Breaking News

Lepaskan Pendeta dan Warga Korban Penangkapan Sewenang-Wenang di Batanghari

Berantas Kejahatan Karhutla Wajib, Tapi Polisi Jangan Asal Main Hakim Sendiri Dong

Berantas Kejahatan Karhutla Wajib, Tapi Polisi Jangan Asal Main Hakim Sendiri Dong. Lepaskan Pendeta dan Warga Korban Penangkapan Sewenang-Wenang di Batanghari. Berantas Kejahatan Karhutla Wajib, Tapi Polisi Jangan Asal Main Hakim Sendiri Dong. Lepaskan Pendeta dan Warga Korban Penangkapan Sewenang-Wenang di Batanghari.

Para pelaku kejahatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) memang wajib ditindaktegas. Namun, aparat kepolisian jangan main hakim sendiri terhadap warga.

Puluhan warga, yang sebagian besar bekerja sebagai petani ditangkapi oleh Polisi dari Polres Batanghari, Jambi. Salah seorang yang ditangkap adalah pendeta. Namanya Pendeta Gideon Master Manurung.

Pendeta Gideon menampik tuduhan melakukan pembalakan liar dan melakukan karhutla. Dirinya dan warga di permukiman, tidak melakukan kejahatan yang dipaksakan dituduhkan itu.

Selain Pendeta Gideon Master Manurung, sejumlah warga lainnya yang bermukim di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi diangkut polisi pada Sabtu, 21 September 2019. Mereka langsung ditahan dan dijadikan tersangka.

Pada Kamis, 17 Oktober 2019, Tomson Purba, seorang advokat di Kota Jambi, mendatangi Polres Batanghari dan Kejaksaan Negeri Batanghari. Untuk bertemu dengan para korban penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat kepolisian itu.

Sebagai Pengacara Publik, Tomson Purba melihat sejumlah kejanggalan yang dialami Pendeta Gideon Master Manurung dan sejumlah warga dalam proses penangkapan, penahanan hingga tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada warga itu. Ada 19 orang yang ditetapkan dan ditahan oleh Polisi, termasuk Pendeta Gideon Master Manurung.

Dalam pertemuannya dengan Pendeta Gideon Master Manurung, Tomson Purba sempat mendokumentasikan keterangan dan kesaksian Sang Pendeta dalam bentuk video singkat.

Dalam video itu berdurasi 1 Menit 19 detik itu, Pendeta Gideon Master Manurung, menyampaikan bahwa dirinya dan warga langsung ditangkapi oleh Polisi, tanpa tahu apa kesalahan yang mereka lakukan.

Lewat video itu, Pendeta Gideon Master Manurung yang sudah berusia 65 tahun itu, meminta doa dan dukungan dari isterinya tercinta, yang dipanggilnya dengan Ompung Yemima.

“Ompung Yemima, doakanlah Bapak secepatnya pulang. Bapak pun sudah merindukan kalian termasuk Umat di Gereja Bukit Sion. Memang itulah keadaan kami, kami ditangkap kayak diculik. Bukannya kami ditangkap dilahan. Tetapi, saya sendiri di rumah. Saat saya menyiram sawit. Diajak Polisi saya ke ke satu warung, karena ramai orang di situ. Dengan alasan datang Kapolres mau memberikan arahan kepada masyarakat di Desa Kolam Betesda,” tutur Pendeta Gideon Master, dalam video yang diterima, Minggu (20/10/2019).

Di warung tempat mereka dikumpulkan Polisi itu, sempat terjadi tarik menarik dan warga menolak diangkut ke kantor Polisi.

“Tapi nyatanya, kami langsung dibawa. Dan banyak orang yang  mendukung agar tidak dibawa. Dan saat melerai, melarang kawan saya itu dibawa, saat itulah Bapak ikut ditangkap. Jadi, tak ada kedapatan barang bukti, bahwa kami bakar lahan. Hanya membuka lahan,”ujar Pendeta Gideon Master.

Dia juga berharap ada keadilan serta kebenaran, bagi warga dan dirinya yang ditangkap dengan semena-mena oleh aparat kepolisian.

“Doakan kami, agar secepatnya Bapak dapat keluar, dan bertemu kembali di dalam penyertaan dan perlindungan Tuhan,”ujarnya.

Pendeta dan Warga Dituduh Lakukan Permufakatan Jahat Melakukan Pembalakan

Aparat Kepolisian dari Polres Batanghari, Jambi telah menetapkan Pendeta Gideon Master Manurung sebagai tersangka atas Tindak Pidana orang perseorangan yang dengan sengaja melakukan permufakatan jahat untuk pembalakan liar dan atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah dan orang atau perorangan yang dengan sengaja melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin dari menteri di dalam kawasan hutan dan atau setiap orang dilarang membuka lahan dengan cara membakar.

Sebanyak 18 warga lainnya, juga ditangkap, ditahan dan dijadikan tersangka. Pasal yang dituduhkan kepada mereka sebagaimana diatur dalam Pasal 94 ayat 1 huruf b junto pasal 19 huruf c sub pasal 92 ayat 1 junto pasal 17 ayat 2 buruf b Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013, tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan sub pasal 108 junto pasal 69 ayat 1 huruf h Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Penangkapan kepada mereka terjadi pada hari Sabtu tanggal 21 September 2019, sekira pukul 16.00 WIB. Lokasi itu, menurut Surat Penetapan Tersangka dan Surat Penahanan yang dikeluarkan oleh Polisi adalah lahan konsesi PT REKI, Sungai Jerat, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Warga yang bermukim di sana, menamai tempat permukiman mereka itu dengan Desa Kolam Bestesda. Mereka kebanyakan pendatang dari luar provinsi, yang membeli lahan, untuk kemudian tinggal dan bermukim. Serta bertani untuk menghasilkan kebutuhan hidup mereka.

Polisi dalam surat penahanan menyebut, mereka ditahan untuk 20 hari terhitung 26 September sampai 15 Oktober 2019.

Pendeta Gideon Master Manurung Bin Johanes Manurung, kelahiran Porsea, 20 Oktober 1954. Alamat rumahnya di Jalan Karya Bakti Nomor 14, RT 002/RW010, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Bersama warga lainnya, berkas mereka telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Batanghari. Untuk selanjutnya akan mengikuti proses persidangan.

Gideon Master Manurung adalah seorang Pendeta atau seorang Gembala Jemaat  di Gereja Tuhan Di Indonesia (GTDI) Bukit Sion Duri Riau, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.

Menurut Lidya Manurung, purti ketiga Pendeta Gideon Master Manurung, orang tuanya itu ke Jambi untuk mengurus tanah yang dibeli dari seseorang bernama SK Nadeak. Pembelian dilakukan dengan cara dicicil. Belum lunas.

Selama ini, Pendeta Gideon Master Manurung, hanya bisa membersihkan rerumputan dan menanam sayur mayur, padi dan juga beberapa bibit kelapa sawit di sekitar pondok yang dibuatnya di lahan yang dibelinya itu.

“Bapak saya bukan penjahat. Bapak saya membeli sepetak lahan untuk nantinya di masa mendatang akan dibangun sekolah, panti asuhan dan juga panti jompo. Rencananya akan mendirikan yayasan di situ. Mereka menyebut tempat itu dengan Desa Kolam Betesda. Nanti kalau ada uang, akan dibangun. Bukan mau membakar hutan atau merampas tanah orang,”tutur Lidya Manurung.

Kini, Desa Kolam Betesda yang diklaim oleh PT REKI itu sebagai lahan konsesinya, telah dirubuhkan. Diratakan dengan tanah. Tanpa ada yang bisa menghalangi. Semua barang-barang milik warga di rumah-rumah itu rata dengan tanah. Tidak ada yang bisa diselematkan.

Menurut Lidya Manurung, para warga pun ketakutan. Banyak yang diincar akan ditangkapi lagi. Karena itu, mereka kocar-kacir. Ada yang lari ke hutan-hutan di sekitar untuk menyelamatkan diri. Ada juga yang pulang ke daerah asal masing-masing.

Kini, Pendeta Gideon Master Manurung bersama warga yang ditangkap, masih menunggu untuk disidangkan. Penahanan mereka telah diperpanjang di Kejaksaan Negeri Batanghari, sejak 16 Oktober 2019 hingga 24 November 2019. Di Jalan Jenderal Sudirman, Muara Bulian, Jambi.

“Tak mengerti kami proses hukum. Tak ada yang membantu kami dalam proses hukum. Kami, Bapak saya, dan warga itu, butuh keadilan. Bebaskan mereka. Tolong lepaskan mereka. Mereka bukan penjahat,”pinta Lidya Manurung.

Tangkap Warga Yang Diduga Pelaku Karhutla, Polisi Tetapkan 18 Tersangka

Polisi telah menetapkan 18 tersangka pembakaran hutan di Areal Konsesi PT REKI, di Kabupaten Batanghari.

Para tersangka yakni, Saringok Pasaribu, Gideon Master Manurung, Marjohan Butar Butar, Burhanudin Nainggolan, Ruben Nainggolan, Seri Susanto Tumanggor, Gilbert Pandiangan, Donalianto Nainggolan, Jimar Tampubolon, Erwin Nainggolan, Wilker Situmorang, Parsaoran Sitinjak, Binter Manullang, Putra Sihotang, Ramli Situmorang, Sahat Bul Nainggolan, RJ Sampurna Marbun dan Andre Marbun.

Awalnya, pada Sabtu, (21/9/2019) lalu, ada 22 orang yang diamankan dari areal konsesi PT REKI di kawasan Desa Bungku, Kecamatan Bajubang.

Kapolres Batanghari, AKBP Mohamad Santoso mengatakan, pihaknya sudah menetapkan sebanyak 18 tersangka. Masih  terus dikembangkan.

Menurut Kapolres, penangkapan para tersangka berdasarkan laporan bahwa ada aktivitas perambahan dan pembakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Dan, pada Sabtu 21 September 2019, pihaknya menuju lokasi. Di sana didapati kelompok Nadeak CS.

“Di sana sudah seperti perkampungan. Ada sekitar 40 hingga 50 pondok yang didirikan di sana. Ada anak dan istri mereka juga,” ujar Santoso.

Menurut Santoso, saat di lokasi pihaknya juga mendapati titik api yang masih menyala dan batang kayu yang sudah menjadi arang.

“Di sana kita sampaikan kepada mereka bahwa kegiatan pembakaran yang mereka lakukan itu mengganggu dan kita amankan kelompok yang ada saat itu juga berikut alat bukti,” ujarnya.

PT REKI Tak Tahu Ada Jual Beli Lahan

Dugaan jual beli lahan perusahaan di areal konsensi PT REKI ditanggapi Manager PT REKI, Adam, saat berada di Mapolres Batanghari.

Dugaan jual beli lahan perusahaan yang terjadi di Areal Konsesi PT REKI yang menjerat belasan tersangka dari luar Provinsi Jambi diakui Adam. Pihaknya tak bisa memastikan bahwa para tersangka tersebut ada kaitannya dengan jual beli lahan perusahaan dari REKI.

“Kami tidak punya bukti kuat kalau itu adalah jual beli lahan. Yang jelas, ada yang menduduki dan membuka lahan perusahaan sampai awal tahun 2019 lalu,” ujar Adam.

Indikasi jual beli lahan tersebut, kata Adam, sudah ditemukan sejak 2016 silam. Saat itu, katanya lagi, sempat didapati banyak bukti kuitansi jual beli lahan milik perusahaan di sekitar lokasi.

“Ada banyak kuitansi saat itu yang beredar. Memang waktu itu prosesnya belum berakhir. Sebenarnya sudah pernah kami laporkan ke Polda Jambi pada 2017 lalu,” ujarnya.

Menurut Adam, sebelumnya PT REKI sudah memberikan peringatan secara baik kepada kelompok Nadeak Cs untuk keluar lokasi, namun tidak ditanggapi.

“Dan, upaya seperti ini sejak 2015 sudah kita lakukan kepada kelompok di sana agar bermitra dengan perusahaan. Tapi, upaya itu ditolak oleh mayoritas dari kelompok ini,” bilang Adam.

Dia menambahkan, pihaknya belum mempunyai angka persis terkait lahan perusahaan yang telah dirambah kelompok tersebut.

“Kami belum punya angka persis luasan lahan perusahaan yang telah dirambah mereka. Namun, dari zona inti yang terbakar ini ada sekitar 300-an hektar,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*