Marak Persoalan Beribadah dan Hubungan Antar Agama, Umat Kristen Indonesia Dorong Gerakan Advokasi Nasional

Banyak Persoalan Beribadah dan Hubungan Antar Agama, Umat Kristen Indonesia Dorong Gerakan Advokasi Nasional.
Banyak Persoalan Beribadah dan Hubungan Antar Agama, Umat Kristen Indonesia Dorong Gerakan Advokasi Nasional.

Umat Kristen di Indonesia didorong turun tangan bersama-sama secara langsung melakukan komunikasi dan advokasi terkait berbagai persoalan kemerdekaan beribadah, intoleransi, diskriminasi, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), marginalisasi, persoalan hak ulayat masyarakat suku dan berbagai persoalan-persoalan lainnya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) DKI Jakarta, Jhon Roy P Siregar menyatakan, maraknya persoalan ujaran kebencian, saling caci karena agama, dan juga kemerdekaan beribadah dan menjalankan agamanya di Indonesia harus ditangani dan diselesaikan dengan serius. Melalui proses advokasi yang fair dan berkeadilan.

Seperti umat Kristen yang mengalami banyak kendala beribadah di beberapa daerah, tidak cukup hanya diselesaikan lewat perdebatan-perdebatan di ruang-ruang media sosial (medsos).

“Kami mendorong seluruh umat Kristen, dari berbagai aras, dari seluruh elemen, serta stakeholders di Indonesia melakukan advokasi. Seluruh elemen masyarakat yang taat konstitusi, UUD 1945 dan Pancasila, untuk bersama-sama melakukan Gerakan Advokasi Nasional,” tutur Jhon Roy P Siregar, di Jakarta, Selasa 27 Agustus 2019.

Dia menekankan, dengan melihat dan mendalami banyaknya persoalan yang dialami Umat Kristen di Indonesia, terutama dalam hal kemerdekaan beribadah yang banyak terjadi di sejumlah daerah, maupun persoalan-persoalan penegakan HAM, perampasan kemerdekaan atas hak ulayat, rasisme, intoleransi dan sebagainya, maka DPD GAMKI DKI Jakarta meminta, mendorong semua stakeholders, terutama basis-basis Kristen, membentuk Desk Gerakan Advokasi Nasional.

Tujuannya, untuk melakukan tindakan advokasi yang terkoordinasi di seluruh wilayah, untuk menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan itu.

“Umat Kristen tidak mungkin hanya sibuk saling ribut sendiri, dan tuding menuding atau malah asyik ber-medsos ria saja untuk meresponi persoalan-persoalan seperti ini,” ujar Jhon Roy P Siregar.

Dia berharap, umat Kristen yang berada di kan tong-kantong organisasi, daerah-daerah dan juga elemen-elemen masyarakat yang memiliki persoalan yang sama untuk berkomunikasi dan bersinergi melakukan advokasi.

“Tidak terbatas hanya bagi umat Kristen. Tetapi seluruh masyarakat yang mengalami problema yang sama,” katanya.

Jhon mengajak, organisasi seperti Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI), Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), Pimpinan Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo), Tujuh Aras Gereja Nasional seperti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) serta Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Bala Keselamatan (BK), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dan Gereja Orthodox Indonesia (GOI), untuk bersama-sama membangun komunikasi dan koordinasi dalam Gerakan Advokasi Nasional itu.

Basis-basis umat Kristen di Indonesia juga berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Masyarakat Adat dan aparat penegak hukum untuk bersama-sama melakukan advokasi persoalan-persoalan rakyat itu.

“Bersama segmen basis kristen lainnya, bisa berkomunikasi dan mengkonkritkan Gerakan Advokasi Nasional ini, untuk melakukan advokasi dan kerja-kerja menyelesaikan berbagai peristiwa dan konflik itu,” demikian Jhon Roy P Siregar.

Senada dengan Jhon Roy P Siregar, Tokoh Kristen Pdt Saut Hamonangan Sirait juga menekankan perlunya tindakan nyata untuk menangani dan menyelesaikan persoalan-persoalan umat itu.

“Sangat setuju dilakukannya gerakan advokasi nasional bersama-sama itu. Selama ini, semuanya terbiarkan. Selama ini, hanya pernyataan-pernyataan, sekedar pertemuan sana sini, lalu dibiarkan begitu saja. Sekarang, mesti ada gerak bersama dan terencana,” tutur mantan Komisioner DKPP itu.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), Baktinendra Prawiro juga mendukung gerakan itu. “Itu ide yang baik. Bagus, dan mesti kita support,” ujar Baktinendra.

Sekretaris Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philips Sinurat menyampaikan, persoalan-persoalan itu memang harus segera ditindaklanjuti. “Kita memerlukan itu,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan