Mengenakan Baju Warna Oranye dengan Tangan Diborgol, Guru Besar UNHAS Prof Dr Marthen Napang Kembali Diseret ke Sel Tahanan Polda Metro Jaya

Mengenakan Baju Warna Oranye dengan Tangan Diborgol, Guru Besar UNHAS Prof Dr Marthen Napang Kembali Diseret ke Sel Tahanan Polda Metro Jaya

- in DAERAH, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, Pendidikan, PROFIL
321
0
Foto: Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, yang juga Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., dimasukkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya di Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya, Selasa (09/07/2024). (Dok)Foto: Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, yang juga Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., dimasukkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya di Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya, Selasa (09/07/2024). (Dok)

Seorang Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., kembali diseret dan dimasukkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya di Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya, Selasa (09/07/2024).

Pada Selasa (09/07/2024) pagi, sekitar Pukul 09.30 WIB, dua orang petugas Polda Metro Jaya, tampak memasuki ruangan Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya. Tak berselang lama, kedua petugas kembali keluar dengan menggelandang seorang pria paruh baya yang mengenakan baju warna oranye

Pria itu adalah Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, dan juga Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar.

“Mau bawa ke dalam, ada dokumen dan surat yang hendak ditandatangani,” tutur salah seorang petugas ketika kepergok wartawan dan mencegat di depan pintu masuk ke ruangan Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Sang Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., itu pun hanya diam membisu, dan berupaya menghindar dari kejaran wartawan yang menanyakan sejumlah hal, serta mengambil dokumentasi foto dan video.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, tampak dua petugas Polda Metro Jaya tadi keluar dari ruang Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya dengan tetap menggelandang Prof Dr Marthen Napang, SH., MH. Tampak kedua tangan Marthen Napang diborgol, dan berjalan perlahan dengan diiringi kedua petugas.

Marthen Napang kembali menghindar dan berupaya menutupi wajahnya ketika wartawan kembali hendak mendokumentasikannya.

Menurut informasi yang disampaikan salah seorang petugas Polda Metro Jaya, Marthen Napang harus menandatangani surat perpanjangan masa penahanannya di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya untuk 40 hari ke depan. Sebab, Marthen Napang sudah mendekam di sel tahanan 20 hari pertama.

Selain itu, Marthen Napang yang mencoba melakukan perlawanan hukum dengan Praperadilan atas penetapan statusnya sebagai Tersangka yang dilakukan Penyidik Polda Metro Jaya telah kandas.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) yang menjadi tempat mengajukan praperadilan itu menyatakan menolak permohonan yang diajukan Marthen Napang.

Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., telah ditetapkan sebagai Tersangka dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan oleh Polda Metro Jaya.

Pria kelahiran Makassar, 12 Maret 1957 itu pun diketahui sudah dilakukan penahanan, di Polda Metro Jaya.

Polda Metro Jaya menetapkan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Prof Dr Marthen Napang, SH, MH, sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) dan atau penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan atau pemalsuan (Pasal 263 KUHP) terhadap pelapor Dr John Palinggi, MM, MBA. Perkara tersebut terjadi di Graha Mandiri Lantai 25, No 61 Jakarta Pusat, pada Senin, 12 Juni 2017 silam.

Dalam wawancara dengan Tim Kuasa Hukum Dr John Palinggi, MM, MBA, yakni Muhammad Iqbal, SH, bersama Peter De Rosari, dijelaskan terkait perkembangan terbaru terkait kasus Marthen Napang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan dan atau pemalsuan surat Mahkamah Agung.

“MN (Marthen Napang) sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya pada tanggal 4 Juni 2024. Dimana klien kami, saudara Doktor John Palinggi telah menerima tembusan pemberitahuan terkait dengan penetapan tersangka saudara Profesor Doktor Marthen Napang SH, MH,” tutur Muhammad Iqbal kepada wartawan.

“Mulanya, pada tahun 2017, Marthen Napang datang menemui Pak John Palinggi untuk meminta menggunakan ruangan kantor di Graha Mandiri Lantai 25, Jakarta Pusat,” lanjut Muhammad Iqbal.

Menurut Iqbal, dalam kurun waktu permintaan tersebut, John Palinggi menyetujui memberikan fasilitas tersebut. John Palinggi memberikan ruangan itu, termasuk segala hal yang terkait, seperti kebutuhan ATK (alat tulis kantor).

Seiring perjalanannya, lanjut Iqbal, Marthen Napang mendatangi John Palinggi dan menawarkan dirinya untuk siap membantu penyelesaian jika ada perkara berkaitan di Mahkamah Agung.

Bahkan, kala itu, Marthen Napang sempat meyakinkan John Palinggi dengan menunjukkan 12 putusan yang pernah dimenangkannya di MA.

Gayung pun bersambut. Beberapa lama kemudian, Orang Tua angkat John Palinggi yang bernama Ir A Setiawan sedang berperkara dan kasusnya saat itu berproses di tingkat Mahkamah Agung.

Lalu Marthen Napang meminta berkas terkait kasus tersebut kepada John Palinggi. “Marthen Napang juga meminta sejumlah dana operasional terkait pengurusan kasus tersebut kepada John Palinggi. Dana operasional itu pun ditransfer secara bertahap, sesuai permintaan Marthen Napang, kepada tiga rekening atas nama yakni Elisan Novita, Suaeb, dan Sa’dudin ,” jelas Iqbal menguraikan.

Iqbal melanjutkan, dalam perjalanannya, John Palinggi menanyakan perkembangan kasus tersebut kepada Marthen Napang. Kembali Marthen meyakinkan John Palinggi agar tetap tenang menunggu putusan MA tersebut.

Selang beberapa lama, ada email yang diduga atas nama Marthen Napang yang dikirimkan ke email John Palinggi.

“Setelah di-print out email tersebut, ternyata berisi putusan MA yang memenangkan atau mengabulkan perkara Ir A Setiawan yang diurus oleh Marthen Napang,” bebernya.

Seminggu berlalu, John Palinggi merasa perlu mengecek kebenaran putusan MA yang diduga dikirim via email Marthen Napang.

Alhasil, didapatkan informasi dari Staf MA bahwa ternyata Putusan MA yang dimaksud ditolak. Bukannya dikabulkan seperti isi email yang diduga dikirim Marthen Napang,” katanya.

“Berawal dari sini, kemudian John Palinggi melaporkan Marthen Napang ke Polda Metro dengan Laporan Polisi (LP) Nomor 3951/VII/2017/PMJ/Dit Reskrimum/ tanggal 22 agustus 2017,” jelas Iqbal.

Dalam prosesnya, perkara ini berjalan sempat “Jalan di tempat”. “Mungkin karena kesibukan penyidik. Juga, adanya pandemi Covid-19. Barulah saat ini dilanjutkan proses perkaranya. Dan pada tanggal 4 Juni 2024 Saudara Profesor Doktor Marthen Napang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya,” imbuhnya.

Iqbal membeberkan ada lebih dari dua alat bukti terkait penetapan Marthen Napang sebagai tersangka. Pasal yang dikenakan Marthen Napang sebagai tersangka adalah pidana penipuan (Pasal 378 KUHP) dan atau penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan atau pemalsuan (Pasal 263 KUHP).

“Terkait apakah MN ditahan setelah ditetapkan sebagai Tersangka, itu semua berpulang kepada kewenangan penyidik yang melihat juga dari syarat subjektif dan objektif penahanan,” ujar Muhammad Iqbal.

Foto: Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, yang juga Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., dimasukkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya di Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya, Selasa (09/07/2024). (Dok)
Foto: Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, yang juga Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar bernama Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., dimasukkan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya di Direktorat Perawatan Tahanan Dan Barang Bukti (Dittahti) Polda Metro Jaya, Selasa (09/07/2024). (Dok)

Terkait status Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, pihak UNHAS belum memberikan keterangan resmi.

Sedangkan terkait jabatan Prof Dr Marthen Napang sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar, pihak STFT INTIM Makassar juga diam seribu bahasa.

Wartawan mencoba mengkonfirmasi pihak STFT INTIM Makassar melalui sambungan telepon selular, yaitu kepada Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar, Pdt Dr Lidya K Tandirerung, MA., M.Th dan Ketua Badan Pembina  Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar, Pdt Dr Alfred Anggui.

Namun tidak ada respon dan tidak menjawab apapun terkait status Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) INTIM Makassar.

Sementara, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, ketika dikonfirmasi wartawan lewat sambungan telepon seluler untuk menjelaskan posisi Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., kurang mendapat respon yang memadai.

“Persoalan itu tidak ada kaitan dengan tugas dan fungsi kami. Yayasan di bawah Kemenkumham, STT-nya di bawah kewenangan Kemendikbud. Ini maksud saya,” jawab Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, dan lalu memblokir nomor telepon wartawan.

Kini, Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., masih harus menjalani perpanjangan masa penahanan di Rutan Polda Metro Jaya, setelah upaya Praperadilan yang dilakukan Marthen Napang ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Tidak lama lagi, Prof Dr Marthen Napang, SH., MH., akan segera kembali menjadi Terdakwa lagi di kursi pesakitan di Pengadilan, jika berkas perkaranya sudah dinyatakan lengkap atau P-21, dan jika sudah dilakukan penyerahan Tahap II dari Penyidik Polda Metro Jaya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).(RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sambutan Ketua Umum PGI pada Resepsi Interfaith PBNU Bersama Imam Besar Masjid Al-Azhar Mesir; Pdt Gomar Gultom: Mari Bersama-Sama Selamatkan Peradaban, Selamatkan Kemanusiaan, Selamatkan Keberagaman

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta