Masyarakat Kota Butuh Penghijauan

Cuaca Panas Banget, Anomali Iklim Timbulkan Banyak Penyakit

Cuaca Panas Banget, Anomali Iklim Timbulkan Banyak Penyakit, Masyarakat Kota Butuh Penghijauan.

Kota-kota di Indonesia tidak sedikit yang mengalami persoalan cuaca super panas. Anomali iklim, kadang panas, kadang mendung, mendadak hujan, menyebabkan munculnya berbagai jenis penyakit, terutama penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), yang sangat banyak menyerang anak-anak kecil.

Di Jakarta, selain kepadatan penduduk dan kepadatan kendaraan yang menimbulkan polusi yang sangat tinggi, cuaca super panas pun terjadi. Wilayah Jakarta Utara, menjadi salah satu sasaran cuaca panas yang tidak terhindarkan.




Abdul Rifai, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di sekitar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, mengeluhkan panasnya cuaca Ibukota.

Dia, keluarganya, anak-anaknya dan para tetangganya, tiap hari mengeluhkan cuaca panas yang kian menjadi-jadi. Sejumlah anak kecil di lingkungannya pun sering mengalami sakit panas, demam, batuk dan flu.

Rifai mengatakan, pepohonan hijau yang sudah hilang dari Ibukota menambah semakin parahnya dampak dari cuaca panas yang dialami warga.

“Panasnya aja begini amat, gimana kalau di neraka. Ini karena sudah enggak ada yang hijau-hijau. Makin panas, bikin sakit,” tutur Rifai, saat berbincang pekan lalu.

Dia mencontohkan, lapangan parkir tempat dia mencari nafkah saja sudah dibalut dengan aspal beton. Ketika sinar panas matahari menerpa, suhu akan kian panas di sekitarnya. Hampir semua lapangan parkir di lapangan, modelnya di-aspal beton.

“Gimana enggak makin panas, diaspal beton begini semua. Coba kalau pakai aspal yang dulu itu (aspal hitam), mungkin tak sepanas ini. Mungkin masih bisa menyerap panas. Atau, tanah aja dah, supaya menyerap panas,” tutur Rifai.

Jakarta memang dipenuhi dengan gedung-gedung beton pencakar langit. Selain itu, setiap jengkal tanah kini sudah menjadi rumah-rumah permukiman penduduk. Sebagian besar lahan lainnya sudah dilapisi aspal beton untuk tempat parkir yang sudah tidak memadai bagi warga.

Kepadatan penduduk hingga permukiman berdempet-dempetan bukan pemandangan asing lagi di Ibukota. Setiap ruas jalan, sesak dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Setiap hari, ribuan bahkan jutaan kubik asap kendaraan di jalanan menggumpal ke udara. Cuaca semakin panas.

“Belum lagi, pepohonan yang rindang dan yang tadinya bisa menjadi tempat berteduh, sudah banyak yang ditebangi. Jalanan di Jakarta sudah minim dengan pepohonan rindang. Habis semua ditebangi,” ujar Rifai.

Menurut dia, taman-taman kota, tempat-tempat bermain anak-anak, seperti Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) tidak banyak membantu mengurangi panas dan pengapnya cuaca di Ibukota.

“Masih mending ada RPTRA, tapi itu pun sudah tak sanggup menahan panas. Yang ada, malah sakit semua orang,” ujarnya.

Hampir semua gedung perkantoran, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, mal-mal bahkan rumah-rumah penduduk di Jakarta lebih memilih mempergunakan mesin pendingin udara atau Air Conditioner (AC). Semua itu sangat berkonstribusi menyebabkan kerusakan lingkungan dan menyebabkan cuaca panas yang tak terkatakan lagi.




Rifai, sebagai warga biasa di Ibukota, berharap agar pemerintah menggalakkan penghijauan kota.

“Mestinya, pemerintah memulai lagi upaya penghijauan di Ibukota. Perbanyak pohon-pohon rindang, di lahan-lahan yang memang sangat perlu untuk menyerap hawa panas cuaca ini. Kalau enggak, ya sakit terus nanti semua masyarakat ini,” harapnya.

Dokter Puskesmas Sarankan Penghijauan Ibukota Untuk Cegah Penyakit

Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, dr Edison Sahputra, MARS mengakui, banyak warga mengidap penyakit dan serangan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), dikarenakan cuaca panas.

Cuaca yang panas, kondisi permukiman yang padat, kota yang gundul dari pepohonan rindang, aktivitas kendaraan bermotor yang sudah di luar batas kemampuan alam Jakarta, disebutnya sebagai salah satu faktor utama pemberi konstribusi besar dengan iklim maupun cuaca panas yang menyebabkan munculnya berbagai jenis penyakit bagi warga masyarakat.

“Penghijauan di Jakarta sangat perlu dilakukan. Lihat saja lingkungan kita, pepohonan sudah sangat berkurang,” ujarnya.

Edison mengatakan, jenis penyakit yang paling banyak dialami warga karena cuaca panas itu adalah ISPA. Untuk Kecamatan Cilincing saja, lanjutnya, berdasarkan hasil evaluasinya pada 2018 kemarin, sebanyak 25.634 warganya, yang sebagian besar adalah anak-anak kecil, terserang sakit ISPA.

“Yang paling banyak itu kena ISPA. Mencapai angka 25 ribu lebih, hampir 30 ribu warga Kecamatan Cilincing kena serangan sakit ISPA. Untuk tahun 2019 ini, belum ditotal lagi,” tutur dr Edison.

Secara geografis,luas wilayah Kecamatan Cilincing adalah 3.970 hektar, dengan jumlah penduduk mencapai 377.036 jiwa. Wilayah Kecamatan Cilincing terbagi dalam 7 wilayah Kelurahan dan 88 Rukun Warga (RW) dan 1031 Rukun Tetangga (RT).




dr Edison Sahputra merinci, evaluasi di tahun 2018, ada 10 jenis jenis penyakit yang dialami warganya, dengan jumlah pengidap yang tidak kecil.

Di urutan pertama, penyakit ISPA unspecified mencapai 25.643 orang. Kedua, pengidap darah tinggi atau hipertensi primer atau hipertensi essensial sebanyak 13.873 orang. Kemudian, dispepsia atau sakit lambung seperti maag sebanyak 9.505 orang, myalgia atau mengalami keluhan pegal-pegal sebanyak  5.753 orang, gynaecological examination (general)/ (routine) sebanyak 4.564 orang, nasofaringitis akut atau radang tenggorokan sebanyak 4.325 orang, diarroea and gastroenteritis of presumed infectious origin atau penyakit diare sebanyak 3.996 orang.

Kemudian, penyakit pulpa dan jaringan periapikal, atau dikenal juga sebagai sakit mata sebanyak 3.295 orang, fever unspecified atau demam tidak spesifik, atau demam biasa sebanyak 3.139 orang dan non insuline dependentdiabetes mellitus without complications (diabetes non insulin) sebanyak 2.401 orang.

Sejauh ini, dr Edison Sahputra sebagai Kepala Puskesmas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, menggalakkan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) melalui Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH).

Saat ini, untuk PISPK dengan KPLDH, Puskesmas Kecamatan Cilincing memiliki sebanyak 21 petugas. Sasarannya sebanyak 16.825 Kepala Keluarga (KK), dengan 92.769 jiwa. Kini capaian yang dilakukan sudah mencapai 13.946 KK dengan 48.879 jiwa.

“Tindakan intervensi pelayanan kesehatan di masing-masing keluarga diberikan secara bersama-sama saat pendataan. Kita juga menerapkan monev (monitoring dan evaluasi) kegiatan KPLDH rutin, setiap bulan. Kunjungan-kunjungan dilakukan secara konsisten, seperti di wilayah permukiman penduduk,” tuturnya.

Selain melakukan tindakan preventif medis, kuratif dan penyuluhan, dr Edison menyarankan agar pemerintah juga menggiatkan program penghijauan Ibukota. Penghijauan itu bisa untuk mencegah dan mengurangi berbagai jenis penyakit yang diidap oleh masyarakat.




“Ada sejumlah pohon keras, pohon besar dan rindang yang cocok ditanami di Ibukota, seperti di daerah Cilincing ini. Pohon-pohon itu bisa dijadikan sebagai bibit untuk melakukan penghijauan di Ibukota. Pemerintah dan masyarakat bisa inisiatif menggalakkan penghijauan. Supaya lingkungan dan masyarakat kita tidak diserang penyakit,” ujar Edison.

Pemerintah juga bisa meneliti atau menginisiasi jenis pohon rindang yang cocok untuk ditanami di berbagai wilayah di Jakarta. Untuk mengurangi cuaca panas, dan mengurangi tersebarnya penyakit-penyakit di masyarakat. “Penghijauan itu sangat perlu dilakukan kembali di Jakarta,” ujar dr Edison.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan