Libatkan Swasta, The Nature Conservancy Indonesia Gandeng Nelayan & Perusahaan Pengolahan Kakap dan Kerapu Laut

Pemerintah Perlu Dukungan Untuk Lanjutkan Usaha Perikanan

Pemerintah Perlu Dukungan Untuk Lanjutkan Usaha Perikanan, Libatkan Swasta, The Nature Conservancy Indonesia Gandeng Nelayan & Perusahaan Pengolahan Kakap dan Kerapu Laut.

Untuk mendukung pemerintahan, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melanjutkan usaha perikanan di Indonesia, pihak swasta bersama Nelayan dan Perusahaan-Perusahaan Pengolahan Ikan pun perlu digandeng.

The Nature Conservancy Indonesia (TNC) menggalang dukungan dari nelayan dan para pelaku usaha, terutama perusahaan pengolahan ikan kakap dan kerapu laut dalam Proyek Perbaikan Usaha Perikanan atau Fisheries Improvement Projects (FIP).

Direktur The Nature Conservancy Indonesia, Rizal Algamar menuturkan, Fisheries Improvement Project (FIP) TNC telah menghasilkan tinjauan menyeluruh terhadap status usaha perikanan kakap dan kerapu laut dalam yang kompleks tapi bernilai jual tinggi.

Usaha tersebut mencakup 10.000 kapal penangkap ikan beragam ukuran dan tipe alat tangkap yang mendaratkan hingga 88.000 ton ikan dengan nilai perdagangan mencapai 500 juta Dolar Amerika  di pasar domestik dan internasional.

Kini, TNC Indonesia pun menggandeng perusahaan penangkapan, pengolahan, dan eksportir ikan serta para nelayan di dalam Proyek Perbaikan Usaha Perikanan (Fisheries Improvement Project (FIP) Kakap dan Kerapu Laut Dalam untuk mendukung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.

Program yang diinisiasi oleh TNC ini bertujuan menghindari pembelian bahan baku ikan kakap dan kerapu yang belum dewasa untuk mencapai standar keberlanjutan perikanan di Indonesia.

Dua perusahaan pengolahan dan eksportir ikan kakap dan kerapu Indonesia, yakni PT Kharisma Bintang Terang asal Makassar dan PT Graha Insan Sejahtera asal Jakarta, telah menandatangani Kesepakatan Kerja sama dalam Letter of Intent (LoI) dengan TNC Indonesia di Jakarta, pada 1 April 2019.

Dalam LoI ini, kedua perusahaan menyatakan komitmen untuk menghindari pembelian bahan baku ikan kakap dan kerapu yang belum dewasa di laut Indonesia.

“Kami mengapresiasi kerja sama ini dan berharap kemitraan TNC dengan sektor swasta akan semakin bertambah dan semakin kuat. Diharapkan pula dapat meningkatkan transparansi pada rantai pasok perikanan dan memposisikan Indonesia sebagai sumber ikan yang dapat ditelusuri dan berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat membuka pasar premium dari seafood yang berkualitas,” kata Country Director TNC Indonesia Rizal Algamar, dalam keterangan persnya, Sabtu (04/05/2019).

Sebelumnya, lanjut dia, terdapat delapan perusahaan lain yang telah menandatangani kerja sama FIP dalam beberapa kesempatan berbeda. Lima di antaranya menandatangani FIP pada acara Seafood Expo North America di Boston, Amerika Serikat, pada bulan Maret lalu.

Rizal menjelaskan, dengan bertambahnya perusahaan swasta yang bekerja sama dalam program FIP, menunjukkan dukungan nyata dari pihak swasta sebagai pelaku usaha perikanan dalam mendukung keberlanjutan perikanan kakap dan kerapu Indonesia.

“Khususnya yang hidup di laut dalam, yaitu lebih dari kedalaman 50 meter,” ujarnya.

Keterlibatan pihak swasta sebagai pelaku usaha perikanan, menurutnya, merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia.

TNC sebagai organisasi konservasi, telah memulai program konservasi perikanan sejak 2011. Bekerja sama dengan komunitas lokal, nelayan, perusahaan perikanan, mendukung upaya Kementerian KKP untuk mengevaluasi kondisi stok ikan, serta rantai pasok perikanan kakap dan kerapu laut dalam di Indonesia.

Rizal menambahkan, program ini telah menghasilkan tinjauan menyeluruh terhadap status usaha perikanan kakap dan kerapu laut dalam yang kompleks tapi bernilai jual tinggi.

Kebanyakan dari hasil ikan jenis ini diekspor dalam bentuk potongan (fillet) atau utuh (whole fish) ke Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara di Asia. Secara keseluruhan, sekitar 230 perusahaan di Indonesia terlibat dalam perdagangan dan pengolahan hasil perikanan tersebut.

Rizal menerangkan, TNC dengan bantuan para nelayan di seluruh Indonesia serta berkolaborasi dengan Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) Kementerian KKP, mempelajari perikanan ini secara lebih detil. Menggali pengetahuan tentang status stok, area penangkapan, komposisi hasil tangkapan, rantai pasok, pengolahan, dan perdagangan perikanan secara lebih terperinci.

“Dan tidak kalah penting, mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pelatihan kepada nelayan,” jelas Rizal.

Ia menegaskan, dukungan penuh perusahaan-perusahaan pengolahan ikan serta para nelayan di seluruh Nusantara sebagai pelaku usaha perikanan di dalam program FIP skala nasional akan memperkuat pengelolaan perikanan kakap kerapu laut-dalam Indonesia untuk mencapai standar sertifikasi Marine Stewardship Council (MSC).

Oleh karena itu, ada dua komitmen utama dari pihak swasta yang diperlukan untuk bergabung dalam inisiatif Program FIP ini.

Pertama, para perusahaan berkomitmen mengutamakan transparansi pengadaan bahan baku. Kedua, berkomitmen menghindari pengadaan ikan yang belum dewasa.

Komitmen ini diperlukan untuk memastikan agar lebih banyak ikan yang dapat mencapai tahap dewasa sehingga meningkatkan hasil reproduksi dari populasi ikan-ikan tersebut.

Sejalan dengan harapan TNC, Direktur PT Kharisma Bintang Terang Aris Guntoro dan General Manager PT Graha Insan Sejahtera Cerry menyampaikan, keikutsertaan pihak swasta dalam FIP ini bertujuan untuk mendorong keberlanjutan usaha perikanan nasional yang merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir Indonesia.

Lebih lanjut, keduanya berharap agar semakin banyak perusahaan yang bisa bergabung dalam FIP, sehingga upaya menjaga kelestarian stok ikan nasional, terutama kakap dan kerapu laut dalam, bisa berjalan lebih efektif.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan