Marak Gerakan Menu Prasmanan, Islam Indonesia Kembalilah ke Gerakan Kultural

Dikusi dan Bedah Buku Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), Marak Gerakan Menu Prasmanan, Islam Indonesia Kembalilah ke Gerakan Kultural.

Pasca reformasi 1998, Islam di Indonesia kembali sibuk mencari jati diri. Sejumlah pandangan publik mengenai Islam yang berkembang di masyarakat pun menimbulkan berbagai persfektif dan persepsi tentang Islam yang dominan bermunculan di media sosial dan media massa.

Cendekiawan Muda Islam, Sahal Mubarok mengungkapkan, Islam Indonesia mengalami fase-fase yang tidak bisa dihindari sebagai skenario global.

Oleh karena itu, memotret keislaman di Indonesia pasca reformasi, cenderung tergambarkan sebagai sebuah situasi yang penuh pergolakan.

Sebagai sebuah wacana dan pengetahuan, Sahal Mubarok menyampaikan, Islam di Indonesia zaman now bagaikan hidangan menu makanan di meja makan. Tidak hanya satu jenis. Tergantung selera dan penikmatnya untuk memilih mencicipi yang mana.

“Gerakan Islam itu tidak bisa lagi kita klasifikasikan dengan hitam dan putih. Saat ini, terutama pasca reformasi, Gerakan Islam di Indonesia, bagai menu prasmanan. Ada kelompok yang tidak terlalu peduli dengan substansi keislamannya, bahkan cenderung ditinggalkan. Ada juga penganut yang menekankan formalistik keislaman belaka,” tutur Sahal Mubarok.

Sahal Mubarok yang adalah Dosen Filsafat Ilmu Universitas Jakarta itu menyampaikan gagasan dan pemikirannya dalam Diskusi dan Bedah Buku, Berebut Wacana, Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi, karya Carool Kersten, yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), di Jalan H Khair No 41, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Dalam kacamata Sahal, buku karya Profesor di Bidang Studi Islam, King’s College, London itu belumlah memandang Islam Indonesia secara konprehensif. Jika hanya memotret Islam Indonesia di era pasca reformasi, maka ada substansi yang tertinggalkan, seperti pemikiran-pemikiran dari para pendahulu Cendekiawan Islam Indonesia, misalnya Nurkholis Majid atau Cak Nur dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan para pemikir Islam Indonesia lainnya.

“Misalnya, pergulatan mengenai pendapat yang menyatakan Islam tidak boleh berpolitik dengan pendapat yang berpendapat untuk konteks Indonesia berpolitik bagi Islam adalah keharusan, itu tidak tergambar di dalam buku itu,” tuturnya.

Paling tidak, lanjut Sahal Mubarok, untuk Indonesia, ada tiga momentum yang juga perlu dipaparkan mengenai Islam.

Pertama, era tahun 60-70-an. Menurut dia, di era ini, gagasan-gagasan Islam di Indonesia lebih banyak dikaji mengenai substansi keislaman. Di era ini, kajian mengenai peranan Islam dalam konteks keindonesiaan pun sudah mulai dibahas.

“Cendekiawan Islam Indonesia waktu itu bicara mengenai substansi Islam itu sendiri. Islam yang substantif. Kemudian, juga dibahas mengenai Islam sebagai gagasan normatif. Yang namanya normatif ya sangat jarang bersentuhan pada realitas masyarakat, terutama masyarakat kelas bawah, dan tidak menyentuh langkah yang transformatif. Maka di era itu pun sudah muncul istilahnya Cak Nur Islam Yes, Partai Islam No,”  bebernya.

Kedua, momentum tahun 1989-1990-an. Di era ini, terjadi pergeseran wacana Islam. Kekuatan Orde Baru di bawah kekuasaan Presiden Soeharto mulai bersentuhan dengan Islam.

Pada tahun 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pun muncul. ICMI ini, menurut Sahal, ditopang oleh rejim Orde Baru.

“Soeharto mengakomodir Islam lewat ICMI. Dan pada tahun 1990 inilah untuk pertama kalinya Soeharto naik haji,” ungkapnya.

Orde Baru, lanjutnya, tidak hanya mengakomodasi pemikiran dan kekuatan gerakan Islam dari kubu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, tetapi juga berbagai aliran Islam lainnya yang ada di Indonesia.

Meski diakomodir oleh Orde Baru, lanjut Sahal, bukan berarti tidak terjadi perlawanan dan pergeseran gerakan Islam di Indonesia saat itu. Sebab, sebagian umat Islam Indonesia waktu itu tidak mau dikooptasi oleh kekuasaan Orde Baru.

“Maka muncul gerakan kultural yang dimotori oleh Gus Dur. Dia pun membentuk Forum Demokrasi atau Fordem. Fordem ini menolak ICMI yang dikooptasi oleh kekuasaan Orde Baru. Jadi, Fordem hadir sebagai antitesa dari ICMI waktu itu,”  bebernya.

Ketiga, era tahun 1998-1999. Di era ini, Sahal menggambarkan Islam di Indonesia turut mengalami krisis, seperti krisis moneter dan ekonomi yang terjadi di masa transisi reformasi itu.

Di era inilah juga Islam pragmatis muncul. Yakni gerakan Islam yang ingin merebut dan berpartisipasi langsung dalam kekuasaan. “Tokoh-tokoh Islam Indonesia waktu itu ramai-ramai bikin partai politik. Ramai-ramai menjadi anggota parpol,” ujarnya.

Bukan hanya berpolitik praktis, lanjutnya, di era ini, muncul juga Islam yang bebas sebebas-bebasnya. Keinginan akan hasrat berkuasa, berpolitik praktis pun semakin terbuka. “Bahkan hasrat memperoleh materi dan uang pun sangat terbuka dan dilakukan di era ini,” ujarnya.

Dari tiga momentum itu, lanjut Sahal, Carool Kersten tidak memotretnya dalam bukunya. Kemudian, lanjut Sahal, ada satu lagi momentum yang hampir terluput, yakni tahun 2005-2006, dimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram untuk gerakan sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

“Kondisi ini semakin membakar gerakan Islam menjadi normatif. Padahal, Islam di Indonesia tidak begitu. Seharusnya, negeri-negeri Timur Tengah yang harusnya belajar keislaman Indonesia. Bagaimana mengkontekstualisasikan Islam seperti di Indonesia yang majemuk ini. Indonesia tidak dibangun atas dasar agama,” tutur Sahal.

Sahal setuju, bahwa dinamika dan perkembangan dunia tetap mempengaruhi semua cara pandang agama-agama, termasuk Islam. Tantangan Islam ke depan, menurut Sahal Mubarok, adalah Islam Indonesia terus mencari formula yang tepat bagi keindonesiaan. “Mencari jatidiri yang pas untuk Indonesia,” ujarnya.

Paling tidak, kata dia, mengikuti perkembangan manusia dan peradabannya yang kian pesat ini, Islam juga harus konsern dengan empat hal penting, yakni Kebebasan Berpikir, Pluralisme Agama, Hak Asasi Manusia (HAM) dan Sosial Politik.

Sahal lebih menekankan Islam yang solutif untuk konteks masyarakat yang berkembang bersama peradabannya, termasuk Islam yang solutif bagi Indonesia yang majemuk ini. Karena itu, Sahal mengingatkan bahwa Islam Indonesia harusnya kembali pada pendekatan Gerakan Kultural.

“Pendekatan dan gerakan kulutral seperti yang dimulai oleh Gus Dur itu lebih solutif bagi peradaban manusia Indonsia,” ujar Sahal.

Cendekiawan Islam Yudi Latif dalam catatannya mengenai Buku Berebut Wacana, Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi, karya Carool Kersten itu, Indonesia kerap dilukiskan dalam relasi dan kontestasi antara Islam Tradisionalis dan modernis. Reformasi 1998 membuka horizon pemahaman baru.

“Inilah struktur peluang politik baru yang memberi panggung bagi umat Islam untuk memainkan peran sosial-politik yang makin besar di ruang publik Indonesia,” tutur Yudi Latif.

Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu melanjutkan, dalam peran baru ini, Islam ternyata bukanlah kubu yang seragam, melainkan beragam, dimana kelompok-kelompok Intra Islam mengajukan agenda dan wacana sendiri-sendiri.

Kontestasi wacana ini bukan hanya menyangkut peran sosial-politik Islam di ruang publik, tetapi lebih jauh lagi menyangkut hakikat Islam itu sendiri sebagai agama.

“Spektrum kontestasinya juga amat luas, merentang dari sekedar persoalan perbedaan fikih hingga perbedaan akidah, yang bahkan berujung pada kekerasan fisik,” ujarnya.

Menurut dia, analisis lama Islam modernis versus tradisional yang biasanya diwakili oleh Muhammdiyah dan NU menjadi terlalu simplistis, bahkan sering misleading.

Peran dan pemikiran tokoh-tokoh tua yang karismatis tidak lagi menjadi ide mainstream ketika kaum intelektual Islam muda mengkritisi mereka dan menggeluti ide-ide Islam secara baru yang bersifat lintas-batas, lintas mazhab, lintas disiplin.

“Jejaring internasional membuat pertarungan wacana Islam di Indonesia mesti dibaca juga dalam konteks global,” ujar Yudi Latif.

Ketua Umum Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) Jones Batara Manurung menyampaikan, di era Pemerintahan Joko Widodo ini, harus diakui bahwa kajian dan wacana diskursus publik mengenai aliran-aliran pemikiran yang berkembang di Tanah Air, sangat minim.

“Bahkan boleh dibilang tak ada ruang dialog. Selalu dalam konteks berhadap-hadapan. Berbeda dengan era sebelumnya, ruang publik masih diisi dengan dialog dan kajian-kajian kritis dari para pemikir-pemikir Indonesia. Yang sekarang, memang minim sekali,” tutur Jones Batara Manurung.

Oleh karena itu, dia pun berharap, ke depan akan selalu dibuka ruang dialog oleh para pemikir-pemikir muda Indonesia, membahas berbagai hal yang berguna membangun Indonesia dan masyarakatnya lebih baik. “Ruang-ruang dialog itu harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*