Breaking News

Menelisik Pelayanan Bakamla, Pindah Gedung Kok Perilaku Malah Kian Ngaco, Halo Pak Presiden, Bakamla Belum Tersentuh Revolusi Mental Tuh

Menelisik Pelayanan Bakamla

Menelisik Pelayanan Bakamla, Pindah Gedung Kok Perilaku Malah Kian Ngaco, Halo Pak Presiden, Bakamlah Belum Tersentuh Revolusi Mental Tuh.

Tata cara yang baik menghadapi orang lain adalah wujud komitmen dan pelayanan lembaga, aparatur dan badan ataupun instansi-instansi lainnya.

Jika penyambutan dan cara melayani lembaga negara atau instansi terbuka dan tak berprasangka buruk, maka instansi itu bisa dikatergorikan sedang melakukan reformasi birokrasi dan mengabdi pada pelayanan negara dan masyarakatnya.

Namun, apabila dalam menghadapi orang lain dengan kasar, tertutup, penuh intimidasi dan kecurigaan berlebihan, maka pelayanan yang dilakukan instansi bersangkutan pun sangat dipertanyakan.

Jangankan diharapkan akan melakukan tugas dan tanggung jawab yang prima, untuk melaporkan kondisi lapangan dan hendak menkonfirmasi sejumlah hal terkait tugas dan kewenangannya pun tidak dilaksanakan. Revolusi Mentalnya Jokowi pun bisa gagal.

Hal itulah yang terjadi di Kantor Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), yang kini beralamat di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jalan Proklamasi Nomor 56, RT 10/RW 02, Menteng, Jakarta Pusat.

Presiden Joko Widodo yang berjanji akan menerapkan Revolusi Mental, tampaknya harus mengecek perilaku birokrasi dan aparaturnya di tingkat bawah. Bukan revolusi mental yang terjadi, malah ucapan, bentakan, tekanan, mengarah intimidasi serta perilaku ngaco yang masih terjadi di kantor Bakamla.

Ketika wartawan menyambangi Gedung Perintis Kemerdekaan, yang kini baru dijadikan sebagai markas Bakamla. Digedung ini, kaget dengan sikap dan tindakan sejumlah birokrat dan staf di gedung bersejarah yang diketahui sebagai tempat Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 itu.

Jumat siang (07/12/2018), gedung yang dikenal sebagai Gedung Pola itu ramai dengan pengerjaan bagian-bagian gedung. Gedung Perintis Kemerdekaan ini berada persis di sebelah Tugu Proklamasi atau yang kini dinamai dengan Taman Proklamator, di Menteng, Jakarta Pusat.

Suasana pembenahan gedung masih terasa. Dua orang pekerja, tanpa pengaman, tampak sedang mengelas sesuatu di atas gapura atau pintu gerbang yang sudah bertuliskan Bakamla.

Sebuah pos penjagaan yang difungsikan sebagai tempat melapor dan registrasi tamu terdapat di bagian kiri dalam gerbang. Di pos ini, setiap tamu mesti mendapat wawancara kecil—kalau tidak mau disebut sebagai interogasi—bagi orang yang hendak bertamu atau berkunjung.

Beberapa orang petugas tampak berjaga dan meminta setiap orang yang masuk ke dalam lokasi gedung untuk mengisi daftar tamu, tujuan, dan pihak yang akan ditemui di Bakamla. Indentitas atau tanda pengenal tamu harus ditinggalkan di pos itu. Diganti dengan kartu tamu.

Nanti jika urusan selesai dari dalam, maka menyerahkannya kembali dan mengambil Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau identitas tamu. Mungkin itulah standar prosedur yang diterapkan oleh Bakamla.

Memasuki bagian dalam gedung, di lantai satu, bagian resepsionis belum ada. Mesin detektor masih dibungkus kardus. Belum beroperasi. Belum ada penunjuk atau informasi mengenai ruangan-ruangan di tempat itu.

Di sebelah kiri meja resepsionis yang kosong, lewat lorong pendek, terdapat kantin-kantin. Lokasinya tidak terlihat dari bagian resepsionis, karena berada di bagian belakang.

Sejumlah pria mengenakan kemeja putih berlogo Bakamla sedang bersendagurau di kantin. Mereka menginformasikan, untuk menuju ke ruangan kantor Humas dan Biro Protokol harus melalui tangga. Naik ke lantai dua, di sebelah kiri, jalan terus, nanti ada tulisan menjelaskan ruangan yang hendak dituju. “Dicari aja di lantai dua mas,” ujar salah seorang pria dari dalam kantin.

Di bagian tengah dalam gedung, tampak pekerja masih melakukan pembenahan. Patung Tokoh Proklamasi Soekarno dan Mohammad Hatta serta cetakan besar tulisan Proklamasi tertera di bagian tengah. Kesibukan memperbaiki bagian-bagian gedung sangat terasa.

Seorang staf kantor kebetulan keluar dari dalam ruangan dengan pintu kayu. Pria yang mengenakan baju dinas Bakamla itu menenteng map. Di bagian pintu tertulis Biro Umum, Kabag Humas dan Protokol, Kabag TU dan Runga, Tata Usaha, Protokol, Admin, Humas. Menempel di bagian-bagian pintu.

Staf itu menginformasikan, banyak orang di dalam ruangan, para staf dan pejabat terkait. Dipersilakan masuk untuk mencari dan menanyakan bagian mana yang hendak dituju. Di dalam ruangan, deretan meja tampak diisi orang-orang yang bermain komputer, ada yang bertelepon, mengobrol dan tertawa.

Di bagian atas sebelah kiri ruangan ada poster bertuliskan Humas Bakamla. Sembari menanyakan seseorang di ruangan itu, memoto tulisan Humas Bakamla. Wartawan menunjukkan identitas pers, dan meminta tolong diarahkan untuk bertemu bagian Humas.

Sontak semua penghuni ruangan memberi reaksi tidak sedap. Sejumlah staf berpakaian Bakamla, dari mulai pangkasan cepak dan tidak cepak, menghampiri dan mencecar segudang pertanyaan. Bersahut-sahutan, meminta segera menghapus foto yang terlanjur dijepret di kamera henpon.

Seorang pria berpangkas cepak memberi kode, agar dibawa ke sebuah ruangan di bagian pojok lantai dua itu. Ruangan ini disebut mereka sebagai ruang serba guna, mirip kantin sebenarnya. Terdapat meja-meja untuk makan. “Tunggu di sini,” ujar pria cepak yang mengantar.

Dua orang perempuan, sudah usia lanjut, tampak tersenyum. “Ini ruangan untuk istirahat, buat makan siang juga, untuk rehat ,” ujarnya. Sepertinya si ibu adalah pekerja di ruang serba guna itu.

Seorang staf Humas Bakamla bernama Yuhanis Antara menginformasikan bahwa pimpinannya yakni Kasubag Humas Bakamla Mardiono sedang melaksanakan sholat. Sekitar lima menit, Kasubag Humas Bakamla Mardiono datang ke ruang serba guna. Menyampaikan bahwa dirinya sedang mengikuti rapat pimpinan yang tertutup di lantai atas. “Cuma lima menit aja ya. Saya harus mengikuti rapat,” ujar Mardiono terburu-buru. Menyampaikan tujuan hendak wawancara terkait pelayanan dan gedung baru serta perpindahan Bakamla dari Kantor Lama yakni dari Jalan Dr Soetomo Nomor 11, Jakarta Pusat ke Gedung Perintis Kemerdekaan.

Tak sempat menjawab, tiba-tiba Mardiono keluar begitu saja meninggalkan ruangan, tampak sedang memanggil salah seorang staf dan mengobrol. Lalu pergi, tanpa melanjutkan percakapan hendak meninggalkan nomor telepon agar lebih mudah dihubungi.

Sepeninggal Mardiono, sekitar sepuluh orang staf Bakamla memasuki ruangan serba guna. Kembali mencececar segudang pertanyaan dengan nada mengancam dan penuh curiga. Secara bergantian mereka bicara, tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan dengan tenang tujuan wawancara.

Seorang pria cepak memegang rokok sedang menyala datang dan bertanya dengan nada tinggi, menanyakan identitas. “Wartawan mana? Nama siapa? Di mana kantornya? Tujuannya mau ngapain?” padahal yang bersangkutan sudah melihat dan memeriksa identitas di ruangan Humas tadi.

Staf Humas Bakamla Yuhanis Antara dan satu lagi Asmawi turut mencecar. Seorang anggota Provost Bakamla bernama Agam S, datang dengan tampang streng hendak mengusir. “Kami tak berkenan. Saya Provost di sini. Semua ini harus lewat saya. Silakan anda keluar,” ujar Agam. Provost satu ini tampaknya tidak peduli dengan penjelasan dan argumentasi maksud dan tujuan wawancara.

“Ini Bakamla, instansi ini instansi yang militer juga, tak sepenuhnya sipil. Prosedur di sini sangat kaku. Silakan kembali setelah bersurat resmi, dan jika direspon ya datang,” ujar Yuhanis Antara menimpali.

Agam tampak tak sabar, dia mengancam akan menelepon petugas Kepolisian dari Polsek Menteng untuk mengangkut tamu. “Saya akan telepon Polsek,” ujarnya lalu keluar.

Kepala Protokol Bakamla Mayor Leo datang menyampaikan bahwa pihaknya tidak berkenan. Dan terutup. Karena itu, dipersilakan meninggalkan tempat. Staf Humas lainnya bernama Donny, juga memancing adu mulut. Perdebatan tak jelas. Masalah prosedur bertamu. Penerimaan yang tertutup dan penuh ancaman.

“Prosedur di sini tidak sembarangan. Tidak boleh memoto. Hapus foto-foto dari HP,” desaknya bernada ancaman.

Seorang anggota Kepolisian dari Polsek Menteng tampak tiba. Dia mengatakan, dirinya diminta datang.  Kepala Protokol Bakamla Mayor Leo mengatakan, segala protokoler di tempat itu adalah urusan dia. Karena itu, dia berjanji akan merespon, jika ada surat resmi dari tamu.(JR/Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*