Mengukur Perolehan Suara, Jangan Permasalahkan Survei

Mengukur Perolehan Suara, Jangan Permasalahkan Survei.

Lembaga-lembaga survei dan pooling, tidak layak dipermasalahkan karena mencoba mengukur perolehan suara dalam penyelenggaraan Pemilu.

Bagaimana pun, lembaga-lembaga seperti itu, bukanlah badan otoritas yang bisa memastikan kemenangan paslon di Pemilu. Lembaga-lembaga survey hanyalah salah satu instrument yang dimiliki masyarakat untuk mengukur berbagai realitas, termasuk Pemilu.




Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyampaikan, semua pihak hendaknya menunggu hasil perhitungan manual atau real count yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Jangan sampai ada pihak yang ngotot merasa menang. Terkait Pilpres, para lembaga survey telah menyampaikan hasil perhitungan cepat. Hasil tersebut menunjukkan perbedaan perolehan suara oleh dua paslon Pilpres. Salah satu paslon berpeluang mendapat dukungan rakyat menjadi presiden dan wakil presiden, sedangkan paslon lain bisa sebaliknya. Jadi, hasil survey ini bukan pegangan, hanya sekedar peluang,” tutur Emrus Sihombing, di Jakarta, Selasa (23/04/2019).

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner mengatakan, terkait dengan pelaku survey para lembaga survey yang sudah terdaftar di KPU lebih memiliki semacam otoritas menyampaikan hasil surveynya kepada publik, daripada yang belum terdaftar di KPU.

“Bila ada lembaga survey yang belum terdaftar di KPU tetap bisa saja melakukan survey namun hasilnya bersifat internal. Karena itu, hasilnya tidak untuk disajikan ke ruang publik,” ujarnya.

Kalaupun memang hasil survey internal disampaikan ke publik,  lanjut dia, sebaiknya tidak hanya me-release hasilnya yang memposisikan paslon tertetu memperoleh angka lebih banyak dari paslon lainnya, tetapi yang paling utama membuka, mendiskusikan dan membongkar metodologi yang digunakan pada semua tahapan proses survey yang dijalankan.




Oleh karena itu, dari aspek penelitian survey, yang terutama diperbincangkan adalah metodologi yang digunakan, bukan sekedar penyampaian hasil dari suatu survey itu sendiri.

“Sebab, bila metodologinya sudah baik, tepat dan benar, maka hasilnya dipastikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebaliknya, bila hasilnya yang dikedepankan dan melupakan metodologinya, maka hasil tersebut masih dapat dipertanyakan secara akademik,” ujar Emrus Sihombing.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*