Breaking News

Lembaga-Lembaga Negara & Pemerintahan Disarankan Awasi Perilaku Medsos Pegawainya

Siapapun Presidennya, NKRI & Pancasila Jangan Diusik

Siapapun Presidennya, NKRI & Pancasila Jangan Diusik, Lembaga-Lembaga Negara & Pemerintahan Disarankan Awasi Perilaku Medsos Pegawainya. Siapapun Presidennya, NKRI & Pancasila Jangan Diusik, Lembaga-Lembaga Negara & Pemerintahan Disarankan Awasi Perilaku Medsos Pegawainya.

Lembaga-lembaga Negara dan pemerintahan disarankan mengawasi status-status dan perilaku aparaturnya di media social. Bukan hanya pegawai, status dan perilaku media social pimpinannya pun perlu dilakukan pengawasan.

Hal itu untuk memastikan bahwa lembaga-lembaga Negara dan pemerintahan diisi oleh orang-orang yang loyal kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).





 

Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing menyampaikan, dirinya mendapat kiriman pidato dari youtube, yang menunjukkan perlunya upaya memperjelas ideology dan perilaku para aparatur pemerintahan dan aparatur Negara mengenai Pancasila dan NKRI.

Kiriman yang dapat dilihat di link https://youtu.be/RSts0hnbZMM dan https://youtu.be/59xuQafcFVwc itu, menurut Emrus Sihombing, sangat bagus dan efektif untuk mengawasi pengelolaan lembaga dan institusi yang sedang terjadi.

“Itu sangat bagus. Dan makna mendalam yang terdapat dalam balutan narasi pidato tersebut, harus menjadi program perioritas semua menteri periode 2019-2024, siapapun presidennya,  yang merujuk pada keputusan MK beberapa minggu ke depan,” tutur Emrus Sihombing, Senin (17/06/2019).





 

Untuk dapat merealisaikan pandangan dan makna yang tersirat  pada pidato itu, lanjut pria yang merupakan Direktur Eksekutif EmrusCorner ini, presiden harus membuatnya menjadi salah satu landasan utama menentukan susunan kabinet periode 2019-20124.

“Untuk itu,  para menteri periode lima tahun ke depan bekerja dengan lebih dahulu memetakan perilaku eksklusif keseharian semua pegawai di Kementerian dan BUMN. Salah satunya dengan mengobservasi simbol-simbol perilaku keseharian yang digunakan setiap pegawai dan tak kalah pentingnya analisis isi muatan sosial media yang dimiliki para pegawai,” tuturnya.

Melalui pendekatan Ilmu Komunikasi, lanjut Emrus, Penyampaian isi pidato ini, tidak berada di ruang hampa. Setidaknya, boleh jadi, ada semacam gejala yang dilihat di kementeriannya dan kerisauan di benak si penyampai pidato yang menurutnya sangat urgen disampaikan,  setidaknya ke semua jajarannya.





 

“Semakin produktif lagi ada yang memasukkan ke link Youtube, sehingga bisa diakses oleh semua pihak. Bila semakin didalami, narasi pidato tersebut dapat menjadi rujukan bersama di semua kelompok sosial, utamanya di instansi pemerintah dan tak terkecuali di BUMN,” ujarnya.

Emrus berpendapat,  isinya sangat-sangat bagus. Karena itu, baik sekali disimak bersama sembari sungguh-sungguh diresapi makna mendalam di balik narasi.





 

“Menurut saya,  pidato ini sarat makna sangat mendalam.  Sambutan ini sangat bisa menjadi landasan bagi kita semua untuk introspeksi terhadap yang sudah berlalu untuk menata masa depan yang sesuai dengan cita-cita kita bersama, berbangsa dan bernegara. Salah satunya,  NKRI rumah keberagaman,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*