang selalu terbuka– ojeg dan gojeg– organisasi buruh semakin banyak tatangan, karena harus menghadapi masalah hubungan kerja ojeg dan gojeg yang tidak ada majikannya itu.

“Jumlah pekerja ojeg dan gojeg sunguh sulit diorganisasikan. Apalagi legal standingnya masih perlu dimantapkan hingga dapat menjadi pegangan masing-masing pihak yang terkait dengan masalah ojek dan gojeg di Indonesia,” ujarnya.

Mungkin, lanjutnya, kalau pekerja ojeg dan gojeg di seluruh Indonesia bisa disublimasikan sebagai wujud dari upaya menciptakan 10 juta orang yang telah mendapat pekerjaan—sebagaimana janji Presiden Joko Widodo saat Kampanye Pilpres 2014–pastilah lebih dan berlebihan.

Toh, semuanya tetap asumsi belaka. Yang pasti legal standing urusan hubungan kerja untuk pekerja jasa pengantar dan penjemput untuk orang dan barang, tak cuma rumit, tetapi juga sulit bila sampai terjadi masalah yang berkaitan dengan masalah hubungan kerja.

“Karena gojek dan ojek tidak kenal istilah majikan,” ujarnya.

Dalam konteks ini, lanjut Jacob, istilah buruh dan pekerja dapat dilihat makna perbedaannya. Buruh atau karyawan serta pegawai adalah sebutan untuk siapa saja yang mempunyai majikan atau atasan dan melaksakan order pekerjaan atas perintah orang lain.

“Sedangkan pekerja adalah mereka yang melakukan sendiri order kerjanya tanpa diperintah oleh orang lain,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan