Maklumat Cigugur: Tolak Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan terhadap Penganut Agama Leluhur

Maklumat Cigugur: Tolak Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan terhadap Penganut Agama Leluhur

- in DAERAH, DUNIA, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, POLITIK, PROFIL
64
0
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melaksanakan Seminar Agama-agama (SAA) Ke-37 Tahun 2022 di tengah Komunitas Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur. Kegiatan dilaksanakan di Balai Paseban Tripanca, Cigugur, Kuningan Jawa Barat, pada 16-19 November 2022, dengan tema “Rekognisi, Pemenuhan, dan Perlindungan Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan bagi Warga Negara.”.(Dok)Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melaksanakan Seminar Agama-agama (SAA) Ke-37 Tahun 2022 di tengah Komunitas Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur. Kegiatan dilaksanakan di Balai Paseban Tripanca, Cigugur, Kuningan Jawa Barat, pada 16-19 November 2022, dengan tema “Rekognisi, Pemenuhan, dan Perlindungan Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan bagi Warga Negara.”.(Dok)

Seminar Agama-Agama (SAA) Ke-37 PGI yang dilaksanakan di tengah Komunitas Sunda Wiwitan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat telah berlangsung pada 16-19 November 2022.

SAA dengan Tema: Rekognisi, Pemenuhan dan Perlindungan Hak Beragama dan Berkeyakinan Warga Negara, merupakan SAA pertama yang dilakukan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), di mana pesertanya live-in di rumah Masyarakat Adat.

Kepala Humas Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jeirry Sumampow menyampaikan, terjadi proses interaksi langsung antara peserta dan warga yang menarik, sebab memunculkan banyak cerita dan pengalaman inspiratif dan mengharukan.

“Suasananya penuh kasih dan persaudaraan,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima, Senin (21/11/2022).

Dinamika proses empat hari SAA kali ini menunjukkan betapa diskriminasi dan intoleransi masih terjadi secara sistematis kepada kelompok masyarakat penganut agama leluhur atau penghayat kepercayaan.

Sumber masalahnya pun jelas yaitu tak adanya pengakuan Negara yang sungguh bahwa penghayat kepercayaan adalah sebuah agama yang hidup secara nyata dalam masyarakat Indonesia. Sebuah ironi di tengah bangsa yang mengagungkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Menyikapi situasi yang memprihatinkan itu, peserta SAA Ke-37- yang terdiri dari tokoh agama, tokoh kepercayaan, tokoh masyarakat, akademisi, pemuda lintas agama, organisasi kemasyarakatan serta pegiat HAM dan demokrasi – menyatakan sikap dan keprihatinannya dalam bentuk Maklumat Cigugur.

Maklumat Cigugur ini menekankan dan menegaskan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, mendesak lembaga legislatif dan Pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Masyarakat Adat untuk menjamin kepastian hukum demi rekognisi, pemenuhan, perlindungan hak konstitusional masyarakat adat.

Kedua, menuntut agar pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan semua agama yang ada di Indonesia, termuat di dalam Undang-Undang atau Sistem Pendidikan Nasional.

Ketiga, menolak segala bentuk stigma, diskriminasi, intoleransi dan kekerasan atas nama agama, suku, dan kepercayaan terhadap setiap warga Negara.

Keempat, menuntut perbaikan kebijakan yang berkeadilan dan penghapusan segala bentuk tindakan yang menghambat layanan negara terhadap setiap warga Negara.

Kelima, mengajak semua elemen masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan NKRI.(RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Pak Jaksa Agung, Oknum Jaksa Kejati Sulawesi Tengah Diduga Jadi Otak Halang-Halangi Pencari Keadilan

Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof Dr ST Burhanuddin