Media Massa Yang Bermunculan Jelang Pemilu 2019 Jangan Jadi Ajang Perang Hoax

Beragamnya media massa yang bermunculan jelang Pemilihan Umum 2019 menimbulkan dis-trust publik pada informasi yang menyebar.

Media massa diharapkan tetap menjaga kepercayaan publik, dengan tidak menjadikan media sebagai ajang perang hoax.

Analis Kebijakan Publik Melkior Wara Mas menuturkan, dalam situasi politik menjelang pemilu serentak 2019, media massa menjadi ketergantungan informasi yang mencerdaskan masyarakat (pemilih).

Informasi dan pemberitaan media tidak sebatas pada perang opini, hoax, ataupun pemberitaan saling menyudutkan antar kandidat satu dengan lainnya.

“Pemberitaan publik tidak sebatas ceremonial strategy politik borjuis membagi kue kekuasaan, tetapi secara serius membahas persoalan sosial, ekonomi masyarakat,” tutur Melkior, di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Dia pun mengingatkan, media wajib menjaga kepercayaan masyarakat. Dalam konteks media sebagai institusi sosial, sangat diharapkan media berpartisipasi aktif pada peran dan fungsinya untuk kepentingan sosial kemasyarakatan.

“Fungsi pengawasan (surveillance) yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain menyampaikan fakta dan data kepada khalayak, lanjut dia, media massa juga mengutamakan penafsiran berdasarkan fakta sosial kemasyarakatan, tidak saja persoalan di tingkat elit politik atau kekuasaan.

Bila media bergerak sesuai relnya dan tidak ada persekongkolan dengan penguasa, maka media dapat menjadi alat pemersatu anggota masyarakat yang beragam sehingga membentuk pertalian berdasarkan kepentingan.

Kehadiran media di tengah publik, bukan hanya menjalankan fungsi hiburan (entertainment), paling penting menjalankan penyebaran nilai positif (transmission of values) yang mengedepankan karakter dan nurani bangsa, pengembangan mental sumber daya manusia Indonesia. “Itu yang harus tetap dipegang teguh oleh media,” ujarnya.(JR)

2 Comments

Tinggalkan Balasan